Ribuan warga Afghanistan protes pembunuhan terhadap etnis Hazara

Warga Afghanistan meratapi tewasnya 7 warga Hazara.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Warga Afghanistan meratapi tewasnya 7 warga Hazara.

Sekitar 2.000 orang berdemonstrasi di Ghazni, kota di bagian timur Afghanistan, menentang pembunuhan tujuh warga sipil, yang diduga dilakukan Taliban.

Para demonstran meneriakkan jargon menentang Taliban dan ISIS, ketika peti mati korban melintas di Ghazni. Mereka juga meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada rakyat.

Korban yang seluruhnya berasal dari etnis Hazara, terdiri dari empat laki-laki, seorang perempuan dan dua bocah perempuan. Beberapa korban, tewas dengan leher digorok.

Para demonstran meneriakkan jargon menentang Taliban dan ISIS.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Para demonstran meneriakkan jargon menentang Taliban dan ISIS.

Ghazni, memiliki banyak populasi Hazara, etnis minoritas yang merupakan penganut Syi’ah. Namun, tidak seperti di negara tetangganya, Pakistan, warga Hazara di Afghanistan, kerap diserang militan yang mayoritas menganut Islam Sunni.

Taliban dari ‘Uzbekistan’

Jasad ketujuh korban ditemukan akhir pekan lalu di selatan Provinsi Zabul, yang selama beberapa hari terakhir, dilanda pertempuran sengit antara faksi-faksi Taliban.

Salah satu faksi bahkan pernah mengklaim telah melakukan serangan bom bunuh diri terhadap faksi Taliban lainnya -sesuatu yang ‘jarang’ terjadi.

Warga Hazara yang menganut Syi'ah kerap menjadi 'sasaran' militan.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Warga Hazara yang menganut Syi'ah kerap menjadi 'sasaran' militan.

Beberapa laporan menyatakan, pelaku ‘kemungkinan’ adalah militan asal Uzbekistan, yang bergabung dengan salah satu faksi Taliban. Wakil pemimpin faksi Taliban tersebut, menolak wawancara telepon dengan BBC untuk mengonfirmasi tudingan itu.

Namun, dua hari setelah pembunuhan tujuh orang tersebut, delapan tawanan warga Hazara, dibebaskan. Salah satunya mengaku kepada BBC bahwa mereka disandera militan yang berbicara bahasa Uzbekistan.

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, ‘mengutuk’ peristiwa itu sebagai “pembunuhan keji terhadap masyarakat tak berdosa”, yang tidak ‘dibenarkan’ agama apapun.