Prancis panggil dubes AS terkait laporan penyadapan

Edward Snowden
Keterangan gambar, Edward Snowden saat ini berada di Rusia setelah mendapatkan suaka dari negara itu.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius memanggil duta besar Amerika Serikat menyusul laporan korban bahwa Washington menyadap jutaan telepon di Prancis.

Prancis menyebut aktivititas seperti itu antara negara sahabat "tidak dapat diterima".

Badan keamanan Amerika, NSA, juga dilaporkan menyadap jutaan pesan pendek.

Surat kabar Le Monde mengatakan data -yang didapat dari bocoran mantan analis intelijen Edward Snowden- menunjukkan NSA memonitor bisnis dan para pejabat serta para tersangka terorisme.

Penyadapan dilakukan dengan menggunakan beberapa kata kunci.

Dokumen itu menunjukkan 70,3 juta telepon disadap dalam waktu 30 hari dari tanggal 10 Desember 2012 sampai 8 Januari 2013.

Snowden diburu Amerika terkait dakwaan spionase. <link type="page"><caption> Ia saat ini berada di Rusia</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/10/131018_snowden_russia.shtml" platform="highweb"/></link> setelah mendapatkan suaka.

Informasi yang ia bocorkan menyebabkan klaim bahwa NSA dan juga CIA melakukan mata-mata dalam skala global.

Sasaran termasuk Cina dan Rusia serta, negara-negara sahabat seperti Uni Eropa dan Brasil.

NSA juga terpaksa mengakui menyadap email dan data telepon dari <link type="page"><caption> jutaan warga Amerika</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/10/131015_snowden_nsa.shtml" platform="highweb"/></link> sendiri.

Tolak berkomentar

Sementara itu Menteri Dalam Negeri Prancis, Manuel Valls, menggambarkan tuduhan -yang diterbitkan di surat kabar Le Monde- sebagai sesuatu yang mengejutkan.

"Bila ada negara yang melakukan mata-mata kepada Prancis atau ke negara Eropa lain, itu sangat tidak dapat diterima," kata Valls kepada Radio Europe 1.

Duta besar Amerika untuk Prancis Charles Rivkin menolak berkomentar tentang laporan bahwa ia telah dipanggil oleh kementerian luar negeri namun menekankan hubungan Washington dan Paris dekat.

"Hubungan ini mencakup militer, intelijen, dan pasukan khusus ... dengan level terbaik dalam generasi ini," kata Rivkin kepada kantor berita Reuters.

Bulan Juli lalu, kejaksaan Paris membuka penyelidikan terkait program NSA yang disebut Prism.

Langkah ini dilakukan setelah harian Jerman Der Spiegel dan Inggris The Guardian mengungkapkan skala spionase yang dilakukan oleh NSA, yang dibocorkan oleh Edward Snowden.