Obama tuduh sekutu AS sebagai penumpang gelap

Presiden Obama di Gedung Putih

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Obama bicara blak-blakan tentang para sekutunya dalam sebuah wawancara dengan majalah The Atlantic.

Presiden Obama menggambarkan sekutu Amerika di Teluk Persia - begitu juga di Eropa - sebagai "penumpang gelap", karena ingin melibatkan AS dalam konflik yang tak berhubungan dengan kepentingan negara itu.

Dalam artikel majalah, Obama mengkritik Inggris dan Prancis karena membuat Libia jadi, dalam kata-katanya, "berantakan" setelah intervensi militer. Dia juga menyebut Perdana Menteri Inggris, David Cameron, "teralihkan perhatiannya".

Obama juga meminta Iran dan Arab Saudi untuk menyelesaikan perbedaan mereka.

Pernyataan-pernyataan gamblang ini muncul dalam wawancara di majalah The Atlantic.

  • <link type="page"><caption> Obama berusaha tutup penjara Guantanamo</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160223_dunia_guantanamo_amerika" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Obama jatuhkan sanksi terhadap Korea Utara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160219_dunia_obama_koreautara" platform="highweb"/></link>

Ketika ditanya tentang Libia, Presiden Obama dilaporkan mengatakan, "Kalau saya berpikir kembali dan bertanya apa yang salah, ada yang bisa dikritik, karena saya lebih percaya pada orang-orang Eropa, melihat kedekatan Libia, untuk melakukan follow-up."

Namun menurut Obama, Nicolas Sarkozy, presiden Prancis, tak lagi terpilih tahun berikutnya. Setelah itu, Perdana Menteri David Cameron juga tak lagi memberi perhatian karena "teralihkan oleh banyak hal lain".

Dalam wawancara tersebut Presiden Obama juga menyatakan, "Penumpang gelap membuat saya kesal."

Baru-baru ini, Obama mengingatkan bahwa Inggris tak bisa lagi mengklaim "hubungan khusus" dengan AS jika tak menjanjikan sedikitnya 2% dari PDB untuk pertahanan. "Anda harus membayar bagian Anda," kata Obama kepada David Cameron, yang kemudian memenuhi batas 2% sesuai kesepakatan NATO.

Ketika ditanya tentang kritik yang muncul dalam artikel tersebut tentang pengeluaran pertahanan, juru bicara resmi perdana menteri menolak berkomentar, "Saya tak mau terlibat dalam percakapan antara perdana menteri dan presiden."