Misteri 'kerasukan massal' di sebuah sekolah di Malaysia

Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC
- Penulis, Heather Chen
- Peranan, BBC News, Kelantan, Malaysia
- Waktu membaca: 12 menit

Pada Jumat pagi yang tenang di bulan Juli lalu, kekacauan terjadi di sebuah sekolah di timur laut Malaysia. Siti Nurannisaa, seorang siswa perempuan berusia 17 tahun, berada di pusat kekacauan itu.
Berikut ini pengakuannya tentang apa yang terjadi.

Lonceng sekolah berdering.
Saya sedang duduk di meja saya, mengantuk, ketika merasakan tepukan keras dan tajam di bahu saya.
Saya berbalik untuk melihat siapa yang melakukannya dan tiba-tiba ruangan menjadi gelap.
Ketakutan meliputi saya. Saya merasakan sakit yang tajam di punggung dan kepala saya mulai berputar. Saya jatuh ke lantai.
Tiba-tiba saya melihat 'dunia lain'. Adegan-adegan berdarah dan kekerasan.
Hal paling mengerikan yang saya lihat ialah sesosok wajah yang begitu jahat.
Itu menghantui saya, saya tidak bisa lari. Saya membuka mulut dan berusaha berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar.
Saya pun pingsan.

Aksi Siti yang tiba-tiba memicu reaksi berantai kuat di seluruh sekolah. Beberapa menit kemudian siswa di ruang kelas lain mulai menjerit, tangisan panik mereka menggema di aula.
Seorang gadis lain pingsan setelah mengaku melihat "sosok gelap" yang sama.


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Pintu-pintu kelas ditutup rapat di sekolah menengah negeri Ketereh di Kelantan ketika para guru dan siswa yang panik membarikade diri mereka di dalam. Para ustad dipanggil untuk melakukan sesi doa massal.
Ketika hari itu berakhir, 39 orang dianggap telah terkena "kesurupan massal".

Kerasukan massal, atau histeria massal, dikenal juga sebagai penyakit psikogenik massal, adalah penyebaran cepat gejala fisik seperti hiperventilasi dan kejang-kejang di antara sekelompok besar orang — tanpa penyebab organik yang masuk akal.
"Ini adalah respons stres kolektif yang memicu stimulasi berlebihan pada sistem saraf," kata sosiolog medis Amerika dan penulis Robert Bartholomew.
"Anggap saja sebagai masalah di perangkat lunak."
Mekanisme di balik histeria massa seringkali kurang dipahami dan tidak terdaftar dalam DSM — manual untuk gangguan jiwa. Tapi psikiater seperti Dr Simon Wessely dari King's College Hospital di London melihatnya sebagai "perilaku kolektif".
"Gejala yang dialami nyata — pingsan, jantung berdebar, sakit kepala, mual, gemetar, dan bahkan sawan," katanya.
"Ini sering dikaitkan dengan kondisi medis tetapi tidak ada penjelasan biomedis konvensional yang dapat ditemukan.
"Penularan," ia menambahkan, "sebagian besar disebabkan oleh faktor psikologis dan sosial".


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Peristiwa histeria massal pernah terjadi di berbagai tempat di dunia, dengan catatan yang dimulai sejak Abad Pertengahan.
Insiden di Malaysia sangat lazim di kalangan buruh pabrik selama tahun 1960-an. Hari ini, histeria massal sebagian besar mempengaruhi anak-anak di sekolah dan asrama.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Robert Bartholomew menghabiskan berpuluh-puluh tahun meneliti fenomena seperti di Malaysia. Ia menyebut negara yang terletak di Asia Tenggara itu "ibu kota histeria massa dunia".
"Malaysia adalah negara yang sangat religius dan spiritual tempat banyak orang, terutama yang berasal dari pedesaan dan konservatif, percaya pada cerita rakyat tradisional dan kekuatan supranatural."
Namun masalah histeria tetap menjadi isu sensitif. Di Malaysia, banyak kasus melibatkan gadis remaja dari mayoritas etnis Muslim Melayu — lebih banyak daripada kelompok lain.
"Tidak dapat disangkal bahwa histeria massal adalah fenomena yang banyak dialami perempuan," kata Bartholomew.
"Ini satu-satunya yang konstan dalam literatur [akademik]."


