Kuba desak AS kembalikan Guantanamo

Perundingan normalisasi hubungan Kuba dan AS masih bergulir.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Perundingan normalisasi hubungan Kuba dan AS masih bergulir.

Presiden Kuba Raul Castro mendesak Amerika Serikat mengembalikan pangkalan militer Teluk Guantanamo sebelum hubungan antara Havana dan Washington DC dinormalkan.

Dalam pidatonya, Castro juga meminta AS <link type="page"><caption> mencabut embargo perdagangan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/01/150116_kuba_as_dagang" platform="highweb"/></link> dan mencopot Kuba dari daftar pelaku teror.

“Penetapan kembali hubungan diplomatik ialah awal proses normalisasi hubungan bilateral. Namun, ini tidak akan mungkin selagi blokade masih ada, selagi mereka tidak memberikan kembali wilayah yang diduduki pangkalan angkatan laut di Guantanamo,” kata Castro pada pertemuan Komunitas Negara-negara Amerika Latin dan Karibia di Kosta Rika.

AS menempati wilayah Guantanamo berdasarkan perjanjian sewa yang ditandatangani kedua pemerintah pada 1903 lampau. Meski Fidel Castro menguasai Kuba setelah menggulingkan pemerintahan diktator Fulgencio Batista pada 1950-an, perjanjian itu tidak diganggu gugat.

Oleh AS, Guantanamo dipakai sebagai pangkalan angkatan laut dan beberapa dekade terakhir sebagai penjara berkeamanan super ketat.

Presiden Kuba Raul Castro mendesak juga AS mencabut embargo perdagangan terhadap Kuba.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Presiden Kuba Raul Castro mendesak juga AS mencabut embargo perdagangan terhadap Kuba.

Normalisasi

Kedua pemerintah sepakat menormalisasi hubungan diplomatik yang regang sejak 1961 lalu, saat Castro memerintah Kuba.

Dalam rangka itu, delegasi Kongres AS tiba di Havana pekan lalu untuk memulai perundingan yang bertujuan membuka kembali kedutaan besar kedua negara di ibu kota masing-masing.

Upaya normalisasi itu mendapat <link type="page"><caption> restu Fidel Castro</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/01/150127_castro_amerika_kuba" platform="highweb"/></link>, abang kandung Raul Castro.

Lewat sebuah surat yang ditampilkan surat kabar Kuba, dia menulis," Saya tidak mempercayai kebijakan Amerika, atau berkomunikasi dengan mereka, tetapi ini bukan berarti saya menolak jalan keluar damai terhadap berbagai konflik."