Komunitas Islam di Barat hadapi kekhawatiran yang berulang
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 3 menit
Khotbah Jumat di Masjid Woolwich, di London tenggara, Jumat 20 November, tepat satu pekan setelah serangan di Paris, tak sekali pun menyebut frasa serangan di ibu kota Prancis tersebut.
Meski demikian, tapi emua jamaah paham, inti khotbah selama 40 menit ini mengecam keras pelakunya. Khatib menekankan larangan keras membunuh manusia yang tak bersalah.
Beberapa hari sebelumnya, pengurus beberapa masjid di Inggris <link type="page"><caption> memasang iklan di satu surat kabar mengutuk serangan ini</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/serangan_paris" platform="highweb"/></link>, satu upaya yang antara lain dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan balas dendam atau serangan anti-Muslim.
Setiap kali ada kejadian seperti di Paris, masyarakat Islam di Barat khawatir.
"Memang sekarang menjadi lebih khawatir, meski secara umum saya melihat masyarakat di Inggris toleran, bahwa mereka berpendapat apa yang terjadi di Paris tidak mencerminkan Islam yang sesungguhnya," kata Shandy, pekerja profesional di London.
"Namun tetap saja, kami khawatir," katanya.
Luluk yang bermukim di London selama lebih dari dua dekade juga mengatakan sempat was-was.
"Tapi saya sekarang saya serahkan semuanya ke Allah ... saya pernah diteriaki teroris, saya pernah diludahi, saya pernah dimaki-maki dan pernah hampir dipukul," kata Luluk yang bekerja di sektor pendidikan ini.
Naik 300%

Luluk tahu persis bagaimana anggota komunitas Islam di Barat merasakan dampak dari serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, ledakan bom di London pada Juli 2005, dan serangan terhadap kantor majalah satire Charlie Hebdo di Paris pada Januari 2015.
Organisasi nonpemerintah di Inggris, Tell MAMA (Measuring Anti-Muslim Attacks) mencatat, tepat sepekan setelah insiden di Paris <link type="page"><caption> serangan anti-Muslim di Inggris naik 300%</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151125_dunia_inggris_antimuslim" platform="highweb"/></link> jika dibandingkan serangan pada pekan-pekan biasa.
"Secara keseluruhan kami mencatat 115 insiden serangan terhadap Muslim di Inggris pada pekan setelah serangan di Paris. Jika dibandingkan dengan data mingguan kami, maka terjadi kenaikan sekitar 300%," kata Iman Abou Atta, wakil direktur Tell MAMA.
Iman Abou Atta menambahkan setelah serangan yang dikaitkan dengan Islam, biasanya memang diikuti dengan kenaikan serangan atau setidaknya sentimen anti-Islam.
Menghadapi situasi ini, Imam Yusuf, pengurus masjid di Woolwich di London tenggara meminta warga Muslim untuk tidak konfrontatif.
"Ketika orang-orang yang tidak tahu mendatangi Anda, apa yang Anda lakukan? Hadapi mereka secara baik. Jangan balas perlakukan buruk mereka," kata Yusuf.
"Islam tidak mengajak konfrontasi. Inti Islam adalah mengajak dan menyeru. Bicara baik-baik dengan mereka, jangan balas perlakuan buruk mereka."
Krisis di Prancis?
Kejadian di Paris pada 13 November adalah yang kedua pada tahun ini, sebelumnya pada Januari lalu, kantor majalah satire Charlie Hebdo didatangi orang-orang bersenjata, yang menewaskan 11 orang.

Tak lama setelah kejadian itu saya ke Marseille, kota di Prancis selatan yang banyak didiami komunitas Muslim.
Suasana Islami langsung terasa di pasar tradisional yang terletak di pusat kota, ditandai dengan beberapa toko daging halal atau restoran yang menyediakan makanan halal.
Beberapa warga Muslim yang saya temui menuturkan dampak insiden di kantor majalah Charlie Hebdo terhadap kehidupan mereka.
"Bukan berarti saya tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar saya, tapi saya coba untuk tidak terpengaruh. Saya lakukan apa yang harus saya lakukan dan mencoba selalu memperlakukan orang lain sebaik-baiknya," ujar Ahmad.
Nurdin mengatakan ini adalah momen yang tepat untuk menjelaskan kepada masyarakat yang lebih luas di Prancis tentang wajah Islam yang sebenarnya.
"Saya tidak mengatakan tengah terjadi krisis Islam di Prancis, tapi komunitas Muslim harus bangun," kata mahasiswa bernama Nurdin.
"Ini adalah kesempatan baik bagi kita untuk menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya. Para penyerang ini telah membajak Islam."
Dialog
Sebagian besar masyarakat Muslim di Prancis bisa berbaur, tapi diakui ada anggota masyarakat Muslim yang merasa diperlakukan berbeda.
Perasaan kecewa ini bisa berbahaya karena bisa menjadi ladang ekstremisme dan pemerintah Prancis berusaha mengatasi persoalan di lapangan ini, kata pengamat politik Francois Raillon.

"Sudah diupayakan dialog dan pertemuan antara pemerintah dan wakil-wakil komunitas Muslim di Prancis," kata Raillon.
"Selain itu juga ada program-program untuk kawasan-kawasan yang banyak didominasi orang-orang Islam, untuk meningkatkan kesejahteraan sosial mereka. Dan tanggapan dari komunitas Muslim cukup positif," kata Raillon.
Berbagai upaya telah dan terus dilakukan untuk mengatasi persoalan ini.
Tapi, selama masih ada serangan-serangan yang mengatasnamakan Islam, kekhawatiran demi kekhawatiran akan terus terjadi di komunitas Muslim di Barat.