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Dikelililingi sawah padi yang hijau, Desa Padang Lembek terletak di pinggir ibu kota Kelantan, Kota Bharu.
Sebuah desa kecil dimana penduduknya mengenal satu sama lain, layaknya tempat dimana kebanyakan orang Malaysia mengenal masyarakatnya di masa lampau.
Ada warung makan yang dikelola oleh sebuah keluarga, salon kecantikan, sebuah masjid dan sekolah dengan lingkungan yang baik.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Siti dan keluarganya tinggal di sebuah rumah sederhana berlantai satu, mudah dibedakan dengan rumah yang lain karena atapnya yang berwarna biru dan dindingnya yang berwarna hijau.
Sebuah motor lama, yang dia pakai bersama teman baik yang tinggal tak jauh dari rumahnya, Rusydah Roslan, terparkir di luar rumah.
"Kami mengendarainya pada pagi hari ketika saya dimasuki oleh 'arwah'," tutur Siti.


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Layaknya remaja kebanyakan, stres mempengaruhi Siti. Dia mengaku sangat merasa stres ketika tahun terakhirnya di sekolah pada 2018, ketika semua ujian penting menantinya.
"Saya menyiapkannya selama berminggu-minggu, berusaha untuk mengingat catatan namun ada sesuatu yang salah," ujarnya. "Itu rasanya seperti tidak ada apa-apa di kepala saya.
Insiden yang terjadi di sekolah pada Juli tahun lalu mengakibatkan Siti tidak bisa tidur dan makan dengan layak. Dia membutuhkan waktu sebulan beristiratah hingga akhirnya dia kembali seperti semula.

Wabah dari histeria massa biasanya dimulai dengan apa yang disebut dengan "kasus indeks" oleh para ahli. Itu adalah ketika orang pertama mulai terdampak.
Dalam kisah ini, orang itu adalah Siti.
"Itu tidak terjadi semalaman," ujar Robert Bartholomew.
"Itu dimulai dengan satu anak dan dengan cepat menular ke yang lain karena dampak dari lingkungan yang sangat penuh tekanan."
Dan yang diperlukan hanyalah lonjakan besar dalam kecemasan dalam situasi kelompok, seperti melihat teman sekelasnya pingsan atau memiliki kecocokan - untuk memicu reaksi pada orang lain.


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Rusydiah Roslan tak akan lupa ketika dia mendapati sahabatnya dalam kondisi itu.
"Siti teriak tak terkendali," kata dia.
"Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan. Kami bahkan takut untuk menyentuhnya."
Kedua gadis itu dekat sejak kecil, namun peristiwa yang terjadi tahun lalu untuk membuat ikatan antara keduanay kian kuat.
"Itu membantu kami untuk membicarakan apa yang terjadi," ungkap Rusydah.
"Itu membantu kami untuk melanjutkan hidup."

Dari luar, SMK Ketereh tampak seperti sekolah menengah atas lainnya di Malaysia. Pohon raksasa tumbuh di halaman dan dindingnya bercat abu-abu dan kuning cerah.
Makcik (bibi) Zan mengelola warung di seberang jalan, berjualan makanan lokal. Kala itu, dia tengah menyiapkan makanan, ketika dia mendengar Siti berteriak.
"Tangisannya memekakkan telinga," ujar pedagang ini sambil menghidangkan makanan berupa ikan panggang, kari dan nasi.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Dia melihat sedikitnya sembilan anak-anak perempuan dibawa dari kelas mereka, menendang-nendang dan berteriak. Dia mengenal beberapa mereka yang sering jajan di warungnya.
"Itu adalah pemandangan yang memilukan," ungkapnya.
Dia kemudian melihat seorang dukun memasuki ruang bersama pembantunya. "Mereka berada di dalam selama berjam-jam," ujarnya.
"Saya kasihan dengan anak-anak atas apa yang mereka lihat saat itu."


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Penjagaan keamanan di SMK Ketereh diperketat setelah insiden Juli 2018 itu.
"Untuk menghindari wabah kembali terjadi, kami memperbaiki program keamanan dan perubahan staf," ujar staf senior yang tidak berkenan disebut namanya kepada BBC.
Sesi doa dan psikologi harian juga telah diperkenalkan, katanya. "Keselamatan adalah yang utama, tetapi kami juga tahu pentingnya perawatan bagi siswa kami."
Tidak jelas apa yang melibatkan sesi tersebut atau jika mereka dirancang oleh para profesional kesehatan mental. Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Para ahli seperti Robert Bartholomew sangat menganjurkan bahwa siswa Malaysia dididik tentang fenomena tersebut, mengingat prevalensinya di negara ini.
"Mereka harus diajari mengapa histeria massal terjadi dan bagaimana penyebarannya," katanya.
"Penting juga mereka belajar bagaimana mengatasi stres dan kecemasan."
Pejabat kementerian pendidikan Malaysia belum menanggapi permintaan tanggapan terkait hal ini.


