Mahasiswa Unhas dirisak karena mengaku non-biner, 'para pendidik seharusnya perbarui ilmu tentang gender'

gender

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, (Foto ilustrasi) Aktivis dan konsultan gender, Tunggal Pawestri, meyakini di masa mendatang, akan makin banyak anak muda yang terang-terangan mengidentifikasi gendernya sebagai non-binary.
Waktu membaca: 5 menit

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi diminta menjamin keselamatan dan kesehatan mental para mahasiswa yang menyatakan bagian dari kelompok minoritas gender.

Desakan itu disampaikan aktivis gender usai seorang mahasiswa baru mengalami perisakan terbuka oleh seorang dosen di Universitas Hasanuddin. Kejadian itu terjadi setelah sang mahasiswa mengaku sebagai gender netral atau non-biner.

Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, telah menyampaikan permintaan maaf atas perbuatannya kepada mahasiswa itu. Dia berkata, perguruan tinggi yang dipimpinnya inklusif untuk semua orang.

Aktivis dan konsultan gender, Tunggal Pawestri, mengaku takjub dengan keberanian mahasiswa baru di Universitas Hasanuddin, Muhammad Nabil, yang mengungkap identitas gendernya—yang bagi beberapa orang masih dianggap tabu.

Ini dianggap tabu lantaran beberapa orang tidak terbiasa dengan kategorisasi kelompok gender non-biner yang dianggap menyimpang.

Namun yang disayangkan, kata Tunggal, keberanian mahasiswa tersebut berujung pada perisakan secara terbuka oleh Wakil Dekan III Fakultas Hukum Unhas.

Dalam potong video yang viral di media sosial, sambungnya, sang dosen terkesan menekan dan memaksa Nabil untuk memilih salah satu gender antara perempuan dan laki-laki. Dosen itu lalu mengusir Nabil dari acara pengenalan mahasiswa baru di Fakultas Hukum.

"Saya miris melihat video itu, saya melihatnya semacam perisakan terbuka dari seseorang yang punya otoritas terhadap muridnya. Sebagai pendidik harusnya dosen berlaku dengan baik kepada anak didiknya," kata Tunggal.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

Perisakan berikutnya datang dari warganet di media sosial yang mengarah pada tuduhan bahwa mahasiswa baru itu memiliki orientasi seksual sesama jenis yang menjurus ke kelompok LGBT.

Seperti yang disampaikan oleh akun @cikfenn, "agak kurang sepemahaman dengan orang-orang yang menormalisasi hal yang mereka sebut perbedaan tapi menurut aku itu lebih ke penyimpangan."

Lalu akun @al_mhiii yang mencuit, "drop out karena gender sangat waras lah karena dosen tersebut sekaligus memberi pelajaran ke kita umumnya khususnya ke mahasiswa Unhas kalau hal semacam itu tidak ada toleransi dan sangat dikecam di Indonesia yang negara normal, apalagi di universitas tempatnya orang yang bisa berpikir waras."

Kemudian akun @PondokMunzir yang mengatakan, "kalau gaya mahasiswa seperti ini, sudah benar dosennya. Jangan sok-sokan sudah jadi anak Unhas, sok kritis, tidak ada etika, apalagi ngaku biner. Perlu ketegasan memang. Unhas tidak memaklumi hal-hal begini, mau bawa-bawa adat atau budaya Bissu pun, Unhas tetap ada aturan."

Menurut Tunggal, segala tuduhan dan perundungan itu ngawur.

"Itu kan beda, ada identitas gender dan orientasi seksual. Yang dia (mahasiswa Unhas) sebutkan adalah identitas gender. Kalau gay itu kan orientasi seksual apakah dia tertarik kepada laki-laki? Which is oke juga enggak ada masalah," ujar Tunggal Pawestri kepada BBC News Indonesia, Rabu (24/8).

gender

Sumber gambar, YUSUF WAHIL/AFP VIA GETTY IMAGES

Keterangan gambar, Non-binary atau gender netral adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan seseorang yang tidak mengidentifikasi dirinya secara eksklusif sebagai laki-laki atau perempuan.

Tunggal menilai peristiwa itu juga menunjukkan para pendidik di Indonesia justru tidak mengikuti dan memahami perkembangan ilmu pengetahuan soal keragaman gender dan seksualitas.

Padahal, kata dia, anak muda dari generasi Z sudah lebih terbuka pada keragaman gender seiring dengan banyaknya informasi berhamburan di internet.

"Sekarang makin banyak anak-anak muda mengidentifikasi dirinya sebagai non-biner karena mereka tahu itu lebih pada konstruksi sosial. Apalagi mereka ini melek internet," kata Tunggal.

