Telah tiada: Dawam Rahardjo, tokoh Islam yang bahkan pernah 'dipecat' Muhammadyah

Dawam Rahardjo
Waktu membaca: 3 menit

Begitu banyak tokoh Islam moderat di Indonesia, namun sedikit yang seperti Dawam Rahardjo: ia begitu kukuh membela kelompok minoritas, bahkan pernah 'dipecat' oleh PP Muhammadyah.

Dawam wafat di Jakarta, Rabu (30/5) beberapa saat menjelang pukul 22.00, di RS Cempaka Putih. pada usia 76 tahun, setelah menderita beberapa komplikasi penyakit.

Lahir di Solo, Jawa Tengah, 20 April 1942, kepergian Dawam meninggalkan duka dan perasaan kehilangan berbagai kalangan, selain mereka yang pernah dibelanya. Kelompok-kelompok intoleran menudingnya sebagai kaum Islam liberal.

Hamid Basyaib, mantan koordinator Jaringan Islam Liberal menggambarkannya sebagai "Voltaire dari Solo," untuk sikapnya yang teguh dan kukuh dalam membela hak kalangan minoritas seperti Jemaah Ahmadiyah, kelompok Lia Eden, dan banyak lagi.

Dalam catatannya, Hamid menceritakan berbagai pengalaman nyata, khususnya ketika mereka sama-sama bekerja di koran Republika, antara lain Dawam membela Hamid dari tekanan berbagai ormas Islam, untuk tulisannya mengenai meninggalnya penyanyi Nike Ardilla.

Dalam percakapan di telepon pada peristiwa di akhir 1994 itu, kata Hamid, Dawam mengatakan : "Saya mungkin tidak setuju dengan pendapat Anda, tapi hak Anda untuk mengungkapkan pendapat itu akan saya bela sampai mati."

Hentikan Facebook pesan

Konten tidak tersedia

Lihat lebih banyak di FacebookBBC tidak bertanggung jawab atas konten dari situs eksternal

Lompati Facebook pesan

Dan sepuluh tahun kemudian, catat Hamid pula, ia terlibat 'pertengkaran keras' dengan Dawam yang sangat keras membela hak eksistensi kelompok Lia Eden.

Pembelaannya yang tanpa kompromi pada kelompok-kelompok minoritas itu membuat Dawam dianugerahi penghargaan HAM Yap Thiam Hien pada 2013. Namun karena itu pula, ekonom yang pernah jadi pengurus Muhammadyah itu 'dipecat ' oleh salah satu ormas Islam terbesar itu, pada 2006.

Ketua PP Muhammadyah waktu itu, Dien Syamsuddin, mengatakan: "Pak Dawam sudah dipecat secara tidak langsung oleh Muhammadiyah, karena Pak Dawam mengundurkan diri," katanya seperti dikutip Tempo.

"Orang-orang Muhammadiyah sudah menyadari dan tahu bagaimana sepak terjang Pak Dawam akhir-akhir ini," katanya lagi sembari memapar sejumlah 'kesalahan fatal' Dawam Rahardjo. Khususnya sikapnya soal Ahmadiyah.

Pada tahun 2006, Dawam Rahardjo bahkan pernah mengusulkan agar Menteri Agama Maftuh Basyuni diganti. Dalam wawancara dengan Detikcom saat itu, ia mengungkapkan alasannya: "Soalnya menteri agama justru membiarkan kekerasan pada kehidupan beragama, seperti kasus Lia Eden

Ia juga mengatakan posisi menteri agama tidak harus dijabat orang Islam. "Jadi bisa dijabat oleh orang non-muslim," katanya kepada Detik waktu itu.

Hingga wafatnya, Dawam Rahardjo masih menjabat sebagai anggota Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) periode 2015-2020, setelah memimpin lembaga itu pada periode 1995-2000. Ia juga mendirikan dan memimpin Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), dan terlibat dalam begitu banyak lembaga lain.

Lini masa media sosial sejak rabu (30/5) ditandai berbagai ungkapan dukacita dan kenangan terkait wafatnya pemikir Islam ini, juga dari para tokoh Ahmadyah.

Hentikan X pesan, 1
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 1

Hentikan X pesan, 2
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 2

Hentikan X pesan, 3
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 3

Salah satu pikiran Dawam yang mengguncangkan sebagian masyarakat Islam Indonesia, ditulisnya di jurnal yang dipimpinnya, Ulumul Quran edisi 4 volume 5, 1994: "Kebebasan beragama berarti juga, bahkan mengandung arti yang lebih konkret, (yaitu) kebebasan untuk tidak beragama."

Hentikan X pesan, 4
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 4

Hentikan X pesan, 5
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 5

Menurut Dawam dalam wawancara dengan BBC saat itu, para pemimpin di Indonesia saat ini kurang memahami soal hak asasi manusia, khususnya kebebasan beragama.

"Sehingga negara banyak melanggar kebebasan, khususnya kebebasan beragama," katanya.

Dia kemudian mencontohkan kasus pelarangan ajaran kelompok Lia Eden dan penutupan sejumlah gereja.

Simak wawancara lama BBC dengan Dawam Rahardjo, yang masih tetap menarik untuk disimak sekarang – empat tahun kemudian – berjudul Dawam Rahardjo dan prinsip kebebasan beragama.

Hentikan X pesan, 6
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 6

Wartawan BBC Heyder Affan yang mewawancarainya waktu itu menyebut bahwa percakapan dengan Dawam Rahardjo itu bagai 'membuka kembali buku "Pergolakan Pemikiran Islam" karya Ahmad Wahib (1942-1973), yang merupakan sohib Dawam sendiri.

Di buku itu, Ahmad Wahib menyinggung Dawam: "Orang seperti Dawam, terbentuk karena keluasaan ilmunya," aku Wahib, seperti tertulis di halaman 41 buku tersebut.

Sebaliknya, Dawam menggambarkan sosok Wahib: "Orangnya (Ahmad Wahib) lembut, tapi pikirannya keras dan terus terang."

Dan kini Dawam menyusul Wahib di keabadian.

Prof. M. Dawam Rahardjo akan dikebumikan Kamis (31/5) siang di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.