Strategi kalah, salah siapa?

Pemain yang didiskualifikasi

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pasangan Indonesia, Meiliana Jauhari/Greysia Polii, termasuk dalam yang didiskualifikasi.

Komite Olimpiade Internasional, IOC, sudah meminta agar para pelatih delapan pemain ganda putri yang didiskualifikasi dari Olimpiade juga diselidiki.

Kedelapan pemain itu dianggap bermain tidak sebaik mungkin dan berupaya untuk kalah demi menghindari pertandingan dengan pasangan yang lebih kuat di babak berikut.

Pasangan ganda putri Indonesia, Meiliana Jauhari/Greysia Polii, termasuk dalam yang didiskualifikasi bersama dengan dua pasangan Koera Selatan dan satu pasangan Cina.

Namun apakah memang cukup hanya para pemain yang didiskualifikasi karena mungkin saja mereka hanya mengikuti instruksi pelatih saja.

Sementara pelatih mendapat tekanan yang kuat dari pengurus organisasi cabang olahraga yang ingin mendapatkan medali emas.

Jadi urusannya bisa saja sampai kepada pengurus organisasi.

Bagaimanapun Anda mungkin berpendapat bahwa strategi untuk kalah sudah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari olahraga dan bukan hanya di cabang bulutangkis semata.

Atau Anda berpendapat diperlukan pergantian sistem supaya tidak terbuka peluang bermain untuk mencapai kekalahan, seperti kata peraih medali emas tunggal putra Olimpiade Barcelona, Alan Budikusuma.

"Kita tidak menyalahkan pemain, kita tidak menyalahkan pelatih. Yang kita salahkan adalah sistem karena sistemnya yang membuat peluang kepada atlet untuk melakukan sesuatu," tutur Alan kepada BBC Indonesia.

Kami tunggu komentar, pendapat, maupun saran Anda, yang juga akan disiarkan di BBC Indonesia pada Kamis 9 Agustus pukul 18.00 WIB

Ragam pendapat

"Yang jelas saya tidak setuju dengan cara menjadi kalah seperti itu. Kelihatan tidak sportif padahal dalam olahraga sportifitas harus dijunjung tinggi, tapi kalau memang dalam pertandingan ada kesalahan sistem sehingga bisa terjadi hal seperti itu, harus diusut sampai tuntas jangan hanya pemainnya saja yang disalahkan." Mudji Hastuti, Madiun.

"Seharusnya yang paling disalahkan adalah PBSI mengapa prestasi bulutangkis indonesia semakin terpuruk. Apa gunanya sering diadakan turnamen bulutangkis jika kita tidak dapat memunculkan bibit-bibit baru. Saya mohon PBSI bisa mencarinya supaya prestasi Indonesia cepat membaik." Heri Susilo, Bojonegoro.

"Menyalahkan sistem kok baru sekarang? Padahal sebelum tiba ke London semua sudah tahu sistem dan konsekwensinya kalau pemain bermain sabun. Kalau jantan, akui saja, lalu minta maaf. Gitu saja kok repot." Ali Di Tiro, Stockholm.

"Benar kata Alan Budikusuma. Sistem yang harus diubah, jangan salahkan pemain. Itu bagian dari strategi untuk mendapatkan medali." Borosngora, Bogor.

Coba kalau kejadian itu pada atlet Eropa atau Amerika pasti tidak jadi masalah." Odang, Jakarta.

"Strategi kalah tidak dapat diterima dalam dunia olahraga mana pun karena hal ini mencederai semangat olah raga tersebut dan juga strategi kalah untuk kompetisi setingkat Olimpiade yang notabene mewakili suatu negara jelas menggambarkan rendahnya mental bangsa tersebut. Hukuman diskuifikasi wajar dan jangan hanya pemain, pelatih, tapi juga organisasi di belakang atlet-atlet tersebut pun harus di hukum sebagai pembelajaran untuk masa depan." Andreas Jakarta.

"Sistem pertandingannya yang salah." Antonius, Sanggau.

"Kegagalan atlet bulutangkis dikarenakan mental yang dibentuk oleh para pemimpin, 'bagaimana mencari kekayaan/kemenangan melalui jalan pintas tanpa kerja kerjas' atau bagaimana cara mengkorupsi angka kemenangan." Anjas Asmara, Purwokerto.

"Meraih medali olimpiade merupakan impian setiap pemain. Negara adalah kebanggaan dan bisa juara mengalahkan pemain siapapun yang dihadapinya. Sayangnya semangat fair play dinodai. Siapapun pemain, pelatih maupun pengurus cabang olahraga seharusnya menghormati sistem kompetisi yang telah disahkan dan disepakati, terlepas dari sistemnya yang kurang bagus. Komite Olimpiade Internasional harus memberikan sanksi tegas tepat supaya tidak menjalar ke cabang lain." Wahjoe Nganjuk.