Irak masih menghadapi berbagai masalah

Apakah invasi pasukan internasional pimpinan Amerika Serikat ke Irak bisa dikatakan berhasil?
Jawabannya saya kira sudah berhasil, dalam pengertian impian Amerika Serikat untuk mewujudkan Irak yang demokratis karena sudah ada pemilihan umum dan juga ada pergantian kekuasaan secara damai.
Cuma pada waktu yang sama, sampai sekarang Irak belum mengenal yang namanya stabilitas. Jadi ada pertarungan kekuasaan antara faksi-faksi politik di Irak, kemudian korupsi, dan salah satu faksi mengunakan undang-undang untuk mencapai tujuan politiknya.
Sekarang pertarungan memang sedang terjadi. Beberapa pekan ini kan kita tahu Irak sedang mengalami krisis politik dan itu akibat persoalan internal yang sampai sekarang masih belum selesai.
Irak menghadapi persoalan dalam semua lini, seperti keamanan, politik, dan ekonomi juga. Semuanya masih belum selesai. Kemudian hubungan antara Syiah-Sunni, antara Arab-Kurdi. Ini semua ibaratnya semacam bom waktu.
Misalnya, antara pemerintah pusat di Baghdad dengan Kurdistan. Sekarang masih ada masalah kota Kirkuk yang diperebutkan karena saling mengklaim. Itu merupakan bom waktu yang setiap saat bisa meledak di masa mendatang.
Penyelesaian belum terlihat

Persoalan Irak ini amat rumit. Krisis politik yang sedang terjadi di Irak sekarang tampaknya masih sulit diselesaikan.
Sekarang kita tahu kelompok Sunni beberapa pekan ini melakukan unjuk rasa dan sampai sekarang masih terus dilakukan, yang berpusat di kota Ramadi.
Mereka menuduh Perdana Menteri Nouri al-Maliki melaksanakan kekuasaan secara dikator dengan menggunakan undang-undang tentang antiterorisme, yang dianggap digunakan untuk menyingkirkan lawan politikya, seperti wakil perdana menteri Tariq al-Hashemi.
Itu masih menjadi persoalan di Irak. Sampai sekarang belum ada yang menjembatani keduanya. Siapa tokoh Irak yang bisa menjembatani krisis politik saat ini?
Sementara bantuan dunia internasional sudah berkurang. Jadi Amerika Serikat sendiri tampak seperti sudah tidak tahu menahu dan dibiarkan kepada pemimpin internal Irak sendiri untuk menyelesaikan masalahnya.
Kedewasaan demokrasi Irak?
Begitu pula di tingkat kawasan, sama-sama menjaga jarak. Sementara ada persaingan yang ketat antara Iran dan Arab Saudi.
Iran memiliki pengaruh kuat terhadap kubu Syiah di Irak sedangkan Arab Saudi kepada kubu Sunni di Irak. Dan dua kekuatan ini sekarang, sebetulnya bersaing sangat ketat dengan melakukan adu pengaruh di Irak.
Masyarakat internasional, khususnya Amerika Serikat, tampaknya tidak ada minat untuk campur tangan sampai karena dianggap sebagai masalah internal Irak.
Jadi sejauh mana pemimpin politik Irak mampu meyelesaikan persoalan sendiri. Sepertinya sedang dicoba bagaimana pemimpin Irak mampu mengadapi persoalan secara dewasa.
Atau dengan kata lain sedang mencoba kedewasaan demokasi di Irak setelah sepuluh tahun invasi Irak.
<italic>*Disarikan dari wawancara dengan BBC Indonesia, Sabtu 16 Februari 2013.</italic>









