Menghapus bensin bertimbal di Indonesia

Anak Jakarta
Keterangan gambar, Bensin bertimbal menurunkan IQ anak
    • Penulis, Anton Alifandi
    • Peranan, BBC Indonesia

Upaya pembebasan Indonesia dari bensin bertimbal dimulai dengan pencanangan Program Langit Biru oleh Presiden Soeharto pada tahun 1996.

Pencanangan program itu dilakukan setelah Indonesia menghadiri pertemuan puncak Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil, yang antara lain menyebutkan Jakarta sebagai kota paling tercemar di dunia setelah Kota Meksiko dan Bangkok.

Dari segi kesehatan, penggunaan bensin bertimbal menyebabkan keracunan yang antara lain menimbulkan penurunan IQ.

Penggunaan bensin bertimbal untuk kendaraan bermotor mulai dihapus di Amerika Serikat pada tahun 1970an, dan di Eropa pada tahun 1990an.

Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat dan Badan Kesehatan Dunia WHO, menyatakan kandungan Tetra Ethyl Lead yang digunakan dalam bensin bertimbal sudah dinyatakan berbahaya apabila berada pada tingkat 10 mikrogram per desi Liter darah(μg/dL).

Menurut Program Langit Biru ini, Indonesia sudah akan bebas bensin bertimbal selambat-lambatnya Desember 1999.

Akan tetapi target itu ternyata tidak tercapai sehingga pada tahun 1999 itu juga Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto menetapkan target agar bensin bertimbal terhapus pada 1 Januari 2003.

Namun target baru itu pun tidak tercapai karena sejumlah alasan.

Tidak siap

"Lagi-lagi dikembangkan isu ketidaksiapan kilang dan kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk melakukan perbaikan kilang," kata Koordinator Komite Pembebasan Bensin Bertimbal Ahmad Syafrudin.

Ahmad mengatakan alasan-alasan ini dikemukakan oleh Pertamina, Ditjen Migas dan Departemen Keuangan.

Karena target itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan terpenuhi, Kementrian Lingkungan Hidup dan LSM seperti Komite Pembebasan Bensin Bertimbal menempuh strategi mendesak penghapusan bensin bertimbal secara bertahap.

Pada 1 Juli 2001 Jakarta dan sekitarnya yang mengkonsumsi 30% pemakaian bensin di Indonesia sudah bebas dari bensin bertimbal.

Kawasan lainnya di Indonesia seperti kota Cirebon pada Oktober 2001, Pulau Bali pada tahun 2002 dan Pulau Batam pada tahun 2003 menyusul langkah Jakarta dan dinyatakan bebas bensin bertimbal.

Argumen yang diajukan oleh KPBB adalah bensin bertimbal menurunkan IQ anak-anak Indonesia. Pada tahun 2004 KPBB melakukan penelitian kadar timbal dalam darah anak-anak Indonesia di Bandung, Makassar, Palembang, dan Surabaya.

"Di Makassar 90% anak-anak mempunyai kadar timbal dalam darah di atas 10μg/dL," kata Ahmad kepada BBC.

Hasil penelitian ini disampaikan oleh KPBB kepada Menteri Perhubungan ketika itu Hatta Rajasa yang kemudian mengirim surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro agar penggunaan bensin bertimbal segera dihentikan.

Akan tetapi Indonesia secara keseluruhan baru terbebas dari bensin bertimbal pada 1 Juli 2006.