AS kaji bantuan senjata untuk Ukraina

Sumber gambar, Reuters
Pemerintah AS mempertimbangkan pengiriman senjata untuk membantu Ukraina dalam memerangi pemberontak pro-Rusia di Ukraina timur, lapor media AS.
Para pejabat diarahkan untuk menjajaki kemungkinan pengiriman senjata dan peralatan mematikan lainnya.
Juru bicara lembaga keamanan nasional NS, Bernadette Meehan mengatakan AS "terus mengkaji" kebijakannya di Ukraina, meskipun belum ada keputusan yang dibuat.

Sumber gambar, Reuters
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya pertempuran di bagian timur negara tersebut.
Wartawan BBC Jon Sopel dari Washington mengatakan, Presiden Barack Obama awalnya menentang keras gagasan mempersenjatai militer Ukraina, karena khawatir terjadi perang tak langsung antara AS dan Rusia.
Selama ini AS hanya menyediakan peralatan militer yang tidak mematikan ke Ukraina seperti masker gas dan teknologi radar.
Tapi harian New York Times melaporkan pada hari Senin, bahwa pengiriman senjata pertahanan dibicarakan lagi setelah bantuan terhadap Ukraina dan sanksi ekonomi, gagal untuk menghentikan Rusia dalam membantu para pemberontak.

Sejumlah alat persenjataan yang akan dikirimkan diantaranya peralatan anti-tank, anti-udara dan sistem anti-mortir, lapor CNN.
Seorang pejabat tinggi AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa gagasan untuk memberikan bantuan peralatan pertahanan mematikan merupakan "kembali dikaji".
"Bagaimana hasil akhirnya, kami tidak tahu" tambahnya.
Meehan mengatakan: "Meskipun kami tetap fokus menyelesaikan semua masalah dengan cara diplomatik, kami selalu mengkaji pilihan lain yang akan membantu menciptakan ruang untuk perundingan menyelesaikan krisis."
Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa kekerasan yang semakin meruncing akhir-akhir ini membuat AS mengkaji ulang kebijakannya.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry akan melakukan lawatan ke Kiev untuk mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Ukraina akhir pekan ini. Rusia membantah tuduhan Barat bahwa negaranya memasok senjata dan personil untuk para pemberontak.