SMK Ketereh adalah salah satu dari 68 sekolah menengah di Kelantan. Namun, itu bukan satu-satunya yang menjadi saksi histeria massa.
Pada awal 2016, histeria massa terjadi di beberapa sekolah di negara bagian ini.
"Pejabat tidak bisa mengatasi wabah yang banyak ini dan menutup semua sekolah," ujar Firdaus Hassan, seorang wartawan lokal.
Dia dan juru kamera, Chia Chee Lin, teringat suasana yang terjadi pada bulan April itu.
"Itu adalah musim histeria massal dan kasus-kasus terjadi tanpa henti, menyebar dari satu sekolah ke sekolah lain," kata Chia.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan
Para siswa dan guru digambarkan sedang "kesurupan" setelah melihat " sosok bayangan gelap", mengintip dari bangungan sekolah.
Sekitar 100 orang terdampak.


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Siti Ain, salah satu pelajar di SMK Pengkalan Chepa 2, menyebut dia akan mengingat sekolah itu sebagai "sekolah yang paling angker se-Malaysia".
"Ketakutan hanya terjadi selama berjam-jam, namun dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga selamanya untuk kembali menjadi normal," ujar gadis yang kini berusia 18 tahun itu.
Dia menunjukkan salah satu titik area di sebelah lapangan basket.
"Di sinilah itu bermula," tuturnya sambil menunjuk batang pohon besar yang telah dipotong.
"Teman sekolah saya mengatakan mereka melihat perempuan tua berdiri di antara pepohonan.
"Saya tidak bisa melihat apa yang dia lihat, namun reaksi mereka benar- benar nyata."


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Ketertarikan Malaysia terhadap hantu telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan mengakar dalam tradisi perdukunan dan mitologi rakyat Asia Tenggara.
Anak-anak tumbuh mendengar kisah tentang hantu bayi yang disebut tiyul - dipanggil oleh dukun menggunakan sihir hitam - dan hantu vampir yang menakutkan lainnya seperti pontianak dan penanggalan, roh perempuan penuh dendam.
Pepohonan dan pemakaman menjadi tempat dimana
Pohon dan pemakaman adalah tempat yang biasa untuk kisah menakutkan ini. Lokasi-lokasi ini memicu ketakutan yang menyulut kepercayaan takhyul.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Sulit untuk menentukan apa yang sebenarnya terjadi hari itu di Pengkalan Chapa 2 tetapi para pejabat tidak membuang waktu dalam menangani apa yang mereka yakini sebagai sumber masalah.
"Kami menyaksikan dari ruang kelas kami ketika para pekerja datang dengan gergaji listrik untuk menebang pohon," kata Siti Ain.
"Pohon-pohon tua itu indah dan sedih melihat mereka pergi, tetapi aku mengerti mengapa."
Seperti banyak siswa di sini, dia melihat apa yang terjadi hari itu bukan sebagai wabah histeria massal tetapi sebagai peristiwa supernatural.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Tapi ini bukan fenomena yang terbatas pada sekolah-sekolah Islam di daerah yang sangat religius.
Dr Azly Rahman, seorang antropolog Malaysia yang berbasis di Amerika Serikat menggambarkan sebuah episode histeria massal pada tahun 1976 di sebuah sekolah asrama elit yang ia hadiri di kota tetangga Kuantan.
"Semua kacau" selama kompetisi menyanyi kampus ketika seorang siswa perempuan mengaku telah melihat "seorang biksu Buddha yang tersenyum" di atas asrama terdekat.
"Dia menjerit dengan sangat mengerikan," kenangnya.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Dukun dibawa untuk melakukan pengusiran setan pada 30 gadis yang terkena dampak.
"Peran mereka adalah untuk menengahi antara yang hidup dan yang mati. Tetapi penting bagi masyarakat saat ini untuk mencari penjelasan logis di balik wabah seperti itu," kata Dr Rahman.

