Banjir Jakarta, Banten dan Jabar: Korban meninggal 60 orang, hujan ekstrem 'masih akan turun'

Waktu membaca: 7 menit

Jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor yang melanda Jakarta, Banten dan Jawa Barat bertambah menjadi 60 orang, dua orang masih dinyatakan hilang, kata Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pada Minggu (05/01) pagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini, yang ditindaklanjuti oleh BNPB dengan mengeluarkan imbauan, khusunya bagi warga di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya.

"Ke depan masih ada potensi hujan ekstrem. Kami imbau, warga yang masih terkena banjir untuk tetap berada di pengungsian, khususnya di daerah-daerah di mana air masih tinggi," kata juru bicara BNPB, Agus Wibowo, kepada BBC News Indonesia, hari Minggu.

"Kemarin kami ke perumahan Pondok Jati Permai di Jati Asih, Bekasi. Di sana masih ada genangan air setinggi 60 sentimeter," kata Agus.

Dengan prediksi adanya hujan ekstrem untuk beberapa waktu ke depan, ada kemungkinan air akan naik.

Hujan dan longsor di Provinsi Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejauh ini menyebabkan 60 orang meninggal dunia.

Menurut keterangan BNPB, korban jiwa di Jakarta dan Bogor masing-masing 16 orang, Kota Bekasi dan Lebak masing-masing sembilan orang, dan sisanya di Kota Bogor, Kota Depok, Tangerang, Tangerang Selatan dan Bekasi.

"Terjadi penambahan jumlah korban di Kabupaten Lebak," ujar Agus.

Hingga Minggu (05/01) jumlah pengungsi berkurang menjadi sekitar 92.000 orang.

Agus mengatakan pengungsi di beberapa wilayah mengalami penurunan, karena telah kembali ke rumah masing-masing.

Sehari sebelumnya, jumlah pengungsi 173.050 orang.

Data dari Kementerian Sosial menyebutkan korban meninggal termasuk tenggelam dan terseret banjir di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang dan terkena longsor di Depok.

Ketua BNPB Doni Monardo meminta warga yang tinggal di daerah aliran sungai di Jakarta untuk mengungsi.

"Sebagaimana data yang sudah disampaikan BMKG curah hujan tinggi maka kawasan ini harus segera dikosongkan, jangan biarkan saudara kita masih bertahan di daerah-daerah yang jaraknya dengan bibir sungai sangat dekat karena tiba-tiba saja air bah bisa datang dan tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri," kata Doni.

Pada Kamis (02/01), data BNPB menyebutkan tinggi permukaan air di sejumlah tempat di Jakarta sangat tinggi, termasuk di Manggarai.

Puluhan ribu orang diungsikan ke tempat-tempat penampungan sementara di ibu kota dengan menggunakan perahu karet dalam banjir terparah sejak 2013 ini.

Gambar-gambar dari sejumlah tempat dari 41 titik yang tergenang di ibu kota menunjukkan rumah-rumah terendam sampai atap rumah dan mobil-mobil terseret arus banjir.

Curah hujan tinggi yang melanda Jakarta dan sekitarnya, menurut BMKG, baru akan mencapai puncaknya pada pertengahan Januari dan berlangsung sampai awal Maret.

Salah seorang korban di Jakarta termasuk seorang remaja pria berusia 16 tahun karena tersengat listrik di Kemayoran dan tiga lainnya karena kedinginan, kata BNPB.

"Jenazah anak saya ditutupi dengan koran saat dua anak saya yang lain lewat," kata Farid, yang menyebut diri sebagai ayah dari remaja 16 tahun itu.

"Orang-orang bertanya ada yang kenal dengan korban. Bila anak-anak saya tidak lewat, kami tidak tahu putra saya meninggal," kata Farid seperti dikutip AFP.

Korban lain termasuk pasangan lanjut usia yang kedinginan setelah terperangkap di rumah mereka di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, yang terendam air setinggi empat meter, akibat meluapnya sungai.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan menyatakan Rabu (01/01), "19.079 orang (yang mengungsi) ditangani sepenuhnya oleh Pemprov DKI Jakarta."

Namun data warga yang mengungsi ini belum termasuk mereka yang tinggal di wilayah Jabodetabek.

Evakuasi warga yang tinggal di wilayah tergenang dilakukan oleh tim terpadu termasuk Palang Merah Indonesia.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengatakan mereka memadamkan sementara listrik di 724 wilayah yang terkena banjir, "Demi keselamatan masyarakat agar terhindar dari bahaya arus listrik."

Curah hujan "mencapai rekor tertinggi" di sejumlah wilayah ibu kota, termasuk Halim, dan di seputar Taman Mini, Jakarta Timur, menurut Kepala BNPB, Doni Monardo yang meninjau wilayah banjir melalui udara hari Rabu (01/01).

Kepala Pusat Meteorologi Publik, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, (BMKG), Fachri Radjab, mengatakan puncak hujan "kita perkirakan di pertengahan Januari hingga awal Maret nanti".

Presiden Joko Widodo mengatakan melalui Twitter pada Rabu (01/01), telah memerintahkan "semua jajaran terkait, untuk bergerak bersama-sama menyelamatkan warga, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat."

Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya juga sempat mengganggu aktivitas Bandara Halim Perdana Kusumah, namun bandara itu kemudian dibuka kembali pada Rabu sore.

Gubernur Jakarta, Anies Baswesdan, mengatakan bahwa pemerintah provinsi mengambil sikap bertanggung jawab atas banjir yang melanda Jakarta.

