Jihadis 'bisa masuk kembali' ke Inggris melalui Calais

Calais

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Diperkirakan terdapat lebih dari 3.000 pendatang di Calais, Prancis utara.

Para jihadis kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) bisa jadi menggunakan kamp pengungsi di Calais, Prancis utara, sebelum masuk kembali ke Inggris.

Hal ini disampaikan mantan ketua unit polisi antiteror di London, Kevin Hurley, yang mengunjungi Calais, bersama tim wartawan BBC.

"Kalau saya jihadis (yang pulang dari Irak atau Suriah), saya akan menggunakan tempat ini. Orang tak akan mengenali saya," kata Hurley.

Ia mengatakan di Calais tidak ada pemeriksaan terhadap orang-orang yang menggunakan tempat ini <link type="page"><caption> sebagai persinggahan sebelum masuk atau menyeludupkan diri ke Inggris</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150820_dunia_inggris_prancis_calais.shtml" platform="highweb"/></link>.

Pemerintah Prancis memperkirakan terdapat sekitar 3.000 orang di kamp Calais, antara lain berasal dari Afghanistan, Timur Tengah, dan Afrika.

Banyak kalangan mengatakan jumlah pendatang di Calais meningkat pesat dalam beberapa bulan terakhir.

'Tindakan bodoh'

Salah seorang pendatang di sini mengatakan 'ada orang-orang yang bekerja secara tidak langsung untuk ISIS' meski mereka bukan anggota kelompok tersebut.

Calais

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Para pendatang menunggui telepon genggam yang tengah dicas di Calais.

Senada dengan Hurley, David Videcette, mantan penyelidik kasus-kasus terorisme kepolisian Inggris juga khawatir tentang kemungkinan masuknya pada jihadis ke Calais.

"Mereka bisa mencoba masuk kembali ke Inggris melalui skema pencarian suaka," kata Videcette.

Namun pendiri salah satu lembaga sosial yang membantu para pendatang di Calais, Clare Moseley, menepis kekhawatiran ini.

Morseley mengatakan teroris atau jihadis yang mencoba masuk ke Inggris dengan menyamar sebagai pengungsi pasti akan terbongkar karena pemerintah Inggris menerapkan pemeriksaan yang sangat ketat.

"Itu tindakan bodoh. Inggris akan melakukan pemeriksaan yang sangat mendalam tentang latar belakang pengungsi atau pencari suaka," kata Moseley.