Pemberontak FARC Kolombia 'bayar ganti rugi' bagi korban konflik

Sumber gambar, Reuters
Kelompok pemberontak FARC (Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia) mengumumkan bahwa mereka akan membayar reparasi atau ganti rugi terhadap korban konflik panjang 52 tahun sebelum referendum perjanjian damai antara pemberontak dan pemerintah.
FARC mengatakan bahwa mereka akan menyatakan aset mereka -yang diperkirakan mencakup investasi tambang dan transportasi- dengan cara terbuka.
Sisa dari konflik besar Perang Dingin ini sudah menewaskan 260.000 orang dan sekitar enam juta orang terusir dari rumahnya.
Senin lalu, pada penandatanganan kesepakatan bersejarah antara pemberontak dan pemerintah, pemimpin pemberontak Timoleon Jimenez, atau Timochenko, meminta maaf pada "semua korban konflik".
Namun sampai sekarang kelompok gerilya tersebut berkeras bahwa mereka tidak punya uang untuk membayar kompensasi karena sumber-sumber keuangan mereka habis untuk membiayai perang.
- <link type="page"><caption> Gencatan senjata Kolombia setelah perang 52 tahun</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160829_dunia_kolombia_farc" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Presiden Kolombia prediksi perdamaian dengan FARC akan dorong ekonomi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160925_dunia_kolombia_santos_farc" platform="highweb"/></link>
Warga Kolombia melakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah mereka akan menerima kesepakatan damai bersejarah tersebut sebelum bisa disahkan menjadi undang-undang.
Tolak bayar kompensasi?
Kritik yang muncul terhadap kesepakatan damai yang ditandatangani setelah empat tahun negosiasi ini mengatakan bahwa kelompok pemberontak akan menolak membayar kompensasi meski mereka punya sumber daya untuk melakukannya.
Namun dalam pernyataan, FARC mengatakan bahwa mereka akan membuka "sumber daya keuangan dan nonmoneter" yang telah membiayai aktivitas perang mereka pada pemerintah.
FARC menyatakan bahwa aset ini akan dilaporkan dalam periode 180 hari di mana pemberontak harus menyerahkan senjata.
Pemerintah Kolombia mengatakan bahwa para pemberontak memiliki lahan yang luas, termasuk peternakan sapi, toko-toko dan perusahaan konstruksi, yang membantu mencuci uang hasil dari perdagangan narkoba, penculikan dan pemerasan.
Wartawan BBC melaporkan bahwa meski ada harapan besar perjanjian damai ini bisa mengakhiri penculikan dan pertumpahan darah yang melukai Kolombia selama lima dekade, namun kesepakatan ini juga memicu perdebatan di negara dengan ekonomi terbesar keempat di Amerika Latin.
Sebagian orang marah bahwa kelompok pemberontak ini dibolehkan masuk parlemen tanpa harus dipenjara.










