Hepatitis akut: 'Terlalu dini' jadi pandemi, tapi bisa picu masalah kesehatan baru kalau 'salah kelola' dan 'anggap enteng'

hepatitis akut

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi: Seorang ibu merawat anaknya yang menderita diare karena kondisi sanitasi yang buruk di rumah mereka setelah banjir selama seminggu di di Jakarta, 14 Februari 2007.

Kementerian Kesehatan melaporkan telah menemukan 18 dugaan kasus Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya. Sebanyak tujuh dari 18 pasien tersebut telah meninggal dunia, namun belum dipastikan apakah mereka meninggal karena penyakit Hipertensi Akut atau ada faktor lainnya.

Hal itu dipaparkan Juru Bicara Kementerian Kesehatan sekaligus Direktur Utama RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, dr Mohammad Syahril, Sp.P, MPH dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (13/05).

Mohamad Syahril mengungkapkan 18 dugaan kasus Hepatitis Akut tersebut berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Mayoritas kasus berada di DKI Jakarta dengan 12 kasus.

Dari 18 kasus tersebut, tujuh kasus masuk status pending classification, tujuh discarded, satu dalam proses verifikasi dan satu probable.

Tujuh kasus discarded terdiri dari satu orang positif Hepatitis A, satu orang positif Hepatitis B, satu orang positif Tifoid, dua orang demam berdarah dengue, dua lainnya berusia lebih dari 16 tahun.

hepatitis akut

Sumber gambar, Kemenkes RI

Mohamad Syahril menambahkan, gejala-gejala yang ditemukan pada pasien dugaan Hepatitis Akut mencakup demam, mual, muntah, hilang nafsu makan, diare akut, lemah, nyeri bagian perut, nyeri pada otot dan sendi, kuning di mata dan kulit, gatal-gatal, dan urine seperti air teh.

"Meski gejala yang ditemukan mengarah pada Hepatitis Akut namun belum bisa dipastikan pasien menderita Hepatitis Akut, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut," terangnya.

Selain itu, dari hasil investigasi kontak tidak ditemukan adanya penularan langsung dari manusia ke manusia.

Baca juga:

Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat edaran bagi rumah sakit dan dinas kesehatan dan rumah sakit di daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan, menyusul kian bertambahnya kasus suspek hepatitis akut di berbagai daerah di Indonesia.

Namun, para pakar epidemiologi mempertanyakan rencana aksi pemerintah Indonesia untuk memitigasi risiko penyakit misterius, yang kendati belum tentu menjadi pandemi baru, namun dikhawatirkan memicu krisis kesehatan baru jika tidak ditanggapi dengan serius.

"Bayangkan, ada 30 juta anak Indonesia yang belum eligible (memenuhi syarat) untuk mendapatkan vaksinasi. Misalnya 10% saja dari itu terjadi kerusakan hepar yang semi-permanen saja, itu akan mengurangi kualitas SDM manusia Indonesia ke depan," ujar pakar epidemiolog dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman kepada wartawan BBC News Indonesia, Ayomi Amindoni, Selasa (10/08).

"Adanya kematian itu adalah indikator telat kita mendeteksi, telat kita merespons dalam melakukan treatment perawatan. Artinya, itu harus dicegah dengan menguatkan surveillance dan deteksi dininya," lanjut Dicky.

Sementara itu, Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan pemerintah perlu melakukan "penyelidikan epidemiologis mendalam untuk mendeteksi pola penularan".

Kementerian Kesehatan menyatakan terus melakukan upaya investigasi dengan melakukan analisis pathogen menggunakan Whole Genome Sequencing (WGS) maupun penyelidikan epidemiologi lebih lanjut untuk memastikan penyebab dari kejadian Hepatitis Akut.

'Gejala lebih berat dan bersifat akut'

Seorang bayi berusia dua bulan di Solok, Sumatra Barat, meninggal dunia diduga karena "hepatitis misterius", setelah sebelumnya sempat dirawat di Puskesmas selama beberapa hari.

Kondisi yang semakin parah, membuatnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Hermina, Padang.

Bayi itu meninggal pada 2 Mei 2022 silam.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Sumatra Barat, Finny Fitry Yani menjelaskan bahwa kondisi bayi itu memburuk dengan sangat cepat.

