Kenapa sindikat penjual bayi sulit digulung?

Tak ada tetangga yang banyak menaruh curiga pada HS alias L, 62, saat rumahya di kawasan Sunter, Jakarta Utara kerap didatangi ibu hamil atau ibu yang membawa bayi.
Selain mantan bidan perempuan ini menurut polisi juga dikenal kerap menolong ibu yang 'kesulitan merawat bayinya'.
Lalu lalang sejumlah orang lain, yang menurut polisi adalah kawanan HS, juga tidak dicurigai sehingga operasi berjalan lancar sejak 1992.
"Mantan bidan ini punya blanko keterangan persalinan, cap-cap, juga punya hubungan yang baik dengan berbagai klinik (bersalin) lain yang selalu dipelihara," kata Kombes Pol Rikwanto dari Kepolisian Polda Metro Jaya.
Dalam pemeriksaan menurut Rikwanto HS sukses memindahtangankan rata-rata tiga bayi dalam sebulan termasuk ke pasar internasional.
"Saat penggerebekan kita dapati ada Akte bayi, paspor bayi, manifes penerbangan ke Singapura, serta uang rupiah dan dollar Singapura."
Bagaimana praktek itu tak tercium aparat?
Ini pertanyaan yang dengan jengkel diajukan oleh Arist Merdeka Sirait, setelah polisi mengungkap sindikat HS dkk.
"Tentu pertama kita apresiasi ya polisi yang bekerja keras menggulung komplotan ini, tapi inikan sudah sejak 20 tahun lalu."
Uji DNA
Upaya melacak jejak bayi hilang dilakukan Jaja Nurdiansyah dengan segala cara begitu anaknya, Cello Aditia yang lahir 12 September, raib dibawa suster gadungan di RSIA Siti Zachroh Tambun, Bekasi tepat pada hari dia hendak dibawa pulang.
Harapan Jaja waktu itu bisa mendapat bayinya kembali mengingat ia segera lapor ke kantor Polsek Tambun yang berjarak hanya selisih gang dan satu rumah rumah dari RS.
"Ada dibikin sketsa segala, tapi mana? Enggak ada hasilnya," seru karyawan pabrik suku cadang kendaraan bermotor ini.
Arist Merdeka Sirait juga mempertanyakan sistem pelaporan kasus bayi hilang yang emnurutnya membuat upaya pencarian menjadi nyaris mustahil.
"Bayi disamakan sama orang hilang, laporannya tunggu lenyap 24 jam dulu, ya dalam 24 jam jaman sekarang bayi sudah bisa sampai kemana-mana lah."
Tetapi menurut polisi masyarakat juga harus memahami pelacakan kasus bayi hilang sangat rumit.
"Kalau orang dewasa kita bisa kenali dari ciri-ciri. Kalau bayi, identitas paling kuat adalah uji DNA, ini butuh waktu dan sulit dilakukan," kata Rikwanto.
Uji DNA misalnya pernah dilakukan oleh Jaja yang diprakarsai oleh Komnas PA di lembaga Eijkman. Waktu itu polisi di Cikarang Bekasi mendapat laporan sesosok bayi laki-laki ditemukan seorang buruh yang tengah pulang kerja dini hari, di dekat kawasan industri Cikarang.
Sayangnya uji menunjukkan si bayi bukan putra Jaja, meski kemudian laki-laki 31 tahun itu memutuskan merawatnya bersama istrinya.
'Sangat menakutkan'

Melihat sepak terjang sindikat yang diduga diotaki HS alias L, baik polisi maupun Komnas PA yakin masih ada, kalau tak mau mengatakan banyak, kelompok lain yang beroperasi.
Kesimpulan ini muncul karena dalam kasus HS, modus operandi kejahatan diduga dengan membujuk korban dengan uang 'bantuan' persalinan atau uang pengobatan pasca kelahiran. Sementara dalam sedikitnya 32 kasus yang dilaporkan pada Komnas PA tahun lalu, bayi diculik langsung dari RS/rumah bersalin/puskesmas atau bidan.
"Levelnya sudah sangat menakutkan, bagaimana tempat yang harus menyediakan layanan dan keamanan malah jadi locus kejahatan," kata Arist.
Arist bisa jadi benar, karena meski yang terakhir terungkap mengatakan sudah melakukan praktek pindahtangan bayi sejak 1992, laporan koran The Sidney Morning Herald menyebut bisnis jual-beli bayi sudah marak pada tahun 1982 atau 30 tahun yang lalu.
Sementara menurut laporan Jaksa Penuntut Australia John Pascoe saat diwawancara Radio Australia, dalam satu kasus yang terbongkar tahun 2003, muncul kasus di mana enam bayi dimasukkan kotak styrofoam yang biasa dipakai untuk menyimpan ikan dalam sebuah kapal yang berlayar dari Indonesia.
Bayi-bayi tersebut akan diselundupkan untuk tujuan adopsi ilegal di Australia.









