Warga sipil dan pemberontak segera tinggalkan Darayya, Suriah

Militer Suriah mengepung Darayya dan membombardir kota itu sejak 2012.

Sumber gambar, AFP Getty

Keterangan gambar, Militer Suriah mengepung Darayya dan membombardir kota itu sejak 2012.

Ribuan warga sipil dan kubu pemberontak akan segera meninggalkan Kota Darayya yang terletak di pinggiran ibu kota Suriah, Damaskus, setelah sebuah kesepakatan tercapai antara pemerintah dan pemberontak.

Melalui kesepakatan itu, 4.000 warga sipil akan bertolak dari Darayya ke tempat-tempat penampungan pemerintah, pada Jumat (26/8). Adapun 700 orang bersenjata bakal hengkang menuju Kota Idlib yang dikuasai kubu pemberontak.

  • <link type="page"><caption> PBB diminta kirim bantuan kemanusiaan ke Suriah lewat udara </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/06/160601_dunia_bantuan_suriah_udara" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Bantuan pertama tiba di Darayya, Suriah, sejak tahun 2012 </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/06/160601_dunia_suriah_bantuan" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Menjelajahi perpustakaan rahasia di Suriah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160728_majalah_suriah_perpustakaan" platform="highweb"/></link>
Sejak 2012, warga sipil di Darayya kekurangan pasokan makanan, air, dan obat-obatan.
Keterangan gambar, Sejak 2012, warga sipil di Darayya kekurangan pasokan makanan, air, dan obat-obatan.

Evakuasi tersebut mengakhiri pengepungan Darayya oleh militer Suriah sejak 2012 lalu. Selama kurun waktu itu, warga sipil mengalami penggempuran serta kekurangan pasokan pangan, air, dan obat-obatan. Pertama kali mereka menerima pasokan dalam empat tahun adalah pada Juni lalu.

”Kami dipaksa hengkang, tapi kondisi kami telah menurun ke titik yang tak tertahankan. Kami bertahan selama empat tahun, tapi tak bisa lebih lama lagi,” kata Hussam Ayash, seorang aktivis di Darayya kepada kantor berita Associated Press.

Kesepakatan evakuasi Darayya muncul selagi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, sedang bersiap menggelar perundingan dengan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, di Jenewa, Swiss.

Perundingan itu digelar untuk menegosiasikan gencatan senjata sementara di Aleppo, kota yang dilanda pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan pemberontak.