"Dia demam beberapa hari, tiga hari kalau tidak salah, kemudian muntah dan diare. Lalu hari keempat [sakit] kuning, dan langsung berat, kejang dan tekanan darahnya menurun. Jadi sampai di [Rumah Sakit] Hermina itu [kondisinya] sudah berat dan itu cepat sekali perjalanannya," ungkap Finny, Selasa (10/05).

hepatitis akut

Sumber gambar, AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Foto ilustrasi. Sebanyak 15 kasus hepatitis akut misterius telah ditemukan di Indonesia sejak 27 April 2022.

Kepala Dinas Sumatra Barat, Lila Yanwar membenarkan bahwa gejala yang dialami oleh bayi tersebut, serupa dengan gejala yang dialami anak-anak yang terjangkit hepatitis, "tapi cenderung lebih berat dan bersifat akut".

"Akut itu sifatnya mendadak, berat, dan biasanya menyerang anak umur 0-16 tahun."

Namun, kata Lila, penyakit itu dikategorikan sebagai hepatitis of unknown (tidak diketahui) karena setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata tidak cocok dengan hepatitis A, B, C dan E yang sudah ada selama ini.

"Jadi mungkin digarisbawahi bahwa kasus tersebut kita tidak sampaikan sebagai kasus positif tapi gejalanya mirip, jadi diduga," kata Lila.

Lila menambahkan diperlukan pemeriksaan laborotorium untuk mendapatkan diagnosa pasti.

Pemeriksaan untuk diagnosa pasti, kata Lila, hanya dapat dilakukan di laboratorium milik FKUI (Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia) dan Rumah Sakit Sulianti Saroso yang keduanya berlokasi di Jakarta.

Baca juga:

Selain di Solok, bocah berusia tujuh tahun di Tulungagung, Jawa Timur juga meninggal dunia dengan gejala identik hepatitis misterius yang belum diketahui penyebabnya tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Kasil Rohkmat menyatakan konfirmasi positif ini sesuai dengan kriteria Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia.

Kriteria itu antara lain gejala penyakit kuning, berusia di bawah 10 tahun dan tidak ada penyebab lain. Gejala yang muncul adalah demam, diare, urine berwarna lebih pekat dan feses berwarna pucat.

Kematian dua anak di Sumatra Barat dan Jawa Timur ini menambah daftar anak-anak yang meninggal dunia diduga karena penyakit misterius itu.

Penyakit fatal

Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan, jika anak-anak yang meninggal ini terkonfirmasi sebagai kasus hepatitis misterius, itu menunjukkan bahwa kasus hepatitis akut misterius di Indonesia sebenarnya itu lebih besar.

"Ini artinya ada angka yang bisa berkali-kali lipat lebih besar di komunitas yang tidak terdeteksi," kata Dicky.

Menurutnya, angka kematian tidak bisa diabaikan karena meskipun kematian akibat penyakit hepatitis akut ini satu persen dari total jumlah kasus di level global, ada 10 persen dari kelompok ini yang memerlukan transplantasi hati.

"Yang kalau tidak segera dideteksi dan segera mendapat layanan yang memadai, kematian itu bisa lebih tinggi, bukan hanya satu persen. Kalau tidak tertangani, itu fatal," tegasnya.

hepatitis akut

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Kader PKK mengukur berat badan bayi di Posyandu Bougenvile, Pemancar, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/4/2022). Epidemiolog khawatir Indonesia bisa sangat rawan terhadap hepatitis akut lantaran kasus gizi buruk dan stunting anak di bawah usia lima tahun meningkat sejak pandemi.

Adapun, pada Senin (09/05), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan setidaknya 15 anak Indonesia terjangkit hepatitis akut misterius, satu pekan setelah tiga kasus pertama terjadi di Indonesia pada 27 April lalu.

Hingga kini, WHO mencatat sekitar 230 kasus hepatitis akut misterius di 20 negara di dunia. Kasus terbanyak terjadi di Inggris dengan 115 kasus.

Setidaknya 16 anak, atau 10% dari total kasus global, harus menjalani transplantasi hati.

Mitigasi risiko

Merespons kasus hepatitis akut misterius yang terjadi di seluruh dunia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan telah "mengeluarkan surat edaran agar semua rumah sakit dan dinas kesehatan melakukan surveillance (pengawasan)" ketika kasus pertama diumumkan pada akhir April lalu.

Namun bagi pakar epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, pengawasan saja tidak cukup.

