Cina tanggapi komentar menlu G7 soal sengketa maritim

Sumber gambar, Google
Pemerintah Cina mengingatkan kelompok tujuh negara maju atau G7 untuk “berhenti mengeluarkan pernyataan tak bertanggung jawab” terkait sengketa wilayah maritim.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lu Kang, mengatakan bahwa Cina memiliki klaim yang sah di Laut Cina Selatan.
Dia mendesak para menteri luar negeri “berhenti membuat pernyataan tak bertanggung jawab dan semua aksi tak bertanggung jawab, dan benar-benar memainkan peranan konstruktif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan.”
Para menteri luar negeri G7 yang beranggotakan Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang sedang berkumpul di Jepang. Tanpa menyebut Cina secara eksplisit, mereka menyeru kepada semua negara untuk tidak melakukan “tindakan intimidasi apapun atau aksi provokasi sepihak” yang dapat meningkatkan ketegangan.
- <link type="page"><caption> Cina ditengarai tempatkan rudal di Laut Cina Selatan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160216_dunia_cina_rudal_laut_cina_selatan" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Lagi, Cina daratkan pesawat di wilayah sengketa Laut Cina Selatan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_tra/2016/01/160106_dunia_cina_pesawat_fiery_cross" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Cina dirikan garnisun di Laut Cina Selatan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2012/07/120722_cina_paracel" platform="highweb"/></link>
Mereka juga mengimbau kepada semua negara agar “menahan diri dari tindakan seperti mereklamasi tanah” dan membangun pos di luar batas negara “untuk tujuan militer” yang bisa merusak stabilitas atau mengubah status quo.
Sengketa, kata para menlu G7, seharusnya diselesaikan “dengan iktikad baik dan sesuai dengan hukum internasional”.

Sumber gambar, unclos and cia
Cina mengklaim sejumlah wilayah perairan di Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur.
Pencitraan satelit
Beberapa tahun terakhir, pemerintah Cina rajin melakoni pembangunan di wilayah Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel. Padahal, kawasan itu juga diklaim beberapa negara, termasuk Vietnam, Filipina, Taiwan, dan Brunei.
Pada Januari lalu, Cina mendaratkan dua pesawat sipil di sebuah pulau buatan di Laut Cina Selatan yang menjadi sengketa sejumlah negara.

Sumber gambar,
Beragam foto-foto satelit yang dilansir majalah kajian pertahanan IHS Jane's Defence Weekly pada April lalu memperlihatkan Cina membuat lapangan terbang di Fiery Cross Reef yang masuk dalam kawasan Kepulauan Spratly.
Lalu rangkaian foto-foto satelit yang diabadikan pada 14 Februari dan dirilis stasiun televisi Fox News memperlihatkan dua penampung berisi delapan peluncur rudal dan sistem radar di Pulau Woody atau Yonxing, dalam versi Mandarin, di Kepulauan Paracel.
Foto-foto yang diabadikan ImageSat International itu juga memperlihatkan kedua penampung peluncur rudal dalam posisi ditegakkan.
Fox News mengutip seorang pejabat pertahanan AS yang mengatakan peluncur rudal itu tampak seperti sistem pertahanan udara HQ-9 yang dapat mencapai sasaran dalam radius 200 kilometer.
Cina menegaskan proyek-proyek tersebut sah secara hukum dan diperlukan demi melindungi kedaulatannya.









