Dampak bom 7 Juli 2005

London bomb
Keterangan gambar, Lima puluh dua warga London tewas akibat serangan bom 7 Juli 2005
    • Penulis, Anton Alifandi
    • Peranan, BBC Indonesia

Pada tanggal 7 Juli 2005, ketika jutaan warga London sedang sibuk berangkat ke tempat kerja masing-masing, tiga bom meledak nyaris serentak.

Ketiga bom itu meledak pada jam 8.50 pagi di tiga kereta api bawah tanah, dan pada jam 9.47 pagi sebuah bom lain meledak di sebuah bis tidak jauh dari stasiun Euston di pusat kota London.

Lima puluh dua warga London tewas dalam peristiwa itu, ditambah 700 orang yang luka-luka.

Peristiwa ini sudah lebih tiga tahun berlalu, tetapi di masih bergema sampai sekarang karena dampaknya terhadap kebijakan keamanan dalam negeri, perundangan anti-teror dan kebijakan sosial pemerintah Inggris untuk mencegah terulangnya peristiwa ini, yang terutama ditujukan kepada komunitas Muslim Inggris.

Pelaku serangan bom ini adalah empat warga Muslim kelahiran Inggris, Germaine Lindsay, Shehzad Tanwir, Hasib Hussain, dan pemimpin mereka Mohammad Sidique Khan. Mereka berempat ikut tewas bersama 52 korban serangan mereka.

Dua bulan setelah kematiannya, stasiun televisi Al Jazeera, menayangkan video Mohammad Sidique Khan yang dia siapkan sebelum melaksanakan serangannya.

Dengan logat Inggris utara yang kental, Sidique Khan, menyampaikan alasan dia meledakkan bom yang pasti akan menewaskan penduduk sipil.

Suasana semakin tegang ketika dua minggu kemudian polisi meringkus komplotan yang juga berusaha melakukan pengeboman.

Kerangka aksi

Pada tanggal 5 Agustus, Perdana Menteri Inggris ketika itu Tony Blair, mengumumkan langkah-langkah yang dia sebut sebagai kerangka aksi menyeluruh untuk melawan ancaman teroris di Inggris Raya.

Dalam pidatonya Blair, Tony Blair, berusaha memisahkan mayoritas komunitas Muslim Inggris yang berjumlah sekitar 1,6 juta jiwa, dengan segelintir orang yang melakukan serangan ini.

"Masyarakat Muslim, harus saya tekankan di sini, selama ini menjadi mitra kami dan terus menjadi mitra kami," katanya.

Menurut Blair, desakan untuk bertindak keras membasmi ekstremisme justru paling kuat datang dari kalangan Muslim sendiri yang sangat risau bahwa tindakan sekelompok orang fanatik di pinggiran merusak reputasi bagus sebagian besar komunitas Muslim di Inggris.

Tetapi dalam langkah-langkah yang disebut Tony Blair, jelas bahwa yang menjadi sasaran adalah kelompok dan individu Muslim yang oleh pemerintah Inggris dipandang sebagai calon pelaku terorisme, atau ideologi yang dipandang sebagai inspirasi terorisme.

Tidak semua langkah yang disebut Tony Blair ketika itu, seperti pelarangan terhadap Hizb-ut Tahrir jadi dilakukan. Akan tetapi pidatonya menggambarkan luasnya tindakan yang diambil pemerintah Inggris setelah tahun 2005.

Bukan satu-satunya

Serangan 7 Juli 2005 bukan satu-satunya komplotan yang dilakukan oleh warga Muslim Inggris.

Seperti diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri saat itu, John Reid, pada tahun 2006 dinas rahasia Inggris membongkar komplotan untuk meledakkan sejumlah pesawat di atas Laut Atlantik dengan menggunakan bahan peledak cair.

Sidang atas para anggota komplotan ini masih berlangsung.

Tahun 2007, sebuah mobil jeep ditabrakkan ke bandar udara Glasgow.

Data departemen dalam negeri Inggris menunjukkan bahwa sejak peristiwa 11 September 2001, sekitar 1.200 ditangkap atas sangkaan terorisme, 669 kemudian dibebaskan, 114 sedang menunggu sidang, dan 41 yang dihukum karena terbukti terlibat terorisme.

Ketua organisasi Islamic Human Rights Commission, Massoud Shadjareh, berpendapat angka ini menunjukkan bahwa tindakan aparat pemerintah Inggris selama ini meleset dari sasaran.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena penangkapan itu kan berdasarkan informasi intelijen," katanya.

"Ternyata cuma 6% yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Kepercayaan kami terhadap aparat keamanan menjadi goyah," ujar Shadjareh.

Orang-orang yang sudah lama ditahan ternyata tidak bersalah.

Dan Polisi sampai dua kali menggunakan senjata api berdasarkan undang-undang antiteror dan ternyata dua-duanya tidak bersalah.