ISIS 'manfaatkan' kegelisahan anak-anak muda di Eropa

    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 2 menit

Kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS kembali menjadi perbincangan hangat warga di kawasan Whitechapel, London timur, setelah terjadi serangan di Paris, hari Jumat (13/11).

Di restoran kebab, toko, atau di pinggir jalan, warga membincangkan ISIS yang sudah mengklaim melancarkan serangan di ibu kota Prancis yang menewaskan 129 orang tersebut.

ISIS, nama lama dari kelompok yang menyebut diri Negara Islam, bukan nama yang asing bagi warga di Whitechapel, kawasan yang banyak didiami komunitas Muslim.

Februari lalu, tiga remaja putri dari Bethnal Green, kawasan yang tak begitu jauh dari Whitechapel, meninggalkan rumah mereka dan diyakini bergabung dengan ISIS di Suriah.

Dan Inggris pun gempar.

Bagaimana tiga siswi cerdas -yang sekilas tak tampak mengalami radikalisasi- meninggalkan sekolah dan keluarga untuk membela ISIS?

"Kami juga tak mengerti mengapa mereka ke Suriah. Ini tindakan yang bodoh," kata seorang siswa madrasah di Whitechapel.

Rekan-rekannya menimpali bahwa mereka tak habis pikir mengapa tiga siswi Bethnal Green memutuskan bergabung dengan ISIS.

Tak merasa diterima

Jawaban di balik tindakan ketiga siswi ini dikemukakan oleh Alyas Karmani, pejabat di kota Bradford yang banyak mengurusi isu-isu radikalisasi.

Dalam beberapa tahun terakhir ia banyak terlibat dalam berbagai program untuk membantu anak-anak muda di Inggris.

Ia mengatakan terlepas dari ISIS yang punya saluran media sosial yang canggih, ada faktor-fakto lain yang tak kalah menentukan, yang menyebabkan anak-anak muda di Eropa pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

"Yang pertama adalah Islamofobia. Mereka beranggapan komunitas Muslim tidak mendapatkan perlakukan yang layak, Muslim mengalami diskriminasi, media sangat negatif terhadap orang-orang Islam," kata Karmani.

Situasi ini membuat berkembang anggapan bahwa memang Muslim tidak semestinya bermukim di Inggris.

"Yang terjadi kemudian adalah mereka mencari tempat yang memang bisa menerima Muslim seutuhnya," jelas Karmani.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh ISIS dengan mengatakan bahwa ISIS akan menerima komunitas Muslim dengan sebaik-baiknya.

Kebijakan luar negeri

Faktor kedua, menurut Karmani, adalah dampak dari kebijakan luar negeri Barat terhadap negara-negara di Timur Tengah dan di Afghanistan, yang menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dunia.

"Anak-anak muda Muslim marah dengan fakta ini dan ada semacam perasaan harus ada pertanggungjawaban dari negara-negara Barat. Lagi-lagi situasi emosi ini dimanfaatkan oleh ISIS," kata Karmani.

Alyas Karmani
Keterangan gambar, Alyas Karmani berbicara tentang radikalisasi, internet, dan sosial media dalam satu acara di Birmingham.

Faktor ketiga adalah pemahaman agama yang dangkal yang membuat ISIS bisa memasukkan pandangan dan ideologi yang sebenarnya tidak mencerminkan wajah Islam yang sebenarnya.

Pemerintah Inggris telah mengeluarkan dana tak kurang dari Rp830 miliar <link type="page"><caption> untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisasi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150513_dunia_cameron_radikal.shtml" platform="highweb"/></link>.

<link type="page"><caption> Kajian, satuan tugas, dan berbagai program juga sudah dibuat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/05/150506_majalah_radikalisasi_sekolah.shtml" platform="highweb"/></link> dalam 10 tahun terakhir.

Ini semua disambut baik, tapi pengamat Islam di Universitas Oxford Tariq Ramadan mengatakan bahwa pemerintah tak bisa menekankan pada pendekatan keamanan semata, pemerintah diminta untuk mengkaji ulang kebijakan luar negeri, terutama di Irak, Suriah, dan Afghanistan.

<italic>Dengar Liputan Khas tentang radikalisasi di kalangan anak-anak muda Eropa dalam siaran BBC Indonesia pukul 05.00 WIB <link type="page"><caption> pada 19 November</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/11/151125_audio_seri_islam1.shtml" platform="highweb"/></link>, <link type="page"><caption> 26 November</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/11/151126_audio_denmark_deradikalisasi" platform="highweb"/></link>, dan <link type="page"><caption> 3 Desember 2015</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/12/151204_audio_islam_barat_khawatir.shtml" platform="highweb"/></link>.</italic>