You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Lima hal yang dapat diajarkan simpanse kepada manusia tentang politik
Terdapat sejumlah persamaan yang menakjubkan antara dunia politik kita dengan primata lain.
Profesor James Tilley menemukan apa saja yang dapat kita pelajari terkait dengan politik dari perebutan kekuasaan di dalam kelompok simpanse.
1. Tetap akrab dengan teman, tetapi lebih bersahabat lagi dengan para musuh
Politik simpanse adalah persekutuan yang terus berubah. Agar menjadi pemimpin, Anda harus siap meninggalkan teman dan bersekutu dengan para musuh.
Sebagian besar persekutuan adalah karena asas saling menguntungkan, bukan karena persahabatan.
2. Ketika membina persekutuan, pilih pihak yang lemah bukannya yang kuat
Simpanse cenderung membentuk "persekutuan kemenangan minimal".
Yang artinya adalah dua simpanse lemah akan mengerubuti satu ekor yang kuat, bukannya satu simpanse lemah bersekutu dengan yang kuat.
Ini masuk akal jika kita melihatnya dengan cara, jika saya bersekutu dengan yang lemah, pembagian keuntungan akan lebih menguntungkan saya dibandingkan berteman dengan yang kuat.
3. Baik jika ditakuti, tetapi lebih baik disukai
Para pemimpin simpanse adalah yang paling ditakuti dan berkuasa dengan menggunakan kekuatan, tetapi pemimpin seperti ini tidak akan bertahan lama.
Untuk menjadi pemimpin yang sukses, Anda perlu mengembangkan dukungan untuk Anda dan persekutuan Anda di antara masyarakat umum, dan paduan kelembutan dan ketegasan adalah kuncinya.
4. Baik jika disukai, tetapi lebih baik lagi jika dapat memberikan sesuatu
Pemimpin yang bertahan paling lama adalah yang dapat menghimpun sumber daya dan menggunakannya untuk mendapatkan dukungan.
Pada program radio BBC In Analysis: Primate Politics Anda dapat mendengar tentang pemimpin yang berkuasa selama 12 tahun dengan cara membagi-bagikan daging hasil buruan.
5. Ancaman dari luar dapat meningkatkan dukungan (jika ancaman tersebut memang nyata…)
Ketika menghadapi ancaman dari luar, kelompok primata bergabung dan melupakan perseteruan di dalam.
Yang menarik adalah tidak terdapat cukup bukti apakah perang perpecahan secara sengaja dapat dilakukan di antara manusia, kecuali terdapat ancaman besar yang tidak diperkirakan sebelumnya, seperti serangan 11 September di AS.