Korban penembakan di Orlando selamat setelah pura-pura mati

Sumber gambar, GETTY IMAGES
Seorang korban luka penembakan di Orlando mengaku dirinya berpura-pura mati saat Omar Mateen terus menembaki orang-orang yang sudah tergeletak di lantai.
Angel Colon mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya terkena tembakan sebanyak tiga kali. Dia juga menceritakan Mateen bahkan tetap memberondong para pengunjung kelab yang sudah tak bernyawa.
Enam orang korban luka dalam kondisi kritis akibat serangan di kelab malam gay, Pulse, kata staf rumah sakit.
Dokter bedah trauma Michael Cheatham mengatakan dia "tak akan terkejut" jika angka kematian meningkat. Saat ini total 49 orang tewas.
Mateen, yang akhirnya dilumpuhkan oleh polisi, berjanji setia kepada kelompok yang menamakan diri Negara Islam (IS) sesaat sebelum serangan terjadi, kata pihak berwenang.
- <link type="page"><caption> Pengkhotbah anti-gay terkait penembakan Orlando, tinggalkan Australia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/06/160615_dunia_australia_homoseksual" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Duka untuk Orlando dari berbagai belahan dunia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/06/160613_galeri_orlando" platform="highweb"/></link>
Media AS melaporkan pada Selasa (14/6), bahwa sebelumnya Mateen ditemani sang istri pergi membeli amunisi dan mengunjungi kelab.
Peristiwa penyerangan yang mengakibatkan 53 orang terluka ini, merupakan insiden penembakan massal terburuk dalam sejarah AS baru-baru ini.
Saya kira saya akan mati
Colon yang tertembak di bagian lengan, tangan dan pinggul, mengatakan kepada para awak media, dirinya berpikir "Saya akan menjadi korban selanjutnya, saya akan mati", ketika Mateen menembak kepala perempuan yang tergeletak di sampingnya.
Saat dirinya muncul di atas kursi roda, dia mengucapkan terima kasih kepada staf rumah sakit yang, menurutnya, terus-menerus berada di sisinya, dan mengatakan kepada mereka: " Aku akan mencintai kalian selamanya"
Menurut Colon, Mateen tampak tenang ketika menembak orang-orang di ruangan berbeda di kelab malam itu.
"Orang ini tidak punya hati dan bengis," kata Colon. Saya tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan hal seperti ini."
Dokter Cheatham mengatakan sejumlah korban tewas karena tertembak di kepala. Meski ada diantaranya yang masih hidup dan dalam perawatan intensif.
Staf rumah sakit yang lain menggambarkan dokter-dokter berlinang air mata ketika menangani para korban.
Sering mengunjungi kelab
Para saksi menyebutkan, Mateen mengunjungi kelab Pulse beberapa kali dalam tiga tahun terakhir dan berinteraksi dengan gay lain di aplikasi kencan gay.
Seorang penghibur di Pulse, Chris Callen mengatakan pada The New York Daily News bahwa Mateen mengunjungi Pulse beberapa kali.
Saksi lain, Kevin West mengatakan kepada Washington Post dia mengenal Mateen lewat aplikasi kencan Jack'd Pulse dan mengetahui dirinya memasuki kelab Pulse pada Minggu dini hari.
"Saya ingat detailnya, saya tidak pernah lupa wajahnya," kata West.
Para penyidik menginterogasi istri Mateen, yang kabarnya menemani perjalanan sang pembunuh perjalanan untuk survei kelab sebelum penembakan.
Menurut laporan stasiun televisi NBC dan ABC News, Noor Zahi Salman menuturkan kepada polisi bahwa dirinya berusaha mencegah suaminya melaksanakan serangan.

Sumber gambar, REUTERS
Saat menyampaikan pidato di hadapan para wartawan pada Selasa (14/6), Presiden Obama mengatakan negara bersama para korban yang selamat dan kerabat yang ditinggalkan serta komunitas LGBT.
"Anda tidak sendirian. Rakyat Amerika dan sekutu kami dan teman-teman di seluruh dunia berdiri dengan Anda," katanya.
Presiden Obama sendiri akan melakukan perjalanan ke Orlando Kamis (16/6).
Jeh Johnson, Direktur Keamanan Dalam Negeri, mengatakan pada hari Selasa (14/6) bahwa penembakan itu menyoroti kebutuhan akan adanya "tanggung jawab" atas tindakan mengontrol senjata.
Johnson juga mengatakan kontrol seperti itu adalah masalah keselamatan publik dan tidak akan melanggar hak-hak pemilik senjata yang bertanggung jawab.
"Ini sudah menjadi masalah keamanan dalam negeri," katanya kepada CBS News. "Kita perlu melakukan sesuatu. Kita perlu meminimalkan peluang bagi teroris untuk mendapatkan senjata di negara ini."
Direktur FBI James Comey mengatakan ada "indikator kuat radikalisasi dan potensi terinspirasi oleh organisasi-organisasi teroris asing".









