Presiden Turki berlakukan keadaan darurat tiga bulan

Sumber gambar, EPA
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan pihaknya memberlakukan keadaan darurat selama tiga bulan, menyusul kudeta militer yang gagal pekan lalu.
Dalam pidato nasional yang disiarkan televisi, Rabu (20/07) malam waktu setempat, Presiden Erdogan mengatakan keadaan darurat memungkinkan pemerintah mengejar orang-orang yang bertanggung jawab atas kudeta, yaitu pendukung ulama Turki di Amerika Serikat, Fethullah Gulen.
Erdogan juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Turki atas keberanian mereka mengalahkan kudeta.
- <link type="page"><caption> Akademisi Turki dilarang ke luar negeri</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160720_dunia_turki_akademisi" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Laporan khusus kudeta Turki yang gagal</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/kudeta_turki" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Jenderal Turki bantah sebagai pelaku kudeta</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160719_dunia_turki_jenderal_bantah" platform="highweb"/></link>
Ia mengatakan kegagalan kudeta adalah titik balik sejarah Turki, hari ketika demokrasi tak bisa dikalahkan.

Sumber gambar,
Erdogan sebelumnya memperingatkan masih akan ada penangkatan dan pemberhentian ketika aparat keamanan menginterogasi puluhan ribu orang yang ditahan atau diskors.
Mereka ini berasal dari jajaran militer, PNS, dan lingkungan pendidikan.
Mereka yang ditahan termasuk 99 perwira tinggi militer yang sekarang secara resmi dikenai dakwaan.
Hingga kini lebih dari 50.000 orang ditangkap, dipecat atau diberhentikan sementara.
Pihak berwenang Turki juga melarang semua akademisi pergi ke luar negeri dalam rangka pembersihan pegawai negeri yang dicurigai terkait atas upaya kudeta tersebut.

Sumber gambar, AP
Sedang para akademisi yang saat ini berada di luar negeri untuk bekerja atau belajar diminta untuk kembali ke Turki sesegera mungkin.
Sejauh ini sekitar 1.577 dekan, 21.000 guru, dan 15.000 pejabat Kementerian Pendidikan sudah diminta mengundurkan diri.
Mereka dicurigai terkait dengan Fethullah Gulen, yang dituduh sebagai otak di balik upaya kudeta.









