Kisah warga membangun kembali kehidupan

Tukijo

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Tukijo memelihara sapi hibah dan dijanjikan akan mendapatkan satu ekor sapi dalam dua tahun
    • Penulis, Sigit Purnomo
    • Peranan, BBC Indonesia

Tukijo, 50, Warga Desa Wukirasih, Cangkringan, pada Senin (31/10) siang, kebagian jatah untuk menjaga puluhan bantuan dari sebuah perusahaan swasta bagi sekitar ratusan kepala keluarga yang tinggal di salah satu hunian sementara atau Huntara yang tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Sudah hampir setahun pasca erupsi Merapi, Tukijo yang awalnya adalah seorang petani ini mengaku terpaksa beralih profesi menjadi buruh serampangan.

"Hidup semampunya saja, ya Alhamdulillah masih bisa tanam cabai dan padi dan berhasil. Tetapi ya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari,'' kata Tukijo.

Dia mengatakan mau memelihara sapi hibah milik kelompok ini karena dijanjikan akan mendapatkan seekor sapi dalam dua tahun kedepan.

"Ini sapi bantuan perusahaan swasta ada 57 ekor, tapi katanya sih selama dua tahun bisa jadi hak milik yang urusi, satu ekor untuk dua orang,'' kata Tukijo.

Hidup di hunian sementara, jauh dari kampung halaman memang bukan perkara yang mudah bagi ribuan pengungsi Gunung Merapi ini.

Mereka terpaksa harus meninggalkan lahan dan rumah mereka yang sudah rata disapu abu vulkanik ketika Merapi meletus akhir Oktober 2010.

Apalagi jika dibandingkan dengan tempat tinggal mereka terdahulu, tinggal di hunian sementara yang terbuat dari kayu dan bilik bambu ukuran 30 meter persegi bukanlah perkara yang mudah.

Untuk bertahan hidup, kebanyakan para pengungsi di huntara ini beralih profesi dari awalnya sebagai petani berubah menjadi buruh, tukang ojek, hingga pedagang.

Pasrah

Nurhadiatmodjo, 56, warga Cangkringan mengaku sejak tinggal di huntara, dia hanya dua kali mendapatkan jatah hidup dari pemerintah daerah.

"Kami masih tergantung dari donator, sejak lebaran sudah tidak ada lagi, kalau dari pemerintah baru dua kali, sampai sekarang belum ada lagi, per kepala 150 ribu, cuma itu, tidak ada lagi,'' katanya.

Untuk menyambung hidup, dia kini bekerja sebagai pemotong rumput untuk pakan ternak.

Nasib tak jauh berbeda juga dialami Ibu Broto.

Ibu Broto

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Ibu Broto membuka warung kelontong pasca letusan Merapi

Perempuan berusia 65 tahun ini mencoba peruntungan dengan membuka warung kelontong.

"Saya dulu jualan jajanan di sekolah, sekarang di sini masih jualan tapi ya tidak cukup, pendapatan berkurang banyak,'' kata Ibu Broto.

"Tapi pokoknya biar sedikit yang penting bisa makan," tambah Ibu Broto mencoba untuk pasrah.

Sejumlah pengungsi di huntara yang ditemui BBC juga terlihat pasrah atas keadaan ini. Mereka mengaku ini sebagai kehendak Tuhan yang harus dijalani.

Meski ada warga yang tinggal di Huntara mengharapkan ada kejelasan atas nasib mereka dan meminta untuk segera di relokasi ke tempat baru, tetapi banyak juga yang merasa siap jika harus tinggal di lokasi Huntara secara permanen.

"Warga minta ini dijadikan hunian tetap, alasanya di sini jauh dari Kali Opak dan Kali Gendol (daerah rawan terjangan lahar dingin). Sebenarnya mau pindah kembali, tapi dilarang. Mau gimana lagi, kalau di sana, tanah sudah terpendam pasir dan batu, tempat sudah tidak ada,'' kata Nurhadiatmodjo, warga Cangkringan.

Tata ruang wilayah

Pemerintah daerah meminta warga untuk bersabar tinggal di huntara, sementara proses rehabilitasi dan relokasi berlangsung.

