Aksi lanjutan menentang hasil pemilu Kamboja

Ribuan pendukung partai oposisi Kamboja kembali menggelar aksi unjuk rasa menentang hasil pemilu.
Laporan-laporan menyebutkan sekitar 20.000 pendukung kubu oposisi Partai Penyelamat Nasional Kamboja, CNRP, turun ke jalan.
Sejumlah biksu Budha ikut meramaikan aksi unjuk rasa yang secara umum dilaporkan berjalan dengan damai.
Unjuk rasa pada hari Minggu 15 September di ibukota Phnom Penh ini berlangsung hanya sehari setelah pertemuan pemimpin oposisi, Sam Rainsy, dengan Perdana Menteri, Hun Sen.
Pertemuan yang jarang terjadi itu untuk membahas kebuntuan dalam hasil pemilu yang dimenangkan partai pimpinan Hun Sen, Partai Rakyat Kamboja, CPP.
Namun pertemuan tidak mencapai kesepakatan dan akan dilanjutkan kembali Senin, 16 September.
Ancaman boikot
Komisi Pemilihan Kamboja sudah<link type="page"><caption> menetapkan CPP menang</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/09/130908_cambodiaelex.shtml" platform="highweb"/></link> dengan perolehan 68 kursi sementara kubu CNRP mengumpulkan 55 kursi.
Sam Rainsy berulang kalu menegaskan bahwa <link type="page"><caption> pemilu berlangsung curang</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/07/130729_pemilu_kamboja_oposisi.shtml" platform="highweb"/></link> dan meminta digelarnya yang independen.
"Kami akan mengatakan kembali bahwa kami tidak menerima hasil pemilu sampai ada jalan ke luar dari ketidakbenaran pemillihan," tuturnya di hadapan para pendukungnya.
Dia juga sudah mengatakan partainya akan memboikot sidang parlemen baru hasil pemilu Juli.
Pekan lalu, Sabtu (07/09), <link type="page"><caption> ribuan pendukung CNRP juga menggelar</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/09/130907_kamboja_protes.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> aksi unjuk rasa</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/09/130907_kamboja_protes.shtml" platform="highweb"/></link> di ibukota Phnom Penh untuk menentang hasil pemilu.
Walau CNRP kalah, perolehan suaranya meningkat pesat yang agaknya disebabkan semakin banyaknya warga Kamboja yang tidak puas dengan pemerintahan Perdana Menteri Hun Sen selama 28 tahun belakangan.









