Bila pesantren dianggap sarang teroris

Sebagian kecil santri tertarik radikalisme yang menghalalkan kekerasan.
Keterangan gambar, Sebagian kecil santri tertarik radikalisme yang menghalalkan kekerasan.
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, BBC Indonesia

Pondok pesantren kembali disorot dan dikaitkan dengan paham radikalisme -- yang berujung pada tindak kekerasan -- setelah beberapa terduga terorisme diketahui merupakan lulusan sebuah pesantren di Jawa Tengah.

Salah seorang buronan kasus ledakan bom bunuh diri di Kota Solo bulan lalu, disebut polisi sebagai alumni pesantren Al-Mukmin di Kota Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ini bukanlah kasus pertama menyangkut alumni pesantren itu, karena beberapa alumni pesantren ini juga didakwa dalam rentetan kasus bom sejak tahun 2000 lalu.

Bahkan pendiri pesantren itu, Abubakar Ba'asyir, kini mendekam di penjara akibat didakwa terlibat tindak terorisme.

Dan sekarang, ketika dunia pesantren kembali disorot, Direktur Pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Sukoharjo, Wahyudin, kembali mempertanyakan alasan mengkaitkan tindak terorisme -- yang dikenakan pada beberapa alumninya -- dengan kurikulum di pesantren yang dikelolanya.

"Tentu bukan dari pesantrennya," kata Wahyudin kepada BBC Indonesia. "(Pengaruh radikalisme itu) dari pengaruh luar yang sudah memang mengkooptasi dia".

Menurutnya, pesantrennya tidak pernah memiliki kurikulum atau mata pelajaran yang mengarahkan murid-muridnya untuk menghalalkan kekerasan.

Wahyudin sendiri mempertanyakan tuduhan tersebut, yang disebutnya "seringkali tidak fair".

"Mungkin (mereka) pernah di Ngruki, lalu melakukan sesuatu yang dianggap radikal. Tetapi mengapa (kemudian) dilarikan ke ngruki, padahal pengaruh itu tidak datang dari situ kan," tandasnya.

Penelitian

Dugaan keterkaitan latar pendidikan pesantren dan perilaku kekerasan atas nama agama itu pernah ditindaklanjuti Departemen Agama, dengan melakukan semacam penelitian terhadap kurikulum di semua pesantren, dan hasilnya meragukan dugaan itu.

Penelitian Depag tidak menemukan bukti bahwa pesantren merupakan tempat persemaian gerakan radikal
Keterangan gambar, Penelitian Depag tidak menemukan bukti bahwa pesantren merupakan tempat persemaian gerakan radikal

Dalam berbagai kesempatan, otoritas di kementerian agama juga menyatakan, proses radikalisasi itu dilangsungkan secara tertutup dan diam-diam, dan proses seperti itu tidak pernah mereka jumpai di jalur pendidikan formal, baik sekolah umum atau pesantren.

Dedi Djubaidi, Direktur pendidikan Madrasah Kementerian Agama mengatakan tidak ada bukti-bukti yang menyebutkan kurikulum pesantren berimplikasi pada penyemaian radikalisme para santrinya.

Jika kemudian ada alumni pesantren itu diduga terkait teroris, menurut Dedi, tidak berarti pesantren itu mendukung atau menyetujui tindak kekerasan.

"Secara individu saja dia punya 'bimbingan tertentu' (yang) bukan atas nama institusi pesantren itu," kata Dedi.

"Yang kemudian (berkembang) menjadi 'komunitas tertentu'," tambahnya, menganalisa.

Menurutnya, pengetahuan berikutnya tentang radikalisme "rata-rata ditemukan di luar pesantren atau madrasah".

Alumni Afganistan

Apabila pesantren dianggap tidak berperan melahirkan santri yang radikal, lantas bagaimana menjelaskan kenyataan bahwa ada beberapa siswa Pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Sukoharjo, terlibat terorisme?

Sebagian alumni pesantren Al-Mukmin menjadi radikal setelah kontak dengan Osama bin Laden

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sebagian alumni pesantren Al-Mukmin menjadi radikal setelah kontak dengan Osama bin Laden

Alumni pesantren Al-Mukmin, Nur Huda, yang kini aktif di sebuah yayasan yang membina para bekas napi teroris, menganggap kasus ini sangat khas, dan tidak bisa dijadikan tolok ukur umum untuk menilai pesantren di Indonesia secara keseluruhan.

Sebagian kecil alumni pesantren Ngruki, menurutnya, tertarik dengan faham radikal yang akhirnya mengarah ke ideologi kekerasan itu, setelah mereka berangkat ke Afganistan, pada periode tertentu.

Nur Huda menekankan kalimat 'pada periode tertentu', karena tidak semua alumni Afganistan menghalalkan tindak kekerasan, utamanya pada periode awal. "Karena pada beberapa angkatan mereka toleran."

Tetapi pada periode akhir, lanjutnya, ketika beberapa alumni Ngruki bertemu langsung dengan Osama, dan ikut berperang bersamanya, mereka cenderung cocok dengan fatwa-fatwa pemimpin Al-Qaedah itu.

"Yaitu pada titik ketika orang-orang itu mempunyai hubungan dengan Kelompok Osama bin Laden," ungkapnya. "Yaitu yang cocok dengan fatwa bin Laden."

"Karena orang itu menjadi radikal karena dua hal, pertama, karena frame of reference (referensi akademis), dan kedua, karena pengalaman yang membentuk cara pandang itu," katanya menganalisa.

Dialog antar keyakinan

Lantas, bagaimana cara agar santri atau alumni sebuah pesantren tidak 'tergoda' ajaran atau nila-nilai yang menghalalkan kekerasan?

Sebuah contoh nyata ditunjukkan Pondok Pesantren Nurul Haramain di Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pimpinan Hasanain Juaini.

Hasanain baru saja memperoleh penghargaan Magsaysay 2011 dari sebuah yayasan di Filipina, atas dedikasinya mengembangkan pesantren yang menghormati pluralitas serta hak-hak perempuan.

Menurutnya, tidaklah benar bila semua pesantren di seluruh Indonesia berkontribusi terhadap gerakan radikal yang bermuara pada kekerasan.

Pemimpin pesantren Nurul Haramain mengajak murid-muridnya mendialogkan perbedaan dengan penganut agama lain
Keterangan gambar, Pemimpin pesantren Nurul Haramain mengajak murid-muridnya mendialogkan perbedaan dengan penganut agama lain

"Ini (alumni pesantren yang tertarik gerakan kekerasan) kan hanya sedikit saja," kata Hasanain.

"Itu hanya satu atau dua orang," lanjutnya, "tetapi (karena) volume pemberitaan begitu dahsyat, sehingga nampaknya sangat menakutkan sekali".

Di pesantren yang dikelolanya, Hasanain menanamkan dan mempraktekkan nilai-nilai penghormatan terhadap perbedaan, termasuk soal perbedaan keyakinan atau agama.

"Kami sudah lama melakukan pendidikan kepada anak-anak kita, bagaimana sebanyak mungkin melakukan pertemuan-pertemuan atau praktek hidup sesama secara langsung dengan mereka yang berbeda agama atau keyakinan," jelasnya.

Hasanain yakin penghormatan terhadap perbedaan itu harus ditanamkan sejak dini dan tidak bisa selesai hanya berupa anjuran atau pidato. "Harus dipraktekkan secara nyata."