Karya seni untuk investasi masa depan

lelang
Keterangan gambar, Lelang benda seni selalu dipenuhi kolektor yang berani membeli dengan harga tinggi
    • Penulis, Sigit Purnomo
    • Peranan, BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 3 menit

Lembaga Credit Suisse Research Institute akhir tahun 2010 merilis data yang menyebutkan total kekayaan orang Indonesia hingga pertengahan tahun 2010 mencapai US$1,8 triliun atau naik lima kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Bahkan diperkirakan kekayaan itu akan tumbuh menjadi US$3 triliun, yang berarti meningkat dua kali lipat lagi pada 2015.

Pertumbuhan ini menurut Credit Suisse merupakan yang tercepat di kawasan Asia-Pasifik dan sekaligus mendorong munculnya kelas menengah.

Walau sebagian kekayaan itu berasal dari kepemilikan yang bisa dikatakan konvensional, seperti property, namun jelas jika peningkatan kekayaan juga mendorong berkembangnya sektor ekonomi lain.

Dan salah satu sektor yang terkena imbasnya adalah perdagangan karya seni.

Sejak tahun 2008 karya seni rupa Indonesia sebenarnya sudah mengalami booming dengan melambungnya harga karya-karya seniman Indonesia di sejumlah balai lelang di Hongkong, Singapura, maupun Jakarta, seperti dituturkan Amir Sidharta seorang kurator dari balai lelang Sidharta Auctioneer.

Dan peningkatan harga beberapa karya seniman Indonesia mengalami peningkatan yang luar biasa.

''Dalam satu dua tahun ini ada peningkatan harga yang sangat fantastis terutama karya perupa Indonesia klasik, seperti yang sangat meningkat adalah Lee Man Fong, Hendra Gunawan dan Soedjojono. Yang tadinya berkisar ratusan juta sampai dua-tiga miliar, melejit menjadi belasan miliar rupiah,'' tutur Amir Sidharta.

Seniman muda Indonesia yang juga tidak kalah menariknya antara lain adalah I Nyoman Masriadi. Karya Seniman asal Bali yang menetap di Yogyakarta ini berhasil dijual dengan harga Rp6 miliar pada lelang Sothebi's di Hongkong.

Sejumlah seniman lain yang karyanya kini juga banyak dicari adalah Agus Suwage, Rudy Mantovani, dan Putu Sutawijaya.

Menurut Amir Sidharta, karya para seniman tersebut menjadi jaminan cepat terjual jika dilelang.

Minat yang berkembang

Di sejumlah kota besar di Indonesia kini mulai menjamur berbagai macam galeri yang menjual karya seni dari berbagai macam aliran.

Yenny S.C -pemilik galeri Phoenix Art, di kawasan Darmawangsa Jakarta Selatan- mengatakan antusiasme pengunjung ke galerinya cukup besar.

''Antusiasme pengunjung cukup banyak, kebanyakan baru senang tapi belum terlalu mengerti seni. Biasanya mereka mencari yang impresionis yang bisa dinikmati di rumah, yang mudah dicerna,'' kata Yenny.

Meningkatnya jumlah para pengunjung tampaknya menunjukan munculnya kalangan baru yang tertarik membeli karya seni bermutu, antara lain untuk mengikuti gaya hidup sekaligus menunjukan strata sosial.

''Sebagian pengunjung punya duit, sebagian apresiasi seni. Ada juga orang yang termasuk tipe mengikuti, kalau tidak kenal art ketinggalan jaman, alasannya gengsi,'' tambah Yenny.

Selain galeri, balai lelang kini juga bermunculan dan ketika lelang berlangsung selalu dipenuhi oleh para pengunjung.

Sebagai investasi

Dengan asumsi bahwa karya seni yang bermutu kelak akan mudah terjual kembali maka banyak yang membeli karya seni bukan sebagai bentuk apresiasi semata tapi merupakan sebagai investasi untuk masa depan.

galeri
Keterangan gambar, Makin banyak yang menyadari seni sebagai investasi jangka panjang yang menguntungkan

Amir Sidharta menilai yang membuat karya seni, terutama lukisan, menjadi mahal tidak bisa dijelaskan secara matematis, tapi jelas tidak sedikit karya seni yang dibeli ternyata bisa menguntungkan dijual di kemudian hari.

Seni kini bukan lagi sekadar guratan kuas di atas kanvas atau pahatan di kayu dengan nilai dasar seni belaka, tetapi juga dibayang-bayangi oleh potensi ekonominya.

"Mereka tidak hanya mengkoleksi seni tapi juga sebagai investasi karena mereka tahu harganya akan meroket di kemudian hari," kata Amir.

Dalam hal ini peran kurator, galeri, kritikus, dan media yang bisa menjadi pemegang kunci atas 'keberhasilan' sebuah karya seni.

Mereka bisa mendongkrak harga sebuah karya seni atau menjadikannya sebagai rebutan ketika dilelang.

Bagaimanapun, setiap investasi tentu mengandung risiko dan dalam karya seni amat diperlukan ketajaman dalam menilai sebuah karya seni.

Kesadaran mengoleksi

Dengan semakin meningkatnya kekayaan rumah tangga maka semakin meningkat pula belanja karya seni. Setidaknya mereka jadi bisa menyisihkan sebagian dana mereka untuk membeli barang seni.

Paling tidak bergitulah pengalaman Kris Danubrata, salah seorang kolektor seni di Jakarta yang kerap mengunjungi galeri.

''Sama seperti teman-teman kolektor lainnya, kalau sudah suka seni maka kami melupakan benda-benda mewah lainnya. Saya tidak suka mobil atau barang mahal lainnya jadi uangnya bisa saya gunakan untuk membeli barang seni.''

''Kalau sudah mencintai. Pantang melihat sesuatu yang sesuai dengan selera dan kesenangan sudah pasti dibeli. Kalau uang tidak cukup, tidak bisa tidur, dipikirkan terus,'' kata Kris Danubrata yang memiliki ribuan karya seni tapi mengaku tidak menyiapkan ruangan khusus untuk koleksinya.

Menurut Kris, kesadarannya untuk mengoleksi sudah timbul sejak kecil dan semakin meningkat ketika bekerja di Istana Negara di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Istana Negara memang dipenuhi berbagai macam benda seni, sejalan dengan kecintaan presiden pertama Indonesia, Soekarno, atas karya seni

Kris menambahkan kesadaran bahwa koleksi seni bisa menjadi investasi yang menguntungkan baru dimulai pada masa 1980-an.

Namun belakangan semakin meningkat lagi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.