Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina timur

Sumber gambar, AP
Upaya-upaya dipliomatik terus berlangsung untuk mengakhiri perang yang marak kembali di Ukraina timur.
Presiden Prancis, Francois Hollande, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, sudah tiba di ibukota Ukraina, Kiev, untuk menyampaikan sebuah prakarsa damai yang baru.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry -yang juga berada di Kiev- mengatakan AS menginginkan sebuah solusi diplomatik namun tidak akan menutup mata atas agresi Rusia.
Pertarungan antara pasukan Ukraina dan kelompok pemberontak pro-Rusia di Ukraina timur sejak April lalu sejauh ini sudah menewaskan 5.000 jiwa.
Ukraina dan dunia Barat menuduh Rusia mempersenjatai kelompok pemberontak dan mengerahkan pasukan di sepanjang perbatasan Ukraina-Rusia.

Sumber gambar, EPA
Rusia selalu membantah keterlibatan namun mengatakan beberapa sukarelawan Rusia ikut bertarung membantu kelompok pemberontak.
Dalam konferensi pers bersama dengan John Kerry, Perdana Menteri Ukraina, Arseniy Yatsenyuk, mengatakan ada kebutuhan untuk mencapai perdamaian.
"Kita harus mendapat perdamaian. Namun kami tidak pernah mempertimbangkan apa pun yang mengganggu integritas teritorial kami...Ukraina."
Sementara Kerry menuduh Rusia melanggar kedaulatan Ukraina dengan mengatakan Rusia bertindak lewat 'kekebalan', melintasi perbatasan Ukraina 'secara sengaja dengan senjata dan personel.'
"Kami memilih jalan ke luar yang damai melalui diplomasi, tapi Anda tidak bisa memiliki perdamaian satu sisi saja," tegasnya.
Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Lukashevich, sudah mengatakan setiap keputusan oleh AS untuk memasok senjata ke Ukraina akan menimbulkan 'kerusakan besar dalam hubungan Rusia-Amerika Serikat'.











