Perdana menteri Kamboja diduga menimbun kekayaan

Sumber gambar, no credit
Perdana menteri Kamboja dan keluarganya diduga menimbun kekayaan sebesar US$200 juta (sekitar Rp2,6 triliun), kata organisasi hak asasi manusia, Global Witness.
Data yang digunakan Global Witness diambil dari data milik pemerintah Kamboja.
Organisasi ini menyatakan keluarga Hun Sen memiliki saham di lebih dari 100 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor seperti media, perkebunan, dan energi.
- <link type="page"><caption> Anggota parlemen penjara dihukum 20 tahun penjara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/07/150721_dunia_kamboja" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> PM Kamboja Hun Sen dituntut mundur</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2013/12/131229_kamboja_protes" platform="highweb"/></link>
Kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di Inggris tersebut mengklaim perdana menteri yang menjabat selama 30 tahun di Kamboja ini diduga terlibat kasus pembuatan perjanjian rahasia dan korupsi.
Juru bicara Hun Sen menyangkal tuduhan ini.
Anggota senior partai oposisi, Son Chhay, menyambut baik berita ini. "Semua orang mengetahui kasus ini tapi tak seorang pun yang berani membicarakannya. Sekarang berita ini diketahui publik," kata Son Chhay.
Hun Sen menjabat sebagai perdana menteri Kamboja sejak pertengahan 1980-an.
Sepak terjangnya yang kontroversial menyebabkan Hun Sen memiliki banyak lawan, termasuk kelompok senator di Amerika Serikat.
Kelompok Senator AS ini bahkan mengajukan permohonan untuk memberikan bantuan kepada Kamboja sebesar US$21,5 juta (sekitar Rp283,5 miliar) jika Hun Sen tidak terpilih kembali dalam pemilu 2003.









