Krisis Yunani: Pasar saham global menurun

Sumber gambar, Getty Images
Bursa saham Eropa dan Asia mengalami penurunan besar, setelah Yunani menutup bank-bank mereka dan memberlakukan pengendalian modal.
Pihak berwenang Yunani mengambil tindakan setelah bank sentral Eropa (European Central Bank) memutuskan untuk tidak memperpanjang dana darurat.
Indeks FTSE 100 di London turun 2% di awal perdagangan. Sebelumnya di Asia, indeks Nikkei Jepang turun hampir 3%.
Di pasar mata uang, euro jatuh menjadi US$ 1,0953 pada satu titik di perdagangan Asia dari $ 1,1165 pada Jumat, namun kemudian pulih beberapa poin.
Di tempat lain di Eropa, indeks saham Dax Jerman dan Cac 40 Prancis keduanya turun lebih dari 3%. Bursa efek Athena dan bank-bank Yunani ditutup sepanjang minggu ini.
'Di luar kendali'
Yunani diharapkan melakukan pembayaran 1,6 miliar euro kepada IMF pada Selasa, di hari yang sama talangannya (bailout) saat ini berakhir.
Pekan lalu, pembicaraan antara Yunani dan negara-negara eurozone mengenai bailout berakhir tanpa kesepakatan, dan Perdana Menteri Alexis Tsipras kemudian menyerukan perlunya referendum mengenai masalah itu yang akan diadakan pada tanggal 5 Juli.
Pada akhir pekan, pemerintah Yunani menegaskan bahwa bank akan ditutup sepanjang minggu, dan memberlakukan pengendalian modal, membatasi penarikan bank sebesar 60 euro per hari.
"Keputusan Yunani untuk menutup bank-bank adalah unsur paling dramatis dari krisis yang telah menjadi luar kendali," kata Chris Beauchamp, analis senior di IG.

Sumber gambar, Reuters
Dia mencatat bahwa imbal hasil obligasi Spanyol naik selama akhir pekan, diiringi jatuhnya harga.
Penutupan bank sementara di Yunani mengakibatkan uang investor masuk pasar Eropa lainnya, yang kata ahli akan terus terjadi dalam jangka waktu sementara, karena investor mengkhawatirkan kemungkinan negara itu akan bangkrut besar.
"Kami mungkin akan melihat meningkatnya investasi berkualitas," kata Laura Lambie, direktur investasi senior di Investec Wealth and Investment, kepada program Wake Up to Money BBC.
"Pertanyaan besarnya adalah apakah kita melihat ‘penularan’ dari Yunani ke Portugal lalu Italia, yang merupakan beberapa negara dengan ekonomi lemah di Eropa."
Meskipun ada kekhawatiran tentang krisis mendalam di Yunani, pengamat pasar mengatakan bahwa pasar Eropa siap untuk menangani volatilitas jangka pendek.
"Dengan batasan tertentu, kita memang memprediksi reaksi pasar terhadap ini dengan imbal hasil obligasi perifer yang mungkin lebih tinggi, euro yang sedikit lebih rendah sepanjang minggu dan peningkatan pada ‘surga aman’ seperti franc Swiss dan poundsterling Inggris," kata David Stubbs dari JP Morgan Asset Management kepada acara BBC Today.
Dia menambahkan bahwa karena situasi ekonomi di zona euro telah membaik sejak 2011, perekonomian mereka harus bisa menghadapi badai ini.












