Apa pengaruh serangan di Paris terhadap Uni Eropa?

Sumber gambar, Getty
Segera setelah insiden serangan di Paris terjadi pada Jumat (13/11) lalu, Presiden Francois Hollande menggambarkannya sebagai ‘aksi perang melawan Prancis’.
Ucapan Hollande bukanlah retorika politik biasa. Apalagi dia juga mengatakan bahwa rangkaian serangan di Paris ‘direncanakan di luar Prancis’.
Insiden itu tentu memiliki pengaruh terhadap sejumlah ranah dan kebijakan di Prancis dan Uni Eropa.
Pertanyaannya sekarang, di ranah mana saja serangan di Paris berimbas?
Para pendatang
Ranah pertama ialah kebijakan menampung migran dan pencari suaka.
Pemerintah Yunani mengatakan setidaknya salah satu pelaku penyerangan merupakan <link type="page"><caption> pemegang paspor Suriah yang masuk ke Pulau Leros</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151115_dunia_tersangka_paris" platform="highweb"/></link>, Yunani, pada Oktober lalu. Dia masuk bersama 69 pencari suaka asal Suriah, mendaftar di Yunani, dan sidik jarinya dibukukan.
Kementerian Dalam Negeri Serbia lalu membenarkan bahwa pemegang paspor Suriah itu memasuki Serbia pada 7 Oktober lalu dan mencari suaka.
Terlalu dini untuk mengetahui apakah sang pemegang paspor benar-benar merupakan pelaku penyerangan. Namun, yang jelas, hal itu kini telah menimbulkan kewaspadaan dari sejumlah negara penampung pencari suaka.
Menurut rencana, Polandia akan menampung 4.500 pencari suaka. Namun, rencana itu boleh jadi dipertimbangkan lagi.

Sumber gambar, Getty Images
Menteri Urusan Eropa di kabinet pemerintahan Polandia, Konrad Szymanski, mengatakan ‘akan menerima pencari suaka hanya jika kami menerima jaminan keamanan’.
Kewaspadaan Polandia ternyata beralasan. Kepala badan intelijen domestik Jerman (BfV), Hans-Georg Maassen, mengklaim bahwa kaum Islam radikal telah mendekati pencari suaka di tempat penampungan pencari suaka.
”Kami telah mengetahui lebih dari 100 kasus,” ujar Maasen.
Masalahnya, negara-negara di Eropa tidak bisa begitu saja menutup perbatasan, khususnya Jerman selaku negara tujuan.
Jika Kanselir Angela Merkel menutup perbatasan, imbasnya akan dialami rentetan negara di Eropa barat hingga kawasan Balkan. Tensi pun bakal meninggi di antara negara-negara tersebut.
Krisis pengungsi akan menjadi lebih kompleks dan makin sensitif.

Sumber gambar, Thinkstock
Visa schengen
Serangan Paris juga bakal berimbas ke ranah kesepakatan Schengen.
Melalui kesepakatan ini, seorang warga non-Uni Eropa bebas berkunjung ke negara manapun di kawasan UE dengan bermodalkan visa Schengen di paspornya.
Kesepakatan itu juga membuat negara-negara anggota Uni Eropa membuka perbatasan antarnegara tanpa pemeriksaan imigrasi.
Namun, setelah sejumlah tersangka pelaku ditangkap di Brussels, Belgia, sejumlah negara mulai membekukan kesepakatan tersebut.
Situs <italic>schengenvisainfo.com</italic> mengutip Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve memberitakan, <link type="page"><caption> Prancis membekukan partisipasinya dalam kesepakatan Schengen</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151115_dunia_kbri_tak_larang_opini" platform="highweb"/></link> selama sebulan, mulai 13 November.
“Masa depan Schengen dipertaruhkan dan waktunya semakin sempit…Kita harus mengambil alih kendali perbatasan-perbatasan eksternal,” kata Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk.









