Pengosongan kamp migran Calais picu perdebatan di Prancis

Migran di Calais

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Migran diangkut dengan bus ke ratusan penampungan yang tersebar di wilayah Prancis.
Waktu membaca: 2 menit

Dua pendapat berbeda muncul setelah otoritas Prancis mulai mengosongkan kompleks kamp migran Calais, di dekat pelabuhan yang menghubungkan antara wilayah Prancis dan Inggris pada Senin (24/10).

Kampleks kamp gelap yang dikenal dengan nama 'hutan' kamp migran selama ini dihuni oleh sekitar 7.000 migran, sebagian besar dari negara-negara yang menderita perang di wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Afghanistan.

"Mayoritas orang Prancis cenderung untuk mendukung pemerintah dalam tindakan tersebut dengan catatan bahwa kurang lebih 6.000 orang pengungsi yang ada di situ diperlakukan secara manusiawi dengan dibawa naik bus ke ratusan tempat penampungan pengungsi yang ada di seluruh Prancis," kata pengamat sosial politik di Prancis, Francois Raillon, dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

  • <link type="page"><caption> Kamp migran Calais dikosongkan sebelum diratakan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/10/161024_galeri_calais" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Prancis mulai mengosongkan kamp migran Calais</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/10/161024_dunia_calais_dikosongkan" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Prancis bersiap hancurkan kamp migran di Calais</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/10/161024_dunia_prancis_calais" platform="highweb"/></link>

Namun, lanjutnya, terdapat kelompok kecil warga Prancis -yang belum tentu beroposisi dengan pemerintah- yang menentang pengosongan kamp di Calais.

"Karena mereka menganggap bahwa sebenarnya meskipun itu dilakukan secara teratur, arus pengungsi yang datang ke Prancis untuk menyeberang ke Inggris tidak akan terhenti.

"Dan masalahnya tetap akan muncul karena kemungkinan besar bahwa beberapa bulan lagi kamp baru di sekitar Calais dapat dibentuk lagi oleh pengungsi-pengungsi yang datang lagi ke sana," jelas Raillon yang fasih berbahasa Indonesia.

Setelah dikosongkan, gubuk-gubuk yang menjadi kamp migran di Calais rencananya akan dirobohkan pada Selasa (25/10).

Para migran, yang akan didaftar resmi, dapat mengajukan diri sebagai pencari suaka di Prancis meskipun pada awalnya mereka bersikukuh untuk mencari suaka di Inggris.

Risiko dipulangkan

Dalam proses permohonan suaka itu, mereka akan dites satu-persatu dan yang tidak memenuhi syarat untuk diberi status pengungsi rencananya akan dipulangkan ke negara asal mereka.

Polisi Prancis

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Aparat keamanan berusaha mengendalikan antrean migran yang dipindahkan dari Calais.

Prancis sendiri telah menampung ratusan ribu migran maupun pencari suaka, dan kini jumlahnya akan meningkat dengan pembukaan pendaftaran baru bagi migran yang selama ini berada di Calais dan walau ingin menuju Inggris.

"Memang ada beberapa kota yang mutlak menolak adanya tempat penampungan pengungsi itu, tetapi di lain pihak oleh pemerintah dikatakan bahwa jumlah besar calon pencari suaka itu akan diperiksa satu-persatu," jelas Francois Raillon, peneliti senior di lembaga pemikir CNRS.

"Jadi diputuskan apakah mereka berhak atau tidak berhak untuk menerima kedudukan sebagai pencari suaka resmi di Prancis," katanya.

Sejauh ini pengosongan kamp berjalan lancar.

Para migran diangkut dengan bus-bus ke sekitar 450 penampungan yang dilengkapi dengan 7.500 tempat tidur. Mereka disebar di kota berbeda-beda di seluruh Prancis.

Inggris telah menyatakan kesediaan untuk menampung anak-anak yang mempunyai keluarga dekat di Inggris atau anak-anak yang tidak disertai anggota keluarga mereka.

Sebagian di antara mereka sudah masuk ke wilayah Inggris.