Memutus 'mata rantai penyebaran radikalisme' di keluarga napi teror

Sumber gambar, Telegram/Reuters
- Penulis, Ayomi Amindoni
- Peranan, BBC Indonesia
Bocah berusia 13 tahun asal Indonesia bernama Haft Saiful Rasul diberitakan tewas di Suriah setelah meninggalkan pesantren dan pergi ke Suriah untuk menjadi petempur ISIS pada 2015.
Ayah Haft adalah Syaiful Anam, terpidana kasus terorisme peledakan bom di Poso di tahun 2005 dan dihukum 18 tahun penjara.
Direktur Eksekutif Institut for Policy Analysis for Conflict (IPAC), Sydney Jones, membenarkan berita tersebut. Bocah ini meninggal tahun lalu, menambah daftar generasi kedua teroris 'yang mengikuti jejak ayahnya dengan melakukan jihad di Suriah'.
"Memang ini bukan pertama kalinya ada generasi kedua dari teroris yang muncul di Suriah. (Sebelumnya) ada anak dari Iman Samudra yang meninggal di sana," ujar Sydney kepada BBC Indonesia.
Anak kandung napi teroris Bom Bali Imam Samudera, Umar Jundulhaq kerap mengunjungi ayahnya di penjara hingga akhirnya sang ayah dieksekusi pada Oktober 2007.
Ia bertekad mengikuti jejak ayahnya dan tewas pada Oktober 2015 dalam pertempuran di Deir Ez Zor, Suriah, setelah bergabung dengan ISIS.
Haft yang merupakan santri pondok pesantren Ibnu Mas'ud di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, sering mengunjungi ayahnya di penjara. Kepada ayahnya, ia bertekad untuk syahid di Suriah.

Sumber gambar, Reuters
Ia kemudian memutuskan pergi ke Suriah pada 2015 dan termasuk dalam 17 jihadis asal Indonesia dari pesantren yang dikenal dengan ideologi radikal tersebut dan menjadi petarung ISIS.
Delapan di antaranya guru dan sisanya adalah santri.
Menurut Sydney Jones, pesantren Ibnu Mas'ud 'dikenal kental dengan paham radikal' dan beberapa alumninya ditangkap karena terlibat dalam aksi-aksi terorisme. Narapidana teroris Aman Abdurahman merupakan pemilik pesantren tersebut.
Bahaya generasi kedua teroris
Lebih jauh Sydney menjelaskan radikalisme memang lebih mudah diturunkan kepada anggota keluarga.
Tradisi ini semakin kuat bagi mereka yang memiliki latar belakang Jamaah Islamiyah yang beberapa anggotanya antar lain Syaiful Anam alias Brekele dan Imam Samudra. Kebanyakan dari merkea tinggal di wilayah Jawa Barat, Banten dan Makassar.
"Kalau memang dari keluarga ekstrem memang sering terjadi bahwa radikalisme sangat kental dan mungkin itu menunjukkan bahwa salah satu target group yang harus ditangani pemerintah justru keluarga-keluarga di daerah tersebut," ujar Sydney.
Lalu, apakah ini berarti anak-anak dari teroris ini rentan untuk mengikuti jejak ayahnya?
"Saya kira begitu, karena mereka terekspos kepada semacam glorification (pengagungan) dan kecenderungan melihat mujahidin sebagai hero (pahlawan)," cetusnya.
Tak heran, kebanyakan dari mereka lalu memutuskan untuk terbang ke Suriah menjadi pejuang ISIS.
Diakui Sydney, ini menjadi masalah besar, apalagi ditambah saat ini terdapat sekitar 500 deportan yang dipulangkan dari Turki lantaran gagal menyeberang ke Suriah. Kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak kecil.

Sumber gambar, AFP
Ia mengusulkan agar Kementerian Sosial membuat program rehabilitasi khusus untuk orang-orang-orang tersebut untuk memutus mata rantai radikalisme.
"Harus ada program khusus anak untuk rehabilitasi, apalagi untuk deportan. Karena pasti walaupun mereka tidak berhasil menyeberang ke Suriah. Mereka sudah pasti terkekspos banyak argumentasi yang berbau ideologi," ujarnya.
Memutus mata rantai
Salah satu upaya yang dilakukan dalam memutus mata rantai radikalisme bagi anak-anak teroris adalah yang dilakukan Yayasan Lingkar Perdamaian di Lamongan, Jawa Timur yang didirikan oleh mantan teroris Ali Fauzi.
Ia adalah adik dari Amrozi, Ali Gufron dan Ali Imran, pelaku Bom Bali 2002.
"Ada sekitar 70 anak mantan (teroris) yang intensif saya bina, saya bimbing bersama komunitas baru di sini di Lingkar Perdamaian dan hal itu akan bertambah seiring dengan respeknya kawan-kawan yang sekarang di dalam penjara dan kemudian mereka menitipkan anak-anaknya ke lingkar perdamaian," ujar Ali.
Pembelajaran di yayasan ini dimulai pada pukul 14.00, selepas jam sekolah anak-anak tersebut. Materi yang diajarkan antara lain pendidikan moral, psikologi dan soft skill sosial.

Sumber gambar, ADEK BERRY/AFP
Lalu, bagaimana upaya mereka mengubah pola pikir dan mengikis indoktrinasi yang dilakukan orang tua anak-anak tersebut?
"Selama dididik oleh ayahnya lebih dijelaskan Islam itu identik dengan perang, Islam itu identik dengan tindak pidana terorisme, yang kita ajarkan adalah bagaimana Islam itu ada toleransi, menghormati, saling menyanyangi dan mencintai," jelas Ali.
Tak semudah membalik telapak tangan
Kendati begitu, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan mengubah pola pikir yang sudah terdoktrin ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Butuh kesabaran juga, ini tergantung anak-anak ini sudah didoktrin seberapa jauh, seberapa dalam juga. Tarafnya beda-beda," ujarnya.
Diakui oleh Hamdi, anak kecil belum memiliki mekanisme pertahanan kognitif yang kuat dan cenderung bereaksi secara reseptif, atau lebih banyak menerima. Maka dari itu mereka lebih mudah didoktrinasi.
Untuk anak-anak yang orang tuanya sudah koperatif, seperti yang terjadi di Yayasan Lingkar Perdamaian, proses mengubah pola pikir dari radikalisme yang sudah tertanam di alam bawah sadar akan cenderung lebih mudah lantaran anak-anak tersebut cenderung patuh pada figur yang memiliki otoritas, dalam hal ini adalah pembimbing di yayasan tersebut.
Namun, berbeda halnya dengan anak-anak yang orang tuanya masih merasa memiliki otoritas terhadap anaknya.
"Kalau orang tuanya radikal, mereka ingin anaknya juga menjadi radikal, dan dia akan mengasuh anaknya dengan pola yang doktriner, dan akan memasukkan ke pesantren yang ajarkan ajaran yang doktriner juga, jadi siklusnya berputar," ujar dia.








