Kematian taruna ATKP Makassar, momentum hapus gaya pendidikan semi-militer?

Makassar

Sumber gambar, DETIKCOM

Keterangan gambar, Aldama Pangkolan meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan kakak angkatannya di ATKP Makassar.
Waktu membaca: 3 menit

Kasus kematian akibat dugaan budaya kekerasan senior-junior di lembaga pendidikan kembali terjadi. Metode pengajaran semi-militer pun didesak dihapus dari lembaga sipil, meski dianggap efektif memicu kedisiplinan.

Kematian Aldama Pangkolan (19), taruna junior di Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP), Makassar, yang diduga disebabkan penganiayaan kakak angkatannya disebut sebagai momentum besar perombakan pendidikan kedinasan bercorak militer.

Pakar pendidikan karakter, Doni Koesoema, menilai kasus kekerasan, bahkan yang berujung kematian, terus berulang di lembaga kedinasan milik pemerintah.

Menurutnya, sistem pendidikan ala militer juga cenderung menelurkan pejabat publik yang otoritatif, bukan abdi negara yang berwatak pelayan masyarakat.

"Harus ada evaluasi menyeluruh, bukan hanya akademi di bawah Kementerian Perhubungan tapi semua pendidikan kedinasan."

"Pendidikan model itu selalu menimbulkan budaya senior-junior, ada tingkatan dan jabatan. Itu bukan model yang baik untuk mencetak pelayan rakyat," ujar Doni, Kamis (07/02).

Penerbangan

Sumber gambar, ANTARAFOTO/AJI STYAWAN

Keterangan gambar, Tenaga terampil pengatur lalu lintas udara dinilai tak perlu dilatih dalam kultur militer.

Namun Direktur ATKP Makassar, Agus Susanto, menilai kematian Aldama yang diduga meninggal dunia karena kekerasan fisik oleh seorang taruna senior tak berkaitan dengan gaya pendidikan di lembaganya.

Agus berkata, akademinya akan terus mengadopsi gaya pendidikan yang mengedepankan kedisiplinan dan keteraturan. Tujuannya, mencetak sumber daya manusia di sektor perhubungan yang sigap mencegah insiden lalu lintas.

"Mereka pada akhirnya harus disiplin, apalagi karena bekerja di penerbangan, bukan bicara menit tapi detik."

"Sebagai pengatur lalu lintas udara, kunci utama adalah disiplin, kalau meleset setengah detik atau ragu-ragu, akan seperti apa yang terjadi," ujarnya.

Aldama meninggal dunia di asrama ATKP Makassar, 3 Februari lalu. Polisi menduga seorang taruna senior, Muhammad Rusdi yang telah ditetapkan sebagai tersangka, menganiaya Aldama karena melanggar ketentuan penggunaan helm.

Polrestabes Makassar menyebut Aldama meninggal dunia dengan luka lebam di dada dan sejumlah bagian tubuh lainnya.

Kasus Aldama menambah daftar kekerasan senior-junior yang berujung kematian di lembaga pendidikan kedinasan milik pemerintah.

Hentikan Instagram pesan
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati Instagram pesan

Januari 2017, siswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta Utara, bernama Amirulloh Adityas Putra meninggal dunia ditangan empat kakak angkatannya. Sama seperti ATKP Makassar, sekolah pelayaran itu juga berada di bawah Kementerian Perhubungan.

Di luar itu, kasus kematian beberapa kali terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Sebelum kematian taruna bernama Dhea Rahma Amanda tahun 2017, setidaknya empat calon pelayan publik meninggal dunia dalam budaya kekerasan senior-junior.

IPDN

Sumber gambar, DETIKCOM

Keterangan gambar, Sejumlah kematian calon abdi negara selama ini kerap terjadi di akademi kedinasan milik pemerintah.

'Sering luka lebam'

Ayah Aldama, Daniel Pongkala, menyebut anaknya tak pernah bercerita tentang budaya kekerasan di ATKP Makassar. Namun ia selalu was-was kerena kerap melihat tubuh Aldama yang terluka.

"Anak saya ini orangnya tertutup. Dia hanya bilang masih aktif karate dan drum band," ujar Daniel kepada wartawan di Makassar, Didit Haryadi, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Kekerasan dia enggak mau cerita padahal kami lihat badannya seperti ada bekas pukulan, bekas tonjokan tapi dia enggak ngaku. Jadi doktrinnya mereka untuk tutup mulut memang kuat," kata Daniel.

Penerbangan

Sumber gambar, DIDIT HARYADI

Keterangan gambar, Daniel yang sehari-hari bekerja sebagai pengawas bandara dari unsur TNI AU berharap Aldama dapat berkarier sebagai pengelola lalu lintas penerbangan.

Daniel berkata, ia memimpikan anaknya bekerja di menara penerbangan Bandara Hasanuddin, Makassar. Pekerjaan itu disebutnya menjanjikan kesejahteraan bagi Aldama.

Kini angan-angan masa depan cerah Aldama sirna. Harapan keluarga agar Aldama bekerja di badan pelayanan navigasi penerbangan, Perum Airnav, tidak akan terwujud.

"Siapa yang tidak takut dengan budaya militer? Setahu kami budaya kekerasan sudah dihapus, mereka hanya memperdalam ilmu sesuai jurusan yang diambil."

"Tamatan ATKP yang melamar di bandara, 99% lulus. Itu yang mendorong kami menyekolahkannya di sana. Tapi seandainya kami tahu akan ada kejadiannya seperti ini, mungkin kami tak akan ke sana," kata Daniel.

Pendidikan

Sumber gambar, DIDIT HARYADI

Keterangan gambar, Kasus dugaan pembunuhan Aldama Pongkala didesak mengubah sistem pendidikan di akademi milik pemerintah.

'Pendidikan ala militer bukan untuk sipil'

Menurut Doni Koesoema, pendidikan semi-militer hanya cocok untuk akademi militer dan kepolisian. Ia berkata, terdapat pedagogi lain untuk melatih mental dan fisik calon pejabat publik.

"Semi-militer tidak punya tempat dalam proses pendidikan. Ini hanya cocok untuk tentara dan polisi. Untuk sipil, harus ada fasilitas untuk melatih hidup sehat dan fisik yang kuat."

"Harus dilihat porsinya, sejauh mana mereka butuh badan sehat dan kedisiplinan, ada latihannya dan tidak mesti dengan semi-militer," kata Doni.

Bagaimanapun, pengola ATKP Makassar berkeras kasus kematian Aldama tak berhubungan dengan metode pendidikan yang mereka terapkan. Kejadian itu dianggap terjadi karena pelaku bersiasat memanfaatkan pengawasan asrama yang longgar.

"Kami punya prosedur, setiap hari ada pengasuh dari TNI dan pegawai sipil yang berjaga selama 24 jam."

"Sebagus apapun aturan, orang pasti melihat celah. Kami sudah berupaya menutup rapat celah potensi terjadinya benturan antartaruna," ujar Agus Susanto.