Siti Nurannisaa dan keluarganya diberi bahasa ilmiah dan medis histeria massal untuk memahami peristiwa setahun yang lalu.
"Sangat menyakitkan bagi orangtua mana pun untuk melihat anak mereka menderita seperti anak kita," ujar ayah Siti, Azam Yaacob, yang juga mantan anggota militer Malaysia.
Dia menegaskan bahwa "tidak ada yang salah" dengan Siti secara psikologis.
Setelah kejadian itu mereka berpaling ke Zaki Ya, tabib spiritual dengan pengalaman 20 tahun.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Di pusat desa Ketereh, dia menyapa kami dengan senyum hangat. "Apa khabar, bagaimana kabar Anda?"
Dia mematuhi ajaran Alquran, kitab suci Islam, dan juga percaya pada kekuatan jin - roh di Timur Tengah dan kosmologi Islam yang "muncul dalam berbagai sosok dan bentuk".
"Kami berbagi dunia kami dengan makhluk tak terlihat ini," kata Zaki Ya. "Mereka baik atau buruk dan bisa dikalahkan dengan iman."


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Kitab suci Islam menghiasi dinding hijau terang di pusat spiritual itu. Botol air suci ditumpuk tinggi di dekat pintu masuknya.
Di sudut dekat jendela, koleksi benda-benda misterius dikumpulkan di atas meja - pisau berkarat, sisir, bola mata dan bahkan kuda laut kering.
"Ini barang-barang terkutuk," Zaki Ya memperingatkan.
"Tolong jangan menyentuh apa pun."


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Zaki ya bertemu dengan Siti Nurannisaa dan keluarganya setelah histeria masal di SMK Ketereh.
"Saya membimbing Siti dan dia sudah menjadi lebih baik berkat bantuan saya," ujarnya dengan bangga.
Dia menunjukkan kepada saya sebuah video yang menampilkan seorang gadis yang sedang dia "rawat".
Dia tampak meronta-ronta dengan liar di lantai dan berteriak sebelum akhirnya dikendalikan oleh dua pria.
Beberapa menit kemudian, Zaki Ya memasuki ruangan dan mendekati gadis yang sedang kesurupan itu. Dia memegang kepalanya dan menggumamkan ayat suci Alquran dan dia kemudian tampak tenang.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

"Perempuan lebih lembut dan secara fisik lebih lemah," ujarnya kepada kami.
"Itu membuat mereka lebih rentan terhadap kesurupan spiritual."
Dia mengaku memahami bahwa kesehatan mental memainkan peran dalam banyak kasus yang dia lihat, tetapi berkukuh tentang adanya kekuatan Jin.
"Sains itu penting tetapi tidak bisa sepenuhnya menjelaskan hal supernatural," katanya.
"Orang yang tidak percaya tidak akan mengerti serangan ini kecuali kalau itu terjadi pada mereka."


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Pendekatan yang lebih kontroversial datang dari tim akademisi Islam di Pahang, negara bagian terbesar di Semenanjung Malaysia.
Dengan harga yang lumayan, 8.750 ringgit Malaysia atau setara Rp28 juta, "paket anti-histeria" yang mereka tawarkan terdiri dari item termasuk asam format, inhalans amonia, semprotan merica, dan "penjepit" bambu.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

"Menurut Alquran, roh jahat tidak akan sanggup mentolerir hal ini," ujar Dr Mahyuddin Ismail, yang mengembangkan peralatan ini dengan tujuan untuk "mengkombinasikan ilmu dan supernatural".
"Peralatan kami sudah digunakan di dua sekolah dan sudah mengatasai lebih dari 100 kasus," katanya.
Namun tidak ada bukti saintifik yang dapat mendukung klaimnya.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Paket itu mendapat kecaman luas saat dirilis pada 2016. Mantan menteri Khairy Jamaluddin menyebutnya "tanda masyarakat terbelakang".
"Ini tak masuk akal, takhayul yang absurd. Kami ingin orang Malaysia menjadi ilmiah dan inovatif, tidak tetap bercokol dalam kepercayaan supernatural."
Tetapi psikolog klinis, seperti Irma Ismail dari Universiti Putra Malaysia, tidak mengabaikan kepercayaan seperti itu dalam kasus histeria massal.
"Budaya Malaysia memiliki fenomena sendiri," katanya.
"Pendekatan yang lebih realistis adalah mengintegrasikan keyakinan spiritual dengan perawatan kesehatan mental yang memadai."


