Presiden Obama sebut Libia sebagai kesalahan terbesar

Sumber gambar, PA
Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengatakan kegagalan mempersiapkan keadaan setelah dijatuhkannya pemimpin Libia, Kolonel Muammar Gaddafi, adalah kesalahan terbesar dirinya sebagai presiden.
Presiden Obama menjawab sejumlah pertanyaan di Fox News tentang pengalamannya sebagai presiden.
Meskipun demikian, dia mengatakan campur tangan di Libia adalah "hal yang tepat dilakukan".
- <link type="page"><caption> Obama tuduh sekutu AS sebagai penumpang gelap</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160310_dunia_obama_wawancara" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Obama kecam kekerasan di Libia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2011/02/110223_libyaobama" platform="highweb"/></link>
AS dan negara-negara lain melakukan serangan udara yang dirancang untuk melindungi warga sipil saat pemberontakan tahun 2011.
Tetapi setelah mantan presiden Libia itu terbunuh, negara itu mengalami kekacauan. Milisi mengambil alih, sementara dua parlemen bersaingan dan pemerintahan dibentuk.
Kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS kemudian muncul, dan Libia menjadi tempat keberangkatan utama para migran yang berusaha mencapai Eropa.
Pemerintahan persatuan nasional yang didukung PBB tiba di ibu kota Tripoli permulaan bulan ini tetapi masih sedang berusaha mengambil alih kekuasaan.
Ini bukan pertama kalinya Presiden Obama menyatakan penyesalan terkait Libia.
Dia mengatakan kepada majalah Atlantic bulan lalu bahwa operasi berjalan seperti yang diharapkan, tetapi Libia sekarang "kacau".


























