Anak muda Indonesia yang butuh lapangan kerja

Ledakan lulusan perguruan tinggi tidak dibarengi penyediaan lapangan kerja.

Sumber gambar, bb

Keterangan gambar, Ledakan lulusan perguruan tinggi tidak dibarengi penyediaan lapangan kerja.
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 4 menit

Dengan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang diperkirakan antara 6,1% hingga 6,5%, maka diasumsikan tercipta lapangan kerja yang baru pula.

Namun agaknya laju pertumbuhannya tidak bisa mengimbangi jumlah lulusan perguruan tinggi karena sebagian dari mereka tidak terserap di dunia kerja.

Tiga tahun lalu, misalnya, tercatat 200.000 lulusan perguruan tinggi -sesuai dengan data Departemen Pendidikan Nasional- dan 30% diantaranya masih menganggur.

Kualifikasi kelulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan merupakan sebagai salah satu faktor utama di balik masalah ini, selain juga karena para pencari kerja yang tidak mampu bersaing.

Data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menunjukkan sekitar 30% lowongan kerja tahun 2010 tidak terisi, padahal jumlah pencari kerja melimpah.

"Yang ada pun tidak bisa terpenuhi karena kualifikasi tenaga kerja tak sesuai permintaan pasar," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, kepada para wartawan awal tahun ini.

Menurut pemerintah, sampai tahun lalu terdaftar sekitar 4,12 juta pencari kerja sedangkan lowongan kerja yang tersedia 2,38 juta orang, tetapi yang terisi hanya sekitar 1,62 juta orang, atau 70% dari angka total.

Adanya kesenjangan antara perguruan tinggi dan dunia kerja disebut para ahli sebagai penyebab utama masalah tersebut.

Persoalan seperti ini dihadapi oleh Anisah, lulusan Universitas Hangtuah di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Saya bertemu Anisah, ketika dia bersama ratusan lulusan perguruan tinggi lainnya terlihat mendatangi acara bursa kerja di Jakarta, akhir bulan Mei lalu.

"Sebenarnya saya sudah bekerja, cuma tak sesuai bidang saya," kata Anisah, tamatan Universitas Hangtuah di Surabaya, Jawa Timur.

"Saya ke sini (tempat bursa kerja) berharap dapat pekerjaan sesuai latar belakang studi saya," tambah lulusan jurusan Oseanografi ini.

Apa yang diutarakan Anisah sepertinya jamak terjadi di Indonesia, paling tidak pada saat ini.

Pilihan pegawai negeri

Memilih menjadi pegawai negeri sipil, PNS, sejauh ini masih dianggap sebagai pilihan menyenangkan bagi sebagian besar lulusan perguruan tinggi di Indonesia.

Andrian -lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti di Jakarta- mengaku lebih tertarik menjadi PNS ketimbang bekerja di swasta.

"Karena lebih terjamin dan ke depan itu kemungkinan kena pemutusan hubungan kerja, PHK, tidak ada," katanya kepada BBC Indonesia.

Pertimbangan situasi ekonomi makro sekarang dianggap Andrian belum menjanjikan untuk bekerja di bidang swasta.

Sampai bulan Juni tahun lalu -menurut data Badan Kepegawaian Negara- jumlah PNS mencapai sekitar 4.732.422 orang. Setiap tahun semua lembaga negara merekrut lulusan perguruan tinggi.

Cara berpikir seperti ini pernah lama menjangkiti sebagian besar masyarakat Indonesia, walau sekarang mulai ditinggalkan.

Salah-seorang yang ingin mengenyahkan mental menjadi PNS adalah Agung, sarjana lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Padjajaran, Bandung.

Agung terlihat berada di antara pengunjung bursa kerja yang digelar Kementrian Kelautan dan Perikanan, akhir bulan Mei lalu.

Velly Kristanti memilih menjadi pengusaha kuliner dan meninggalkan kerja kantoran.

Sumber gambar, bb

Keterangan gambar, Velly Kristanti memilih menjadi pengusaha kuliner dan meninggalkan kerja kantoran.

Meski baru sebatas keinginan, Agung berkata: "Saya tertarik untuk membuka lapangan kerja, ketimbang jadi PNS".

Harapan lulusan perguruan tinggi berani membuka usaha dan lapangan pekerjaan, sudah lama diteriakkan, tetapi faktanya jumlah wiraswasta di Indonesia disebut masih minim.

Kementrian Keuangan memperkirakan bahwa dalam situasi ideal maka 2% dari total penduduk sebuah negara menjalankan usaha yang mampu membuka lapangan kerja.

Itu berarti Indonesia masih membutuhkan 4,6 juta wiraswasta, tetapi awal tahun lalu tercatat hanya sekitar 800.000 pengusaha.