"Jadi pengajar harusnya relaks saja dan memperbarui pengetahuan tiap waktu. Kalau namanya pendidik, punya kewajiban untuk memperbarui setidaknya ilmunya terkait isu-isu gender."

Tunggal meyakini di masa mendatang akan makin banyak anak muda yang terang-terangan mengidentifikasi gendernya sebagai non-biner.

Dan karena tak bisa dielakkan, dia berharap Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi memastikan para mahasiswa ini tidak mengalami perundungan di lingkungan kampus.

Kalaupun mengalami perundungan, pelakunya yang harus diperiksa.

"Harus jelas pelakunya bisa dari kelompok garis keras di dalam kampus atau dosen yang memiliki pikiran konservatif," ucapnya.

Pendamping: Kondisi mentalnya sempat terpuruk

Perwakilan dari Yayasan Pemerhari Masalah Perempuan Sulawesi Selatan, Alita Karen, mengatakan perisakan itu membuat kondisi mental dan psikis Muhammad Nabil terpuruk karena takut dikeluarkan dari kampus. Apalagi potongan video itu viral di media sosial.

"Kondisi psikologisnya pada saat viral turun. Tapi setelah mendapat dukungan, dalam artian kebebasan dia untuk tetap melanjutkan kuliah, keinginan dia untuk mencapai cita-citanya lewat Fakultas Hukum Unhas tetap terlaksana, dia merasa tenang," kata Alita Karen kepada wartawan Muhammad Aidil yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (25/8).

Alita juga mengeklaim tidak ada tekanan dari kampus kepada penyintas untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Dia memastikan, kasus ini sudah selesai setelah kedua belah pihak bertemu dan berbicara dari hati ke hati.

Kini Muhammad Nabil sudah kembali belajar di kampus. Namun begitu pihaknya akan tetap mendampinginya untuk memastikan tidak ada tindakan intimidasi oleh pihak manapun.

"Itu yang kami jaga, itu yang kami perkuat. Tapi terkait apapun pilihannya [non-biner], bukan ranah kami untuk masuk ke sana."

Bagaimana tanggapan kampus?

Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, meminta maaf atas apa yang terjadi pada mahasiswa barunya itu dan menegaskan perguruan tinggi yang dipimpinnya inklusif untuk semua orang.

"Unhas inklusif ya. Bahwa Unhas terbuka untuk semua, iya. Tapi tentu, kita juga terbuka peluang untuk ada hal-hal sedikit selip, akan kita perbaiki. Kita minta maaf kalau perlu," ujar Jamaluddin kepada wartawan pekan lalu.

Dia juga menjelaskan tidak ada pengusiran oleh Wakil Dekan III Fakultas Hukum Unhas. Baginya kejadian saat acara pengenalan mahasiswa baru tersebut sesuatu yang biasa dalam proses belajar di kampus.

"Saya kira bukan pengusiran, itu kan bahasa-bahasa biasalah dalam penerimaan mahasiswa baru itu suara-suara keras."

gender

Sumber gambar, DETIK.COM

Keterangan gambar, Di Indonesia keragaman gender nampak pada Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Yakni orawane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calalai (perempuan yang berpenampilan sangat maskulin), calabai (laki-laki yang feminin), dan bissu (perpaduan semua gender).

Adapun Wakil Rektor I Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Unhas, Muhammad Ruslin, menyebut persoalan itu sudah diselesaikan. Tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut terkait proses penyelesaian yang dimaksud.

Sementara itu Dekan Fakultas Hukum Unhas, Hamzah Halim, menjamin tidak ada diskriminasi terhadap mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

"Sebagai pimpinan saya bilang, saya menggaransi Anda (Muhammad Nabil) kalau ada yang memperlakukan Anda diskriminasi di Fakultas Hukum saya jaminannya," kata Hamzah.

Apa itu gender non-biner?

Aktivis dan konsultan gender, Tunggal Pawestri, menjelaskan non-biner atau gender netral adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan seseorang yang tidak mengidentifikasi dirinya secara eksklusif sebagai laki-laki atau perempuan.

Seseorang, kata dia, bisa menentukan atau mengidentifikasi gendernya sendiri berdasarkan rasa.

"Kalau bicara identitas gender itu sebenarnya soal rasa, bagaimana seseorang dia merasa lebih pas masuk ke dalam kategori identitas gender yang mana? Tidak ada urusannya sama sex atau jenis kelamin."

Non-binary, paparnya, terpisah dengan orientasi seksual maupun jenis kelamin.

Di Indonesia keragaman gender nampak pada Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Yakni orawane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calalai (perempuan yang berpenampilan sangat maskulin), calabai (laki-laki yang feminin), dan bissu (perpaduan semua gender).

"Jadi spektrum identitas gender itu sangat cair," ucapnya.