Taksi Uber dilarang di India

uber_taksi_india

Sumber gambar, epa

Keterangan gambar, Tersangka, dengan penutup muka hitam, hampir diserang sejumlah orang di halaman pengadilan.

Layanan taksi Uber dinyatakan dilarang di India, sebagai buntut atas perkosaan terhadap seorang perempuan oleh seorang sopirnya.

Pihak berwenang di New Delhi, ibu kota India, menyebut layanan pesanan taksi internasional lewat aplikasi telepon pintar itu telah "didaftar-hitamkan" karena "menyesatkan para pelanggan."

Korban, seorang <link type="page"><caption> perempuan berusia 26 tahun memesan taksi Uber</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/12/141207_india_pemerkosaan" platform="highweb"/></link> untuk membawanya pulang pada hari Jumat (5/12) namun katanya ia dibawa ke sebuah tempat terpencil dan diperkosa.

Pengemudinya ditahan sejak hari Minggu, dan dihadirkan di pengadilan hari Senin (08/12).

Sebagian orang yang berkumpul di pekarangan pengadilan berusaha menyerangnya ketika ia dibawa keluar, namun polisi segera melarikannya ke sebuah mobil dan membawanya pergi.

Polisi mengatakan menyidik sopir itu untuk perkara perkosaan terhadap perempuan pekerja sebuah perusahaan keuangan yang hendak pulang dari sebuah restoran.

Uber, yang belakangan makin populer di India, dituding tidak menjalankan pemeriksaan yang memadai terhadap para pengemudinya

"Departemen Angkutan melarang segala bentuk kegiatan terkait jasa layanan angkutan oleh www.Uber.com, berlakuk sejak sekarang," kantor berita AFP mengutip seorang pejabat pemerintah.

uber_taksi_india

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Ratusan orang berunjuk rasa memprotes perkosaan penumpang oleh seorang pengemudi taksi Uber.

Larangan itu berarti, penggunaan taksi Uber di Delhi sekarang akan didenda, atau bahkan taksinya disita, kata seorang pejabat.

Namun perusahaan itu masih tetap menerima pesanan melalui aplikasi dan tidak jelas bagaimana lrangan itu diberlakukan karena taksi Uber tidak membawa merek yang kelihatan.

Sebelum larangan itu diputuskan, Uber menyebut kejadian itu "mengerikan" dan mengatakan akan melakukan segalanya untuk "membawa pelakunya ke pengadilan," kata CEO Uber Travis Kalanick dalam sebuah pernyataan.