Venezuela usir tiga diplomat AS

maduro
Keterangan gambar, Hubungan Venezuela dan AS memburuk sejak pemerintahan Hugo Chavez hingga Nicolas Maduro.

Venezuela mengusir tiga diplomat AS yang mereka tuduh merencanakan sabotase ekonomi.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan para diplomat memiliki 48 jam untuk meninggalkan negara itu, dia mengatakan "Yankees, pulang!"

Maduro mengatakan ia memiliki bukti bahwa trio diplomat ini ikut berperan dalam sabotase listrik pada bulan September dan telah menyuap sebuah perusahaan Venezuela untuk mengurangi produksi.

Para diplomat yang diusir ini disebut bernama Kelly Keiderling -diplomat AS paling senior di Karakas- Elizabeth Hunderland dan David Mutt.

Hubungan antara kedua negara <link type="page"><caption> telah memburuk selama lebih dari satu dekade.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/09/130920_venezuela_diplomasi.shtml" platform="highweb"/></link> Amerika Serikat dan Venezuela sebelumnya tidak saling menempatkan duta besar di ibukota masing-masing sejak tahun 2010.

Buruknya hubungan dengan AS ini membuat Venezuela menghadapi <link type="page"><caption> kekurangan beberapa barang, termasuk tisu toilet</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/09/130921_majalahlain_venezuela_toilet.shtml" platform="highweb"/></link>, gula dan tepung.

toilet paper
Keterangan gambar, Kelangkaan tisu toilet sempat menjadi masalah serius di negara ini.

Pihak oposisi menyalahkan kebijakan dan retorika sayap kiri Maduro atas krisis yang mereka hadapi ini.

Imperialisme AS

Presiden Venezuela mengumumkan hal ini dalam satu upacara resmi di kota Santa Ana.

"Keluar dari Venezuela! Yankees pulang! Cukup pelecehan terhadap martabat bangsa yang cinta damai ini," katanya.

Hubungan antara kedua negara telah buruk selama lebih dari satu dekade.

Selama bertahun-tahun, almarhum Presiden Hugo Chavez mengecam "imperialisme Amerika" di Amerika Latin.

Pada Desember 2010 silam, Presiden Chavez menolak pemberian visa bagi Duta Besar AS untuk Karakas, Larry Palmer, karena pernyataannya yang terkait dengan keterlibatan pemerintah Venezuela dan pemberontak di Kolombia.