Sebanyak 16 WNI 'hilang' di Turki, di mana mereka?

Muhammad Arif
Keterangan gambar, Muhammad Arif memberikan keterangan kepada wartawan di Solo.

Sebanyak 16 warga Indonesia dikabarkan hilang di Turki dan ada dugaan mereka bergabung dengan kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Suriah.

Mereka berangkat ke Turki bersama rombongan tur wisata pada 25 Februari lalu namun memisahkan diri dari rombongan.

Pemerintah Indonesia mengatakan ada dugaan 'warga yang hilang' itu bertujuan menyeberang ke Suriah melalui perbatasan Turki untuk bergabung dengan ISIS.

Namun keluarga Fauzi Umar dan Hafid Umar Babher -dua warga Solo yang ikut hilang di Turki- menyayangkan pernyataan sejumlah pejabat pemerintah yang mengaitkan ke-16 WNI itu dengan ISIS.

"Harusnya pernyataan yang disampaikan pejabat itu memperhatikan perasaan keluarga yang ditinggalkan. Adik saya itu sama sekali tidak pernah ikut kegiatan seperti itu," tegas Muhammad Arif, kakak Fauzi dan Hafid.

Arif mengakui Fauzi dan Hafid melakukan perjalanan ke Turki untuk tujuan wisata dan bisnis.

"Karena mereka berdua fokus dalam usaha dagang. Kalau Fauzi setahun terakhir fokus batu akik, sedangkan Hafid sedang mendapatkan order gordin dalam jumlah besar."

Kirim Komentar

Belakangan ini beberapa laporan menyebutkan beberapa orang terbang ke Turki dan diduga menyeberang perbatasan ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok militan di sana, <link type="page"><caption> termasuk tiga perempuan remaja asal Inggris.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/03/150301_remaja_inggris_berada_suriah" platform="highweb"/></link>

Terkait kasus 16 WNI yang 'hilang' di Turki, apakah Anda berpendapat pemerintah memang terlalu cepat mengambil kesimpulan?

Namun pada saat bersamaan, apakah Anda merasa, merupakan hal yang layak untuk mencurigai warga yang tiba-tiba hilang di Turki tanpa kabar sama sekali?

Dan bagaimana saran Anda kepada pemerintah untuk memastikan keberadaan 16 warga Indonesia tersebut?

Apa yang sebaiknya dilakukan agar segera bisa dipastikan alasan di balik kehilangan itu, misalnya dengan mengirim aparat keamanan langsung ke Turki untuk mencari tahu atau meningkatkan kegiatan intelijen di dalam negeri.

Sampaikan pendapat atau komentar Anda untuk Forum BBC Indonesia.

Ragam komentar

"Cari penyakit namanya," Gusti Kerta, Facebook BBC Indonesia.

"Menurut saya tidak salah jika pemerintah langsung menyimpulkan kalau 16 WNI itu akan bergabung dengan ISIS karena sebagaimana kita tahu bahwa banyak pula warga negara lain yang telah melakukan hal itu. Memang sudah sebaiknya ada perhatian dari negara-negara di dunia agar membentuk pasukan keamanan untuk bergabung dengan keamanan Turki dalam rangka mengamankan dunia, agar tidak ada lagi warga negara-negara yang hilang. Dan kita tidak cepat menuduh Turki seolah-olah keamanan mereka benar-benar lengah." Nuraini, Tangerang.

"Semoga cepat ditemukan," Madu Jawara, Facebook BBC Indonesia.

"Mereka adalah bukti bahwa masih banyak orang indonesia yang tidak merasa namun membenci MKRI dan Pancasila. Tapi mereka merasa lebih Arab dari orang Arab dengan alasan kesempurnaan agama." Evi Sitio.

"Didik sanak keluarga kita cinta Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945. Kalau sudah begini ribut menyalahkan negara. Sana minta tolong Arab, digubri apa tidak..." Tri Mukti, Facebook BBC Indonesia.

"Cari pakai kaca Benggala! Mungkin diambil ISIS." Mifthahul Lily Binti Mahfudz, Facebook BBC Indonesia.

"Tanpa bermaksud menghakimi, jelas amat sulit sembarangan tidak 'curiga' terhadap WNI ini, karena persamaan etnis, keyakinan dan 'budaya' yang akhir-akhir ini amat drastis berubah ekstrim, seperti BBC sendiri mengungkap tentang rendahnya sifat toleran. Justru pihak berwenang harus lebih ekstra hati-hati terhadap penyelenggaraan wisata religius yang amat marak dekade terakhir. Selain itu jika memang terbukti mengikuti ISIS, pemerintah perlu tegas mencabut ke-WNI-an mereka. Tak perlu terlalu heboh, karena pekerjaan rumah masalah kita masih amat sarat, termasuk 'nasib' KPK, beras naik tinggi, angkutan masal kereta api, ekonomi naik lagi dan sebagainya. Itu lebih perlu daripada 16 WNI yang patut diduga bukan hilang atau diculik, namun berpiknik ria di Negri orang." AG Paulus, Purwokerto.

"Bukankah Indonesia sudah memberi kebijakan kalau ada warga Indonesia yang ikut bergabung dengan ISIS akan dicabut hak kewarganegaraannya. Jadi ngapain repot-repot mikirin orang yan gabung dengan ISIS." Meo Mild, Facebook BBC Indonesia.

"Hilang atau diculik?" Wedang Jahe Anget, Facebook BBC Indonesia.

"Jika mereka hilang karena ingin bergabung dengan ISIS, maka hal ini harus menjadi perhatian penuh pemerintah Indonesia. Saran saya cabut kewarganegaraannya biar tidak kembali menjadi bumerang di NKIR yang kita cintai bersama." Emil Sadipun, Facebook BBC Indonesia.

"Sepatutnya pihak berwenang harus menyelidiki 1000% orang yang mau berpergian dekat negara yang dikuasai ISIS. Katanya wisata ke Turki tapi bisa untuk alasan/satu-satunya cara agar bisa bergabung sama ISIS. Orang yang gabung sama ISIS pandai tapi bodoh. Potong kepala bakar hidup-hidup orang yang tak sehaluan sama mereka, apakah itu namanya jihad?." Watini Kidi. Kuching, Malaysia.

"Tidak ada yang hilang di dunia ini, yang ada pindah tempat." Wong, Facebook BBC Indonesia.

"Kita sudah tau negara Turki berdekatan dengan Iran, kenapa melaju ke sana? Mohon untuk pemerintah memperhatikan penerbangan menuju ke negara tersebut, harus diteliti dengan benar apakah berhubungan dengan bisnis atau mukimim? Nah di sana bisa dibedakan, stop pemberangkatan jikalau mencurigakan, jangan sampai nama bangsa kita ikut tercemar ISIS." Bilaa Shanty, Facebook BBC Indonesia.

"Jika mereka hilang bergabung dengan ISIS itu lebih baik artinya mereka punya harapan dan punya pekerjaan dari pada tinggal di Indonesia jadi begal motor. Harapannya nyusahin orang susah. Biarkan mereka dan mendingan ngurus yang ada di negeri kita yang sudah blesak harus dibenahi." Aby Tya, Facebook BBC Indonesia.