Obama: AS tidak akan campuri urusan Amerika Latin

Presiden AS Barack Obama dan Pemimpin Kuba Raul Castro bertemu di sela-sela KTT OAS di Panama City.

Sumber gambar,

Keterangan gambar, Presiden AS Barack Obama dan Pemimpin Kuba Raul Castro bertemu di sela-sela KTT OAS di Panama City.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan negaranya tak akan lagi turut mencampuri urusan kawasan Amerika Latin sebagaimana dilakukan pada masa lalu.

“Asumsi bahwa Amerika Serikat dapat ikut campur di belahan dunia ini tanpa hukuman, hari-hari itu kini telah berlalu,” ujar Obama di hadapan forum pemuka masyarakat sipil di Panama City.

Ucapan Obama dilontarkan sesaat sebelum Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Negara Amerika (OAS) digelar di Panama City, seperti dilaporkan koresponden BBC, Vanessa Buschschluter.

Arah pernyataan itu amat mungkin secara khusus tertuju pada pemimpin Kuba, Raul Castro, yang akan datang menghadiri KTT tersebut untuk pertama kalinya. Kedua figur dijadwalkan bertemu secara formal sejak hubungan AS dan Kuba menjalani ‘normalisasi’ pada Desember 2014 lalu.

Obama mengatakan <link type="page"><caption> pemulihan hubungan kedua negara</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/04/150410_obama_kuba_terror_list" platform="highweb"/></link> akan memperbaiki taraf kehidupan rakyat Kuba.

“Bukan karena kami, Amerika Serikat, yang menerapkan, tapi melalui talenta, keaslian, aspirasi, dan percakapan semua kalangan rakyat Kuba. Sehingga mereka bisa menentukan jalan terbaik menuju kesejahteraan,” ujar Obama.

Ketegangan antara AS dan Venezuela meninggi bulan lalu.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Ketegangan antara AS dan Venezuela meninggi bulan lalu.

Venezuela

Meski demikian, Obama belum menyebut secara spesifik mengenai hubungan AS dan Venezuela. <link type="page"><caption> Ketegangan antara kedua negara meninggi</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/03/150302_venezuela_as" platform="highweb"/></link> bulan lalu manakala AS menerapkan saksi terhadap sejumlah pejabat Venezuela yang dituduh melanggar hak asasi manusia.

Sebagai bagian dari rangkaian sanksi, Obama menyatakan Venezuela merupakan ancaman bagi keamanan nasional AS. Presiden Venezuela Nicolas Maduro kemudian mengumpulkan 10 juta tanda tangan dalam petisi menolak sanksi tersebut.

Menjelang pelaksanaan KTT di Panama City, Maduro mengirim pesan beragam.

Hanya beberapa jam setelah mendarat di Panama City, Maduro mengunjungi monumen korban invasi AS ke Panama pada 1989. Namun, saat itu dia tidak mengecam AS secara langsung, tapi mengatakan, “bukan saatnya untuk imperialime, melainkan untuk perdamaian.”

Dia juga menyatakan, “Kami berada dalam pertempuran ide, pertempuran agar Venezuela dihormati. Kami datang ke sini dengan semangat membangiun, untuk menciptakan sejarah melalui penghormatan.”