Bom di acara pernikahan di Turki, korban sebagian besar anak-anak

turki

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pemakaman dilakukan pada hari Minggu bagi para korban yang telah diidentifikasi.

Sebagian besar dari 51 korban pemboman pesta pernikahan Kurdi di kota Gaziantep, Turki pada hari Sabtu (20/08) adalah anak-anak, demikian dilaporkan sejumlah media.

Dua puluh sembilan korban berusia di bawah 18 tahun, kata beberapa laporan tersebut, dan seorang pejabat mengatakan 22 orang di antaranya berusia tak lebih dari 14 tahun.

Pejabat Turki masih menunggu hasil tes DNA untuk mengetahui identitas penyerang, seperti diberitakan koran Hurriyet.

Bom yang berisi potongan logam dianggap mirip dengan yang pernah digunakan dalam serangan terhadap kelompok pendukung Kurdi.

  • <link type="page"><caption> Pengebom bunuh diri di Gaziantep berusia 12-14 tahun</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160821_dunia_turki_bom" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kemarahan di Turki setelah perempuan transgender Hande Kader dibunuh</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160821_dunia_pembunuhan_hande_kader" platform="highweb"/></link>

Pembom berusia 12-14 tahun

Sebelumnya Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan bom bunuh diri tersebut dilakukan anak berumur 12-14 tahun.

Erdogan mengatakan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS berada di belakang serangan yang menargetkan sebuah pesta pernikahan Kurdi. Kota Gaziantep, berada di dekat perbatasan Suriah, dikenal sebagai tempat anggota sel ISIS.

Bom melukai 69 orang, tambah Erdogan, 17 di antaranya terluka parah.

Pembom menargetkan para tamu di pesta pernikahan yang tengah menari di jalanan.

Wartawan BBC, Seref Isler, yang berasal dari Gaziantep, mengatakan kota yang dihuni 1,5 juta orang tersebut dalam keadaan bahaya karena sejumlah kejadian di Suriah, dimana ISIS berperang dengan pasukan Kurdi Suriah.

Seorang pembom bunuh diri diduga terkait dengan pembunuhan dua polisi di Gaziantep pada Mei lalu.

Dalam sebuah pernyataan tertulis yang diterbitkan media setempat, Erdogan mengatakan "tidak terdapat perbedaan" antara ISIS, kelompok militan Kurdi, PKK, dan pendukung ulama di Amerika Serikat Fethullah Gulen, yang dipandangnya bertanggung jawab atas kudeta ggaal bulan lalu.