Krisis bawang putih di Indonesia

Bawang putih
Keterangan gambar, Sebagian besar kebutuhan bawang putih dipenuhi dari luar negeri.

Harga bawang putih meroket dan sempat menembus angka Rp80.000 hingga Rp100.000 per satu kilogram di sejumlah pasar di Indonesia.

Para pejabat pemerintah mengatakan kenaikan tajam harga bawang putih disebabkan oleh berkurangnya pasok ke pasar.

"Saya sudah minta Kementerian Pertanian dan Perdagangan untuk perbaiki regulasi dan segera memasok (bawang) ke pasar sehingga harga stabil," kata Hatta Radjasa, menteri koordinator bidang perekonomian.

Menghadapi masalah pasok salah satu komoditas penting ini pemerintah <link type="page"><caption> mengimpor hampir 135.000 ton bawang putih</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/03/130314_bisnis_kementrian_perdagangan_impor_bawangputih.shtml" platform="highweb"/></link> dari Cina.

Pengamat ekonomi pertanian, Fadhil Hasan, meminta impor ini tidak dipakai sebagai solusi jangka menengah dan panjang.

Fadhil meminta pemerintah melakukan pembinahan dengan menggenjot produksi bawang di dalam negeri.

Data pemerintah menunjukkan kebutuhan nasional bawang putih mencapai 400.000 ton per tahun sementara produksi dari dalam negeri hanya sekitar 14.200 ton per tahun.

Komentar Anda

Apa komentar Anda tentang kelangkaan bawang putih di pasar, yang kemudian menyebabkan harganya menjadi naik?

Menurut Anda, mengapa sebagian besar kebutuhan bawang putih tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri?

"Ribut harga bawang naik, sama saja mempermalukan diri sendiri. Produk pertanian ini seharusnya bisa kita hasilkan sendiri, namun rupanya kita memilih mengimport. Apalagi kenaikan harga tersebut disebabkan adanya "permainan". Solusinya adalah kesadaran bersama, bahwa punya negara kaya raya tidaklah cukup, kita harus kerja keras, tertib, dan tau malu." (Tricycle Harjun)

"Kebijaksanaan yang dibuat, selalu berdasarkan kepentingan & keuntungan pihak atau kelompok tertentu, mengabaikan kepentingan rakyat. Rakyat dijadikan "pasar" sebagai sumber kekayaan yang mengalir dalam kantong-kantong orang-orang yang punya kuasa." (Linjin Tjan)

"Untuk langkah awalnya memang kita harus impor bawang dulu untuk menekan harga bawang, supaya harga kembali normal. Selanjutnya mengembangkan para petani bawang untuk lebih meningkatkan produktivitas. Dan setelah itu menyadarkan para masyarakat untuk membeli bawang lokal." (Jung Fandy)

"Terkejut saya membaca berita ini. Kami di Malaysia kadang-kadang bawang putih tergolek begitu saja di dapur selama beberapa bulan, hingga menjadi layu. Saya tak menyangka, di negara sendiri barang yang sepertinya tak begitu penting ini sangat mahal harganya." (Sofea Aneta)