"Belum [cukup]. Karena begini, walaupun pendeteksian itu ada, tapi karena hepatitis ini epidemi, bahkan silent (diam-diam) lagi. Jadi ketika surveillance ditingkatkan, menemukan kasus hepatitis itu akan banyak sekali.

"Tapi yang jadi permasalahan berikutnya adalah bagaimana memilah dan memilih mana yang memang termasuk by definition hepatitis akut yang belum jelas etiologinya ini," jelas Dicky.

Baca juga:

Sayangnya, menurut Dicky, tidak semua daerah di Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.

Selain itu, tak semua daerah memiliki kemampuan melakukan tes untuk lima jenis strain hepatitis.

Di tengah keterbatasan itu, "pemerintah harus melakukan satu langkah terobosan", tegas Dicky.

"Artinya memperkuat sistem layanan kesehatan, setidaknya di level provinsi ada satgas (satuan tugas) di dinas kesehatan yang bisa membantu daerah-daerah untuk bisa mendeteksi ini dengan segala keterbatasan itu."

Ia pula menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak bisa menganggap remeh penyakit misterius ini, sebab jika tidak direspons dengan serius maka akan memicu tidak hanya krisis kesehatan yang lebih besar, tapi juga krisis sumber Daya manusia (SDM).

"Bayangkan, ada 30 juta anak Indonesia yang belum eligible (memenuhi syarat) untuk mendapatkan vaksinasi. Misalnya 10 % saja dari itu terjadi kerusakan hepar (hati) yang semi-permanen saja, itu akan mengurangi kualitas SDM manusia Indonesia ke depan," cetus Dicky.

Apa langkah pemerintah Indonesia?

Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan pemerintah perlu melakukan "penyelidikan epidemiologis mendalam untuk mendeteksi pola penularan".

Adapun Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan saat ini pihaknya telah melakukan lima penyelidikan epidemiologis, namun hingga kini belum menemukan pola penyebaran penyakit tersebut.

Ia menambahkan, status kasus-kasus yang terjadi di Indonesia sampai saat ini masih suspek dan belum bisa dikategorikan secara pasti sebagai hepatitis akut, namun baru dikategorikan sebagai pending classification.

Sebab, pemeriksaan laboratorium harus dilakukan, terutama pemeriksaan adenovirus dan pemeriksaan hepatitis E yang membutuhkan waktu antara 10-14 hari ke depan.

Siti Nadia Tarmizi

Sumber gambar, Ayomi Amindoni

Keterangan gambar, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan saat ini pihaknya telah melakukan lima penyelidikan epidemiologis, namun hingga kini belum menemukan pola penyebaran penyakit tersebut.

Selain surat kewaspadaan yang dikirimkan pada dinas kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa semua kasus yang terkait dengan adanya sindrom kuning itu belum dikategorikan sebagai diagnosa pasti.

Karena ada pemeriksaan yang harus dilakukan dengan genom sequencing untuk mengetahui secara pasti bahwa penyakit itu bukan hepatitis A dan E.

Selain itu, pemerintah juga melakukan penguatan fasilitas kesehatan dengan adanya rujukan rumah sakit untuk penangangan hepatitis akut yang berat, seperti Rumah Sakit Sulianti Saroso di Jakarta, termasuk pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosa pasti terkait penyebab hepatitis berat ini.

hepatitis akut

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Kader PKK mengukur lingkar kepala balita di Posyandu Bougenvile, Pemancar, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/4/2022). Epidemiolog khawatir Indonesia bisa sangat rawan terhadap hepatitis akut lantaran kasus gizi buruk dan stunting anak di bawah usia lima tahun meningkat sejak pandemi.

Di Sumatra Barat, Rumah Sakit Djamil di Padang ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan hepatitis akut menyusul ditemukannya kasus suspek hepatitis akut yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUP M Djamil Padang, Bestari Jaka Budiman mengatakan pihaknya sudah menyiapkan ruangan ICU (Intensive Car Unit), NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan ruang perawatan.

"Ada delapan ruangan isolasi yang disiapkan untuk pasien dugaan hepatitis misterius ini," jelas Bestari.

Bestari menambahkan, pihaknya juga membentuk tim khusus penanganan dari dokter spesialis anak dan dibantu oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar.

Akankan jadi pandemi baru?

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga Aditama menganggap "terlalu dini" untuk menganggap hepatitis akut misterius ini sebagai pandemi baru.