"Kita hadapi dan kita selesaikan masalah yang ada sekarang ini dengan sebaiknya-baiknya ... semoga kita bisa menanggulangi banjir ini sesegera mungkin," kata Anies kepada para wartawan.

Ia juga meminta agar masyarakat mendapatkan informasi yang valid dan akurat soal banjir, namun ia tidak memerinci lebih jauh.

Menurut BMKG, hujan dengan intensitas sedang-lebat yang mengguyur Jakarta sejak Selasa (31/12) malam belum merupakan puncak musim hujan.

"Puncaknya kita perkirakan di pertengahan Januari hingga awal Maret nanti," ujar Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Fachri Radjab, kepada BBC News Indonesia.

Hujan tanpa henti yang mengguyur ibu kota Jakarta sejak malam pergantian tahun menyebabkan genangan air setinggi 30 sentimeter hingga satu meter.

"Di Jakarta Timur, di Kampung Arus, itu mungkin yang agak dalam," ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Subejo, melalui sambungan telepon (01/01).

Dari data yang dihimpun timnya, Subejo menuturkan bahwa air menggenangi berbagai titik di hampir seluruh wilayah Jakarta dengan ketinggian bervariasi.

"Jakarta Timur ada 10 titik lokasi yang kita lakukan evakuasi dengan perahu karet, kemudian ada di Pangadegan, Pancoran, terus Rawajati juga di Jakarta Selatan," tuturnya.

Selain itu, kawasan Kebon Jeruk dan Tanjung Duren di Jakarta Barat, Kelapa Gading di Jakarta Utara dan Bendungan Hilir di Jakarta Pusat juga terdampak banjir.

Dampak banjir

Sejumlah kawasan permukiman di Jakarta dan sekitarnya terendam banjir dengan ketinggian beragam.

Di Perumahan Mahkota Simprug, Tangerang, air menggenangi jalanan hingga masuk ke rumah-rumah warga dengan tinggi sekitar 20-30 sentimeter.

Pada Kamis (02/01) banjir di kawasan sudah surut.

Pada Rabu (01/01), di Bendungan Hilir, seperti diunggah akun twitter TMC Polda Metro Jaya, banjir menggenang setidaknya 40 sentimeter.

Pada hari tersebut, beberapa ruas jalan ibu kota pun lumpuh untuk sebagian kendaraan, seperti underpass atau terowongan Kuningan yang tak bisa dilalui mobil sedan.

Perjalanan kereta rel listrik (KRL) juga terganggu akibat rel yang digenangi banjir.

Pembicaraan dengan tagar #Banjir sendiri hingga Rabu siang menjadi topik nomor satu di Twitter Indonesia.

Waspada hujan lebat

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Fachri Radjab, mengatakan curah "hujan di atas Jakartanya sendiri tinggi intensitasnya."

Fachri mengingatkan bahwa yang patut diantisipasi adalah hujan lebat yang terjadi dalam satu rentang waktu yang panjang.

"Misalnya dalam periode satu hari tapi hujannya lebat sekali, itu yang perlu diwaspadai."

Sementara itu, Kepala BPBD DKI Jakarta, Subejo, menilai penyebab banjir bukan hanya intensitas hujan yang tinggi.

"Tambahan dari luapan Sungai Ciliwung juga ada, sehingga ada beberapa lokasi di Jakarta yang memang tergenang air banjir," katanya.

Hingga saat ini pihaknya masih melakukan evakuasi warga dan mendata jumlah korban, baik warga maupun tempat tinggal yang terendam banjir.

Warga pun diungsikan ke tempat-tempat pengungsian seperti masjid dan sekolah terdekat.

Ia memastikan bahwa bantuan telah disiapkan karena pihaknya telah mengantisipasi bencana banjir tersebut.

"Otomatis nanti sudah langsung kita drop (turunkan) juga untuk bantuan kebutuhan dasarnya," katanya.

Hujan lebat di hampir seluruh Indonesia

Menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik, BMKG, Fachri Radjab, intensitas hujan sedang-lebat juga mengintai wilayah lain di Indonesia.

"Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan," ujarnya.

Beberapa daerah yang menurutnya patut mengantisipasi hujan dengan intensitas tinggi yaitu:

- Sumatera: Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung

- Sebagian besar Jawa

- Kalimantan: bagian barat dan utara

- Sulawesi: Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara

- Gorontalo

- Papua bagian tengah

BMKG memprediksi musim hujan baru akan berakhir di penghujung bulan April.

Program normalisasi sungai tak jalan, "tak akan ada perubahan"

Pada akhir April tahun lalu, banjir menyebabkan dua orang meninggal dunia dan lebih dari 2.300 orang mengungsi.

Sementara sepanjang tahun 2018, menurut data dari BPBD Jakarta, dalam 46 kasus banjir, lebih dari 15.600 orang mengungsi.

Saat banjir April 2019, banyak warganet yang mempertanyakan kebijakan Anies Baswedan dalam menanggulangi banjir termasuk dalam normalisasi sungai yang mencakup pembebasan lahan di wilayah bantaran sungai.

Pengamat tata kota Yayat Supriatna mempertanyakan komitmen Anies dalam mengembalikan fungsi sungai Ciliwung sebagai langkah mencegah banjir.

"Kalau Pak Anies tidak mampu melakukan pembebasan tanah terkait berbagai program penanggulangan banjir di Jakarta, jadi tak akan ada perubahan," kata Yayat Rabu (01/01) kepada BBC News Indonesia.