Guatemala belum temukan lagi korban selamat bencana longsor

Sumber gambar, AP
Harapan pemerintah Guatemala makin tipis untuk kembali menemukan korban selamat dari bencana tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 131 orang meninggal dunia dan menyebabkan 300 orang hilang, pada Kamis (1/10) lalu.
Selama tiga hari sejumlah regu pencari dan penyelamat telah menggali tanah yang mengubur rumah-rumah di Desa Cambray, dekat ibu kota Guatemala. Namun, beberapa rumah yang mereka temukan dipenuhi air.
Buldozer digunakan untuk mempercepat pekerjaan, tapi tidak ada korban selamat yang ditemukan selama akhir pekan kemarin.
Seorang anggota tim penyelamat melaporkan bau mayat yang membusuk menyebar di sekitar tanah yang telah mengubur desa. Penguburan jasad yang dibawa dari area bencana telah dimulai pada akhir pekan kemarin.

Sumber gambar, Reuters
Berisiko tinggi
Alejandro Maldonado, kepala badan penanggulangan bencana Guatemala, berkata pada BBC bahwa warga telah diberi tahu wilayah tempat tinggal mereka berisiko tinggi. Karena itu, mereka seharusnya diungsikan oleh pihak berwenang.
“(Di sana) terdapat lereng yang sangat curam, dengan kemiringan lebih dari 35% yang sangat berbahaya bagi warga dan harusnya dihindari,” kata Maldonado.
“Faktor lainnya adalah aliran air sungai mengikis pondasi bukit, yang sangat berpasir. Kami juga menemukan sejumlah saluran pembuangan limbah illegal yang semakin melemahkan lereng sehingga menyebabkan longsor.”

Sumber gambar, Reuters
Regu pencari dan penyelamat mengaku mengikuti protokol internasional yang merekomendasikan 72 jam pencarian and penyelamatan. Batas waktu itu berakhir Minggu (04/10) malam, tapi juru bicara badan penanggulangan bencana mengatakan timnya bersiap untuk melanjutkan pencarian korban.
Sampai saat ini sebanyak 30 orang telah diselamatkan.
Paus Fransiskus serta presiden Meksiko dan Spanyol telah menyatakan berbelasungkawa pada keluarga korban yang hilang.