Tjandra menjelaskan, secara global, kasus pertama hepatitis akut ini terjadi pada 5 April lalu. Namun diperkirakan, kasus yang sebenarnya telah terjadi sebelumnya.

Kendati WHO mengkategorikan penyakit baru ini sebagai outbreak atau wabah, namun menurut Tjandra bukan berarti penyakit itu akan berkembang menjadi pandemi.

"Apalagi kalau kita lihat dari tahun 2020 sampai sekarang, mungkin sudah ada 200 penyakit yang sudah outbreak tapi yang jadi pandemi hanya Covid-19, yang lain tidak," tegas Tjandra.

hepatitis akut

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Foto ilustrasi. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan tiga kasus suspek hepatitis akut ini dilaporkan pada Selasa (3/5) oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Merujuk pada pandemia Covid-19, Tjandra menjelaskan bahwa kasus Covid-19 pertama kali diinformasikan pertama kali pada 31 Desember 2019.

Pada 5 Januari, WHO melaporkan pada publik tentang penyakit baru tersebut dan kasusnya terus meningkat setelah itu.

Covid-19 baru diumumkan sebagai pandemi pada 11 Maret 2020, atau tiga bulan setelah kasus pertama dilaporkan.

"Jadi masih panjang perjalanan untuk melihat kasus ini dan saya kira terlalu dini kalau kita mengatakan bahwa ini akan menjadi pandemi," cetus Tjandra.

Sementara itu, epidemiolog Dicky Budiman mengungkapkan bahwa penyakit hepatitis akut ini memiliki potensi untuk menjadi epidemi atau wabah yang terjadi pada suatu kawasan, tapi menurutnya, "tidak mungkin" menjadi pandemi baru.

Baca juga:

Salah satu karakter dari pandemi, kata Dicky, selain dikategorikan sebagai emerging disease (penyakit baru), penyakit itu adalah penyakit yang belum dimiliki imunitasnya oleh manusia secara global.

Sehingga, penyakit itu tidak pandang bulu menyerang semua populasi, dan usia.

"Berbeda dengan hepatitis ini, kita melihat ini lebih rawan timbul pada anak. Kita memiliki hipotesa bahwa ada faktor yang membuat orang dewasa tidak terpapar. Itu berarti potensi ke arah pandemii itu mengecil."

Dicky memperkirakan penyakit hepatitis berat yang belum diketahui penyebabnya ini berkaitan dengan imunitas anak terhadap virus Covi-19, kendati ini harus dibuktikan secara ilmiah.

"Karena yang terpapar ini adalah umumnya anak dibawah lima tahun yang belum divaksin," cetus Dicky.

Ubah perilaku, lebih sehat dan displin

Lebih lanjut, Dicky mengungkapkan bahwa gejala penyakit hepatitis misterius itu hampir sama dengan gejala penyakit hepatitis yang sudah ada. Upaya pencegahannya pun tak jauh będą, yakni kebersihan dan kesehatan perorangan (personal hygiene).

"Personal hygiene itu bukan hanya cuci tangan saja, tapi juga ketika BAB karena hepatitis ini fecaloral," ungkap Dicky.

Fecal oral adalah penularan melalui mulut dari benda, makanan, atau makanan yang terkontaminasi kotoran orang yang terinfeksi virus hepatitis.

hepatitis akut

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Foto ilustrasi. Orangtua di Jakarta cemas dengan penyakit hepatitis akut yang baru terdeteksi di Indonesia, di tengah sekolah tatap muka sudah diberlakukan kembali.

Salah satu yang paling kunci, kata Dicky, adalah meningkatkan protokol kesehatan.

Tak hanya dalam respons covid, protokol kesehatan yang ketat juga penting untuk banyak penyakit, seperti hepatitis dan influenza.

"Itu yang bisa dan harus dilakukan di tiap-tiap rumah tangga, karena bicara personal hygiene ini juga bicara family hygiene dan community hygiene," kata Dicky.

Apalagi, dalam waktu dekat anak-anak sudah harus kembali ke sekolah. Jadi, selain melakukan protokol kesehatan yang ketat, kebersihan dan kesehatan perorangan juga harus dijaga.

"Ini bukti bahwa kita harus berubah perilakunya, lebih sehat dan lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Kerawanan anak-anak itu ditentukan oleh perilaku orang-orang dewasa di sekitarnya," cetus Dicky.

Laporan tambahan oleh Albert Chaniago, wartawan lepas di Padang, Sumatra Barat.