Oposisi Suriah bersedia negosiasi damai

Aliansi oposisi yang paling kuat di Suriah mengatakan akan menghadiri pembicaraan damai jika sejumlah persyaratan yang mereka minta dipenuhi.
Pihak oposisi yang menamakan diri Koalisi Nasional Suriah itu meminta jaminan diberikannya akses bantuan kemanusiaan ke daerah yang terkepung, serta dibebaskannya para tahanan politik.
Kelompok ini juga menyatakan bahwa setiap konferensi harus menghasilkan transisi di bidang politik.
Presiden Suriah Bashar al-Assad sebelumnya menolak adanya prasyarat untuk melakukan konferensi di Jenewa.
PBB, AS dan Rusia berusaha mengadakan pertemuan kedua pihak ini pada akhir November.
Tapi perwakilan Liga Arab di PBB, Lakhdar Brahimi, mengatakan pekan lalu bahwa <link type="page"><caption> konferensi ini akan ditunda</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131105_syria.shtml" platform="highweb"/></link>, meskipun ia masih "berjuang" untuk menggelar pertemuan puncak pada akhir tahun ini.
Masa Depan Suriah
Koalisi Nasional Suriah mencapai kesepakatan untuk setuju berdiskusi setelah melakukan dua hari pembicaraan di Istanbul, Turki.
Sebuah pernyataan yang dirilis oleh oleh kantor kepala staf pemimpin koalisi, Monzer Azbik, mengulangi permintaan kelompok ini yang menuntut Presiden Assad mundur dalam pemerintahan transisi.
"Bashar al-Assad akan tidak memiliki peran dalam masa transisi dan masa depan Suriah,'' katanya.
Kelompok ini juga menggarisbawahi adanya persyaratan yang harus dipenuhi sebelum terjadi pembicaraan, diantaranya termasuk jaminan akses bagi badan-badan yang akan mengirimkan bantuan.
Sebelumnya, PBB mengatakan ada sekitar<link type="page"><caption> 9,3 juta orang di Suriah </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131105_pbb_suriah.shtml" platform="highweb"/></link>atau 40% dari populasi yang memerlukan bantuan kemanusiaan<link type="page"><caption> . </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131105_pbb_suriah.shtml" platform="highweb"/></link>
Namun banyak dari mereka yang berada di lokasi yang terkepung sehingga bantuan sulit dibagikan.
Menurut data PBB, lebih dari 100.000 orang tewas sejak pemberontakan terhadap Presiden Assad dimulai pada Maret 2011.









