PM Abe peringati 70 tahun Perang Dunia II

Sumber gambar, Reuters
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Kaisar Akihito menghadiri peringatan 70 tahun berakhirnya Perang Dunia II di tengah mengalirnya kritik dari pemerintah Cina dan Korea Selatan.
Dalam upacara peringatan di Tokyo, Abe mengatakan warga Jepang yang tewas ‘mengorbankan hidup mereka bagi masa depan dan kesejahteraan tanah air’.
“Pengorbanan mereka adalah landasan kesejahteraan hari ini dan kita tak akan lupa kontribusi mereka. Kita akan selalu bercermin pada masa lalu dan membenci kehororan perang,” ujar Abe.
Pada kesempatan yang sama, Kaisar Akihito mengutarakan <link type="page"><caption> ‘penyesalan mendalam’ atas agresi Jepang dalam Perang Dunia II</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150814_dunia_pidato_abe" platform="highweb"/></link>.
Sehari sebelumnya, Abe juga menyatakan penyesalan terhadap "penderitaan dan pengorbanan banyak orang" yang diakibatkan oleh tindakan Jepang selama Perang Dunia Kedua.
Abe juga menyatakan "penyesalan yang tulus" terhadap kaum perempuan yang kehormatannya direnggut selama perang.

Sumber gambar, AP
Ia menyatakan bahwa Jepang harus memastikan bahwa konflik seperti itu tak akan terjadi lagi.
Kritik
Pernyataan Abe mengundang kritik dari Korea Selatan dan Cina mengingat dia tidak mengucapkan permintaan maaf. Abe mengatakan generasi masa depan Jepang semestinya tidak ditakdirkan untuk meminta maaf atas aksi pada Perang Dunia II.
Sikap Abe berbeda dengan Perdana Menteri Tomiichi Murayama di tahun 1995 yang menyatakan "permintaan maaf yang tulus" dan "penyesalan mendalam" untuk "pemerintahan kolonial dan agresi" Jepang selama Perang Dunia Kedua.

Sumber gambar, AP
Pernyataan Murayama ini diulangi lagi 10 tahun kemudian oleh PM Junichiro Koizumi.
Presiden Korea Selatan Park Geun-hye yang menyebut perkataan Abe ‘meninggalkan banyak hal yang dinantikan’. Park juga menyeru kepada Jepang untuk menyelesaikan sesegera mungkin perihal ‘’juugun ianfu’ alias para perempuan dari berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia, yang dijadikan budak seks untuk prajurit Jepang.
“Sejarah tidak bisa ditutupi. Sejarah akan hidup melalui kesaksian nyata para saksi-saksinya,” ujar Park.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina menyatakan Jepang harus menyampaikan permintaan maaf secara tulus kepada para khalayak di negara-negara korban ketimbang menghindari isu besar ini.