Keberanian berusaha

Walaupun secara kuantitas para pengusaha Indonesia masih minim, namun ada beberapa contoh sukses anak-anak muda yang berani mengambil risiko untuk membuka usaha sendiri.

Di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, ada sebuah rumah makan cepat saji bernama Klenger Burger. Ini adalah salah-satu restoran yang dikelola Velly Kristanti, sarjana D3 Sastra Belanda, Universitas Indonesia. Bisnis kuliner ini dirintis Velly dan suaminya sejak 2005 yang saat ini berkembang menjadi sekitar 38 outlet dan mampu menyerap sekitar 300 tenaga kerja.

"Ibaratnya karena kita harus bisa bertahan hidup," ungkap Velly, perempuan kelahiran tahun 1974 mengungkap kisah awalnya berwiraswata.

"Waktu itu saya memutuskan 'terjun bebas' keluar dari kerja kantoran," tambahnya.

Langkah ini akhirnya juga diikuti suaminya, Gatut Cahyadi, yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan Jepang.

Pilihan berwiraswasta terus digelutinya karena dia tidak mau bersikap setengah-setengah. "Mungkin karena sudah kecemplung, maka harus memilih," kata Velly.

Kini Velly terus berupaya mengembangkan bisnisnya di tengah persaingan ketat bisnis kuliner cepat saji.

"Ini membuktikan bahwa bisnis kuliner burger banyak peminatnya," tuturnya.

Seperti keinginan kebanyakan pengusaha sukses lain, ibu dua anak ini jelas ingin agar usahanya berimbas cepat pada kesejahteraan anak buahnya.

Prospek industri kreatif

Sebuah survei terbaru menyebutkan Indonesia -bersama dengan Amerika Serikat, Kanada, serta Australia- termasuk negara yang memiliki budaya terbaik di dunia bagi orang-orang ingin yang memulai bisnis baru.

Hasil survei BBC World Service di 24 negara itu juga menyimpulkan Indonesia menempati urutan teratas sebagai negara yang paling ramah bagi wirausaha di dunia, unggul tipis dari Amerika Serikat.

Kesimpulan jajak pendapat ini juga menyebutkan Indonesia paling menghargai inovasi dan kreativitas, disusul Amerika dan Cina.

Bertolomeus Saksono Jati
Keterangan gambar, Bertolomeus kini memberi pekerjaan kepada sekitar sekitar 150 orang.

Walaupun penelitian ini masih pro dan kontra, keberadaan industri kreatif di Indonesia -yang digerakkan oleh anak-anak muda- dianggap jalan keluar cerdik di tengah persoalan pengangguran yang tinggi.

Industri distro, yang mulai semarak semenjak enam atau tujuh tahun lalu, dikenal sebagai salah satu contoh sukses industri kreatif.

Menjual pakaian dan aksesoris lainnya -yang banyak dijalankan oleh anak-anak muda- terus berkembang.

Di Bandung, misalnya, perputaran uang industri kreatif mencapai Rp25 miliar per bulan atau sekitar Rp 300 miliar setahunnya.

Memberi pekerjaan

Dan di sebuah gerai distro Endores di kawasan Tebet Utara, Jakarta, saya bertemu dengan pemiliknya.

Masih muda dan berkaos oblong merah. Bertolomeus Saksono Jati, begitu dia memperkenalkan diri.

"Basic saya bukan disainer, saya anak jalanan," akunya kepada BBC seraya tersenyum saat membuka kisah perjalanannya hingga mampu mengelola beberapa outlet pakaian ala anak muda, yang sering disebut distro.

"Awalnya saya lihat teman saya yang bisa membuat disain (kaos) yang menarik, dan membuat orang suka. Saya pikir, wah, ini bisa menjadi bisnis."

Berto kemudian mengajak ahli pembuat disain unik itu untuk berbisnis.

Sekarang usahanya itu terus berjalan, dan Berto ingin membuka usaha di bidang lain, selain distro dan restoran.

"Kalau jadi pengusaha itu penghasilannya tanpa batas. Papa saya bilang kalau banyak uang, bisa memberi orang lain, merekrut banyak karyawan, dan bisa menghidupi orang lain," jelasnya.

Walau sempat turun, Berto yakin usaha distronya akan terus berkembang. "Karena pendekatan saya, produk kami itu unik."

Dia memberitakan contoh ketika menjelang final Liga Champions 2011 antara Barcelona melawan Manchester United, pihaknya memproduksi disain kaos unik terbatas terkait ajang sepakbola bergengsi itu.

"Ternyata anak-anak muda suka," ujar Berto, yang kini mempekerjakan sekitar 150 karyawan.

Bagaimanapun, di tengah angka pengangguran yang tinggi, pilihan berwiraswasta seperti dilakukan Velly dan Berto tampaknya bisa menjadi pilihan anak-anak muda Indonesia, meski jelas tidak mudah.