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Jika Malaysia adalah "ibukota histeria massal dunia", Kelantan di pantai timur laut adalah tanah nol.
"Bukan kebetulan bahwa Kelantan, yang paling konservatif dari semua negara bagian Malaysia, juga yang paling rentan terhadap wabah," kata Robert Bartholomew.
Dikenal sebagai jantung Islam negara mayoritas Muslim, Kelantan adalah satu-satunya negara yang diperintah oleh oposisi konservatif Partai Islam Malaysia (PAS).
Tidak seperti bagian lain negara ini, pengaturan waktu di Kelantan mengikuti kalender Islam - dengan minggu kerja dimulai pada hari Minggu dan berakhir pada hari Kamis untuk membebaskan hari Jumat untuk sholat.
"Ini adalah sisi yang berbeda dari Malaysia," kata Ruhaidah Ramli, seorang penjual berusia 82 tahun yang sigap di pasar lokal.
"Kehidupan di sini sederhana. Tidak sibuk atau stres seperti di [ibukota] Kuala Lumpur."


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Lantas, apakah agama berhubungan dengan kepercayaan supernatural?
Akademisi Afiq Noor mengatakan bahwa penerapan dari aturan syariah yang lebih ketat di sekolah di negara seperti Kelantan, berhubungan dengan pelonjakan kerasukan.
"Gadis muslim Malaysia sekolah dibawah disiplin keagamaan yang ketat," katanya.
"Mereka mendapat peraturan tentang pakaian yang ketat dan tidak bisa mendengarkan musik yang tidak islami."
Teorinya adalah bahwa lingkungan yang terbatas dapat menciptakan lebih banyak kecemasan.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Wabah serupa juga telah dilaporkan di biara dan biara Katolik di seluruh Meksiko, Italia dan Prancis, di sekolah-sekolah di Kosovo dan bahkan di antara pemandu sorak di kota pedesaan North Carolina di Amerika Serikat.
Setiap kasus unik - konteks budaya berbeda dan karenanya bentuknya bervariasi. Tetapi pada akhirnya tetap menjadi fenomena yang sama dan para peneliti berpendapat bahwa dampak budaya konservatif yang ketat pada mereka yang terkena histeria massa jelas.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Bagi psikolog klinis seperti Steven Diamond, "gejala menyakitkan, menakutkan dan memalukan" yang sering dikaitkan dengan histeria massa bisa menjadi "indikasi kebutuhan frustrasi untuk perhatian".
"Mungkinkah gejalanya yang luar biasa mengatakan sesuatu tentang bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya tetapi tidak mampu atau tidak mau membiarkan diri mereka secara sadar mengakui, merasakan, atau berbicara secara verbal?" tulisnya dalam artikel yang dimuat Psychology Today pada 2002.

2019 adalah tahun yang tenang bagi Siti Nurannisaa.
"Saya baik-baik saja. Sudah tenang untuk saya," katanya.
"Saya sudah tidak melihat hal buruk selama berbulan-bulan sekarang."
Dia kehilangan kontak dengan banyak temannya setelah lulus dari SMK Ketereh, tetapi ini tidak mengganggunya - dia mengatakan kepada saya dia selalu memelihara lingkaran kecil teman-teman.
Dia sekarang mengambil istirahat dari studi sebelum melanjutkan ke universitas.


Sumber gambar, Joshua Paul for the BBC

Pada hari kami bertemu, dia menunjukkan kepada saya mikrofon hitam mengkilap.
"Karaoke selalu menjadi favorit saya di masa lalu," katanya. Lagu-lagu pop oleh Katy Perry dan diva Malaysia Siti Nurhaliza adalah favoritnya.


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Bernyanyi terbukti menjadi pereda stres yang hebat bagi gadis muda itu selama cobaannya. Itu membantunya mendapatkan kepercayaan diri kembali setelah insiden yang sangat traumatis itu.
"Stres membuat tubuh saya lemah tetapi saya telah belajar bagaimana cara mengelolanya," katanya.
"Tujuan saya adalah menjadi normal dan bahagia."


Sumber gambar, JOSHUA PAUL FOR THE BBC

Saya pun bertanya apa yang dia inginkan di masa depan.
"Seorang polisi perempuan," katanya. "Mereka berani dan tidak takut pada apa pun."

Tulisan dan terjemahan tambahan oleh Jules Rahman Ong.










