Militan Kurdi bunuh polisi di Turki

Sumber gambar, AFP
Gerakan militan Kurdi, PKK, menyatakan bertanggungjawab terhadap pembunuhan dua orang polisi disebuah kota perbatasan dengan Suriah.
Pembunuhan itu dinyatakan sebagai upaya pembalasan terhadap <link type="page"><caption> serangan bom bunuh diri pada hari Senin (20 Juli) di kota Suruc</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/07/150720_dunia_turki_kecaman.shtml" platform="highweb"/></link> yang menewaskan 32 orang aktivis muda Kurdi.
Sumber keamanan menjelaskan kepada kantor berita Reuters, kedua polisi itu ditemukan tewas dengan luka tembakan pada kepala di tempat tinggal mereka di Ceylanipar, sekitar 160 kilometer sebelah timur Suruc.
PKK menuduh bahwa pihak berwenang diam-diam bekerjasama dengan para pejihad dari kelompok yang menyebut diri negara Islam atau ISIS, berada di belakang serangan bom bunuh diri itu.
Demonstrasi anti-pemerintah terjadi sesudah serangan bom bunuh diri itu, menuduh pemerintah Turki bekerjasama dengan ISIS.
Pihak berwenang Turki menyatakan bahwa uji DNA terhadap pelaku serangan bom bunuh diri sudah dilakukan.
Diketahui<link type="page"><caption> pelaku adalah seorang pemuda berusia 20 tahun, dipercaya berasal dari etnis Kurdi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/07/150722_dunia_turki.shtml" platform="highweb"/></link> dan terhubung dengan ISIS.
Koresponden BBC di Suruc mengatakan serangan PKK ini berkemungkinan memperkeruh suasana yang sudah tegang antara pemerintah Turki dengan komunitas Kurdi.
Sementara itu Wakil Perdana Menteri dan juru bicara pemerintah Bulent Arinc berkata kepada wartawan bahwa keamanan perbatasan Turki dengan Suriah akan diperketat.
"Yang terpenting dalam menghadapi ISIS adalah memblokir tempat transit teroris dan menempatkan penghalang fisik di daerah itu. Sistem pengamanan dalam bentuk fisik akan dipasang di perbatasan," katanya.












