Identitas Skotlandia di bawah Kerajaan Inggris

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Liston P Siregar
- Peranan, BBC Indonesia
Meskipun telah bergabung dengan Inggris Raya selama beberapa abad, warga Skotlandia masih mempertahankan tradisinya tanpa hambatan.
Brian Taylor tersenyum kecil ketika ditanya apakah musik pipa, tartan, whisky dan salmon merupakan elemen khusus dalam identitas warga Skotlandia.
"Tartan, whisky, musik dan semuanya itu hanya merupakan aplikasi eksternal dari Skotlandia," kata Editor politik BBC Skotlandia itu di gedung parlemen Skotlandia, Edinburgh.
Dia menegaskan karakter Skotlandia, sama dengan bangsa-bangsa lain, ditentukan oleh banyak hal seperti geografi dan sejarah. Namun di bawah Kerajaan Inggris, karakter Skotlandia lebih merupakan keteguhan pilihan seseorang.
"Orang di Skotlandia merasa menjadi Skotlandia selama berabad-abad dan tidak pernah memudar walaupun kenyataannya Skotlandia bergabung dengan Inggris, saat di bawah Inggris Raya maupun di masa monarki sebelumnya."
Pilhan itu, menurut Brian, meneguhkan identitas Skotlandia terus bertahan. Dan memang jauh sebelum gagasan kemerdekaan sekalipun, warga Skotlandia tetap merasa berbeda dari bangsa-bangsa lain yang bergabung di Inggris Raya.
Penyatuan kerajaan
Jauh sebelum abad ke-15, Skotlandia sudah sering berperang melawan Kerajaan Inggris dan beberapa kali Kastil Edinburgh dikuasai Inggris serta kembali direbut.
Namun pada tahun 1603 Ratu Inggris Elizabeth I wafat dan tidak punya ahli waris tahta dan keluarga terdekat adalah Raja James VI Skotlandia, seperti dijelaskan DR Ewen Cameron dari Departemen Sejarah Skotlandia, Universitas Edinburgh.
Raja James VI Skotlandia kemudian merangkap sebagai James I untuk Skotlandia dan Inggris, yang dilihat sebagai tonggak dari penyatuan kedua kerajaan.
Puncak penyatuan adalah pada tahun 1707, ketika parlemen Skotlandia dan Inggris resmi membubarkan diri untuk bersatu walau sebenarnya lebih merupakan parlemen Inggris karena perwakilan Skotlandia amat sedikit.

Sumber gambar, BBC World Service
Jadi apakah itu berarti kekalahan Kerajaan Skotlandia?
"Pada tahun 1600 dan awal 1700 itu bukan kekalahan namun lebih sebagai insiden kerajaan karena Ratu Elizabeth I tidak punya ahli waris tahta. Jadi tidak tepat sebagai kekalahan tapi insiden klasik kerajaan yang banyak terjadi di seluruh Eropa."
Setelah persatuan, Raja Skotlandia dan Inggris lebih banyak berada di London dan jarang berkunjung ke Skotlandia, seperti Raja Charles 1 yang kemudian menjadi sangat tidak populer karena jarang berkunjung ke Skotlandia.
Namun di bawah penyatuan itu, banyak kelembagaan Skotlandia - seperti Gereja Skotlandia, sistem hukum, maupun sistem pendidikan- yang masih berperan aktif dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Tanpa hambatan
Graig Robertson yang berusia 19 tahun belajar musik pipa Skotlandia dari ayahnya sejak berusia sepuluh tahun. Kini setiap Rabu dan Jumat dia ngamen di kawasan wisata Edinburgh untuk mencari uang saku.
Sesekali dia bersama beberapa temannya main di pentas-pentas musik kecil.
Menurutnya, tidak ada masalah dalam tradisi musik tiup Skotlandia, yang diteruskan dengan lancar dari satu generasi ke generasi lainnya.

Sumber gambar, BBC World Service
"Saya kira dilindingi dengan baik karena banyak kelompok musik tiup yang main dan banyak anak muda yang bisa memainkannya, bukan hanya di kalangan orang tua saja."
Graig menambahkan bahwa bermain musik tiup juga bisa dilakukan secara profesional walau dia memilih sebagai kesenangan semata, sekaligus untuk menambah uang saku.
Bagi orang Skotlandia, penyatuan kerajaan dan politik sama sekali tidak membunuh keunikan identitas Skotlandia.
"Kami selalu merupakan individu, sama dengan Wales dan Inggris. Tidak ada yang berubah, ini bukan lagi di masa-masa lalu ketika tartan dianggap melanggar hukum lalu dan whisky dilarang," tutur Jaqqulien Harper, seorang ibu.
Harper menegaskan bahwa Skotlandia, sebagai bangsa yang kecil -dengan populasi sekitar 5,5 juta orang- masih membutuhkan Inggris Raya.
Mendukung Ratu Elizabeth II
Mungkin kenyamanan akan identitas itu membuat banyak warga Skotlandia mendukung Ratu Elizabeth II, yang mempunyai Kastil di Holyrood, persis di depan Gedung Parlemen Skotlandia dan kastil peristirahatan musim panas di Balmoral.
"Ratu merupakan tokoh yang dekat dengan rakyat Skotlandia," tutur Mary Jones, seorang ibu yang sedang menunggu bus, yang juga menentang gagasan kemerdekaan Skotlandia.
Menurut Dr Ewen Cameron, monarki Inggris amat populer di Skotlandia karena sejumlah hal, antara lain kemampuannya untuk menarik perhatian warga Skotlandia.
"Pekan depan untuk Jubilee, Skotlandia akan diramaikan dengan Union Jack (bendera Inggris), akan banyak perayaan di Skotlandia sama seperti di tempat-tempat lain di Inggris."
"Monarki merupakan sebuah organisasi yang amat baik dalam menarik perhatian bebagai bagian dari Inggris Raya. Monarki juga berupaya mendefinsikan dirinya sebagai Skotlandia juga," tambah Cameron.
Selain menghabiskan liburan musim panas setiap tahun di Balmoral, Skotland timur laut, dan berkunjung ke Skotlandia pada awal Juli dalam pekan yang disebut Pekan Holyrood, banyak keterlibatan anggota keluarga kerajaan Inggris di Skotlandia.
Suami ratu, Duke of Edinburgh -yang diambil dari nama kota Edinburgh, merupakan kanselir atau pemimpin universitas di Edinburgh sampai tahun lalu dan digantikan putrinya Putri Anne, yang menjabat pelindung Organsiasi Rugby Skotlandia. Sementara Pangeran Charles sering terlihat memakai kilt atak rok tartan dan meramaikan Highland, pesta olahraga tradisional Skotlandia.
DR Cameron yakin bahwa Kerjaaan Inggris juga sama populernya di Wales dan Irlandia, walau sejarah penggabungan kerajaan membuat hubungan dengan Skotlandia terasa lebih erat.
Eratnya hubungan itu membuat Ketua SNP, Alex Salmond, selalu menegaskan bahwa referendum kemerdekaan Skotlandia tidak akan memutus hubungan dengan Kerajaan Inggris.
"Ada sayap Republik di SNP namun Alex Salmond -terlepas dari apa pun pandangan individunya- menegaskan bahwa pascaindependepn, Skotlandia akan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Inggris," kata DR Cameron.
Jadi, Skotlandia akan sama meriahnya dengan wilayah-wilayah Inggris Raya lainnya dalam perayaan puncak 60 tahun tahta Ratu Elizabeth II. Dan itu dilakukan tanpa harus menggerus identitas Skotlandia.