Pelaksana Tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Urip Bahagia, dalam pemberitaan media lokal menyebutkan para korban erupsi Merapi akan menetap di Huntara untuk sekitar dua tahun ke depan, dengan harapan tidak tak ada peningkatan aktivitas vulkanik Merapi.

Sementara tinggal di Huntara, Urip mengatakan bahwa saat ini Pemda tengah menyiapkan lokasi baru sebagai hunian tetap.

"Pemerintah Kabupaten Sleman sudah membuat draf rencana tata ruang wilayah Merapi. Rancangan tersebut kemudian diajukan ke Pemprov DIY dan Kementrian Pekerjaan Umum untuk mendapat persetujuan,'' kata Urip.

Toko warga di Merapi
Keterangan gambar, Sebagian warga membuka usaha berupa toko menjual cenderamata

Bupati Sleman Yogyakarta Sri Purnomo mengatakan pemerintah menyiapkan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Merapi sebesar Rp1,3 triliun.

"Pengucuran dana sebesar itu dengan catatan, sembilan dusun yang masuk kawasan bahaya harus dikosongkan," katanya.

Sebelumnya Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X menjanjikan untuk memberikan insentif tanah-tanah warga korban Merapi dengan memberi bantuan dana pembangunan rumah Rp30 juta untuk warga agar mereka bisa membangun rumah lagi, baik itu di wilayah lama atau di kawasan relokasi.

Pemerintah sendiri sebenarnya menginginkan untuk mengubah kawasan bencana menjadi hutan lindung, tetapi masih banyak warga yang nekat untuk kembali membangun di wilayah rawan bencana.

Data Pemerintah Kabupaten Sleman Yogyakarta menyebutkan setidaknya masih ada 9.138 orang yang tinggal di 2.682 unit Huntara yang tersebar di 10 lokasi di Plosokerep, Gondang 1, Gondang 2, Gondang 3, Gondang luar, Banjarsari , Jetis Sumur, Huntara Dongkelsari, Huntara Kuwang, dan Huntara Kethingan.

Selain didirikan rumah petak, Pemda dan sejumlah perusahaan swasta juga memberikan sumbangan hewan ternak dan bibit tanaman bagi korban merapi yang tinggal di Huntara.

Tujuan wisata

Salah satu alih profesi yang kini dijalani oleh warga Cangkringan adalah dengan menjadi petambang pasir.

Hal ini terlihat dari adanya aktifitas penambangan pasir di sejumlah daerah di Cangkringan yang hancur tersapu abu vulkanik dan lahar dingin.

"Lumayan untuk menambah penghasilan sehari-hari,'' kata Tedjo, seorang warga Cangringkan yang mengaku menjual pasir di Yogya dan sekitarnya.

Hal menarik lainnya adalah pemanfaatan rumah bekas juru kunci Mbah Maridjan menjadi obyek wisata Merapi.

Hingga saat ini ratusan orang masih sering mengunjungi Desa Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan meninggal karena menolak untuk dievakuasi.

"Ingin tahu seperti apa tempat Mbah Maridjan sewaktu terkena erupsi Merapi,'' kata Wina, seorang warga Surabaya yang mengunjungi Desa Kinahrejo yang kini masih diseliputi abu pasir dan bangkai pohon yang telah menjadi arang akibat terbakar.

Maraknya orang yang berkunjung ke Desa Kinahrejo ini jelas memberi imbas bagi warga Kinahrejo yang kehilangan pekerjaan sebagai petani.

Kios-kios cinderamata, warung makan, dan tempat persewaan motor kini menjadi pemandangan yang ditemui di pintu masuk menuju Desa Kinahrejo yang sebenarnya masih dinyatakan sebagai daerah terlarang.

''Omsetnya lumayan, dan memang dikelola oleh korban merapi, warga sini, kalau dulu mayoritas warga petani dan peternak sapi perah, tapi kan sudah habis, jadi sekarang warga mendapatkan penghasilan dari warung, ojek dan penyewaan motor'', kata Bambang seorang warga Kinahrejo yang mengaku enggan untuk kembali tinggal di shelter atau Huntara.