Pria kulit hitam 'tewas ditembak' oleh polisi LA

Seorang pria kulit hitam berusia sekitar 25 tahun tewas karena ditembak sebanyak tiga kali termasuk di bagian punggung oleh polisi di Los Angeles, LA, berdasarkan laporan hasil uji pasca kematian.
Ezell Ford tewas pada Agustus setelah berupaya merebut senjata polisi, seperti disampaikan petugas.
Dia ditembak di bagian kanan, lengan kanan dan punggung, dan terdapat jejak moncong senjata dibagian luka, menurut laporan tersebut.
Temuan itu muncul setelah serangkaian penembakan pria kulit hitam oleh polisi yang menyebabkan meluasnya protes di sejumlah wilayah AS.
<link type="page"><caption> Eric Garner</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/12/141214_dunia_pawai_washington" platform="highweb"/></link> di New York dan <link type="page"><caption> Michael Brown </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/12/141224_amerika_serikat_penembakan" platform="highweb"/></link>di Ferguson, Missouri, tewas oleh seorang polisi yang tengah bertugas yang kemudian dibebaskan dan tidak dikenakan dakwaan atas kasus tersebut.
Pembebasan polisi itu memicu protes terhadap ketidakadilan tersebut.
Sejumlah demonstrasi dilakukan di Los Angeles meminta penyelesaian kasus Ezell Ford.
Kepala polisi LA Charlie Beck mengatakan laporan itu mendukung penyelidikan polisi tetapi dia meminta lebih banyak keterangan saksi.
"Kami akan menemukan kebenaran mengenai apa yang telah terjadi pada malam di bulan Agustus itu, tetapi kami membutuhkan bantuan publik," kata Beck dalam konferensi pers.
Menurut keterangan Beck, petugas polisi melaporkan bahwa Ford menarik perhatian mereka karena melakukan tindakan yang mencurigakan sebelum memukul seorang petugas polisi hingga jatuh.
Ford berada diatas seorang petugas dan bergulat dengan seorang polisi untuk merebut senjata ketika polisi lain menembak selama dua kali, dan polisi yang tengah bergulat menarik senjata dan menembak Ford di bagian punggung.
Orangtua Ford telah mengajukan sebuah gugatan hak sipil federal, mereka menyebut polisi mengetahui anak mereka memiliki gangguan jiwa.
Laporan koroner tidak memberikan keterangan publik selama beberapa bulan karena polisi mengatakn mereka tidak ingin hasil itu mempengaruhi para saksi sebelum mereka memberikam keterangan.









