Pengunjuk rasa datangi rumah CY Leung

cyleung

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Para pengunjuk rasa mendatangi kediaman CY Leung, Ketua Eksekutif Hong Kong, sambil membawa foto-foto ketua itu.

Para pengunjuk rasa prodemokrasi di Hong Kong berbaris mendatangi kediaman ketua eksekutif wilayah itu untuk mengritik sikapnya atas reformasi demokratis.

Mereka juga merasa marah karena komentar CY Leung baru-baru ini yang berpendapat bahwa penduduk yang lebih miskin tidak boleh diberi terlalu banyak pengaruh politis.

Kelompok prodemokrasi menduduki jalan-jalan di Hong Kong selama tiga minggu dan melumpuhkan sejumlah jalan utama.

Baik pegiat maupun pejabat pemerintah untuk pertama kalinya mengadakan perundingan pada hari Selasa (21/10).

Namun putaran pertama perundingan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya akhir dari kebuntuan ini.

Permainan angka

Para wartawan mengatakan sekitar 200 pengunjuk rasa berbaris mendatangi kediaman resmi Leung, Government House, pada hari Rabu (22/10).

Banyak dari mereka merasa kesal dengan komentar Leung pada sebuah wawancara hari Senin (20/10).

Dalam wawancara itu Leung mengatakan pemilihan umum demokratis secara penuh akan mengarah kepada kebijakan-kebijakan yang populis, karena para warga yang lebih miskin akan memiliki suara dominan dalam politik.

"Jika ini sepenuhnya merupakan permainan angka dan representasi jumlah, maka jelas kita akan berbicara kepada setengah penduduk Hong Kong yang berpendapatan kurang dari $1.800 (sekitar Rp2 juta) per bulan," kata Leung.

Pernyataan begitu terbuka ini tidak diterima baik para pengunjuk rasa yang memandangnya sebagai bukti bahwa sistem politik memang dipermainkan demi orang-orang kaya.

Hal ini sesuai dengan keadaan di kota dengan semakin melebarnya jurang antara kelompok miskin dan kaya -yang merupakan salah satu tertinggi di Asia.